<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>hawarihadi</title>
	<atom:link href="http://hawarihadi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hawarihadi.wordpress.com</link>
	<description>...your mind, my sight</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 Dec 2009 09:55:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='hawarihadi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>hawarihadi</title>
		<link>http://hawarihadi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://hawarihadi.wordpress.com/osd.xml" title="hawarihadi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://hawarihadi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Cahaya untuk Hagistra  : Petualangan Vanda dan Loup</title>
		<link>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/12/03/cahaya-untuk-hagistra-petualangan-vanda-dan-loup/</link>
		<comments>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/12/03/cahaya-untuk-hagistra-petualangan-vanda-dan-loup/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 09:55:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hawarihadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[blah]]></category>
		<category><![CDATA[Hagistra]]></category>
		<category><![CDATA[Loup]]></category>
		<category><![CDATA[Vanda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hawarihadi.wordpress.com/2009/12/03/cahaya-untuk-hagistra-petualangan-vanda-dan-loup/</guid>
		<description><![CDATA[PROLOG&#8220;Loup, sudahkah kau tulis bagian awalnya? Tulislah, biar aku yang melanjutkan.&#8221; Pinta Vanda pada sahabat karibnya. &#8220;Ah, kau!&#8221; Loup berurasa menepis topik. &#8220;Kau tak tahu lagi hendak kemana, sedangkan diriku yakin akan hal itu.&#8221; &#8220;Aku hanya berusaha. Kulanjutkan berjalan melewati &#8230; <a href="http://hawarihadi.wordpress.com/2009/12/03/cahaya-untuk-hagistra-petualangan-vanda-dan-loup/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hawarihadi.wordpress.com&amp;blog=1403689&amp;post=149&amp;subd=hawarihadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><br style="font-family:Lucida Grande;" />    <br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">PROLOG</span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">&#8220;Loup, sudahkah kau tulis bagian awalnya? Tulislah, biar aku yang melanjutkan.&#8221; Pinta Vanda pada sahabat karibnya. &#8220;Ah, kau!&#8221; Loup berurasa menepis topik. &#8220;Kau tak tahu lagi hendak kemana, sedangkan diriku yakin akan hal itu.&#8221; &#8220;Aku hanya berusaha. Kulanjutkan berjalan melewati tepian sungai bening dimana ikan-ikan kecilpun terlihat dengan jelas.” Seru Vanda sambil bergumam tak jelas. &#8220;Tapi kau harus keluar dari lamunanmu. Semua itu membuat mu hidup hanya di alam khayalmu, Vanda! Sesekali kita harus turun dan melakukan semuanya sendiri.” Loup tak mau mengalah dengan kata-kata Vanda. Tapi Vanda tak peduli ia lalu meneruskan membaca temuannya. &#8220;Dengar ini, Loup! Tertulis disini, bahwa pintu akan terbuka dengan sendirinya pada mereka yang bernurani besar dan berhati bersih. Keinginan yang besar akan membawanya kedepan gerbang dunia yang tak pernah gelap.&#8221; </span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Tubuh kecil kurus Loup bersandar pada sebatang pohon mati. &#8220;Aku sepenuhnya percaya denganmu bahwa portal itu bisa saja ada, tetapi kita belum menemukan bukti kuat untuk mengemukakan ke orang-orang. Vanda, duniamu itu sungguh berbahaya. Yang kau pikirkan itu dapat membuat orang-orang sini kehilangan jati dirinya. Mereka sudah terbiasa dengan yang ada. Jangan dulu kau hancurkan mereka.&#8221; Kembali Vanda bersikeras, &#8220;Yang bisa kukatakan hanyalah mereka telah menjadi orang dewasa. Itu sebabnya mereka tidak percaya,tidak mau percaya tepatnya. karena itu tidak akan ada portal, tidak akan ada apapun untuk mereka&#8221;</span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Sepotong percakapan itu tetap tergiang di benak Loup. Vanda, sahabatnya sedari kecil yang dulu selalu bermain Tali hurquins bersama di halaman belakang rumahnya, sekarang telah berubah menjadi wanita yang keras kepala. Kunjungannya ke perpustakaan Pak Londra di pojok kota Hagitsra, telah mengubahnya beberapa bulan belakangan. Ia sangat tertarik akan sajak-sajak kono yang ia temukan dari teka teki di buku dongeng anak-anak. &#8220;Buku itu datang kepadanya&#8221; ingat Loup. Dan ia adalah orang pertama yang diberi tahu tentang arti dibalik sajak itu. Beberapa ramalan di sajak itu telah terbukti benar. Sekarang sajak kuno itu membahas tentang dunia lain, yang tak pernah gelap.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Hagistra adalah kota terpencil dimana malam lebih banyak dari siangnya. Kota ini membutuhkan sinar matahari lebih lama untuk membuat penduduknya bersemangat untuk bekerja, Kota ini membutuhkan sinar matahari untuk membuat penduduknya sehat, lepas dari wabah wedh yang sebentar lagi akan mengubur sejarah kota ini dengan kematian anak-anaknya. Sekarang, impian Vanda mendapat secercah cahaya penuntun. Sebuah portal magis yang membuka jalan menuju Morps, kota yang tak pernah gelap.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Tapi tak semua pihak menginginkan sinar matahari. Banyak yang mengambil keuntungan dengan gelapnya Hagistra. Dan mereka tak ingin itu sirna hanya dengan harapan seorang bocah remaja. Vanda yang periang&nbsp; memberi tahukan temuannya itu pada semua orang. tak ada yang menanggapinya dengan serius. Hampir tak ada kecuali Loup, sahabatnya dan orang-orang yang sengaja menjaga kegelapan di Hagitsra. Mereka tak akan tinggal diam. Isu itu terlalu tajam untuk mereka lewatkan. Vanda dan khayalannya harus lenyap dari Hagistra</span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><br style="font-family:Lucida Grande;" /><br style="font-family:Lucida Grande;" /><br style="font-family:Lucida Grande;" /><br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">&nbsp;</span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">BAGIAN 1</span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">PERPUSTAKAAN PAK LONDRA</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Pak Londra adalah seorang laki-laki berperawakan tambun yang mulai bungkuk. Rambutnya berwarna keabu-abuan mulai rata oleh uban yang hanya menutupi bagian samping dan belakang kepalanya. Sedangkan bagian atasnya hanya ada kulit kepala yang putin bersih bersinar, tak ubahnya para profesor ahli roket. Hidung Pak Londra yang besar menyangga kacamata bulat berlensa bifokal, tempat ia menyembuyikan mata rabunnya. Kecerdikannya tampak jelas di matanya yang berwarna ungu gelap. </span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Pak Londra sangat baik. Tiap awal gelap, yaitu setelah waktunya makan siang, ia selalu membuka perpustakaannya untuk umum. Banyak anak-anak yang datang untuk meminjam atau membaca buku dongeng dan halaman bergambar yang penuh warna. Kadang Pak Londra sendiri yang membacakan dongeng itu pada anak-anak sehingga mereka jatuh dalam alam dongeng yang tak ada habisnya.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Perpustakaan itu terletak di sebuah gedung tua gelap diantara pepohonan dan suasana tepi jalannya yang sangat sunyi. Lantainya berlapis karpet merah marun lapuk dan dindingnya dihiasi lukisan-lukisan para penulis ternama dari zaman ke zaman. Vanda tertarik pada tempat itu karena ia ingin mengetahui sedikit tentang dongeng. itu saja-awalnya. Sampai ia menemukan sebuah buku sajak bersampul kulit coklat tua di tepi kakinya saat hendak mengembalikan buku dongeng putri duyung berkaki tujuh ke rak-nya. Penuh rasa ingin tahu dibawanya buku itu ke meja baca. Dibukanya sampul coklat itu perlahan dan ternyata isinya sajak-sajak kuno. Tidak begitu mengerti tentang sajak, dibukanya kertas-kertas itu sambil lalu. Kemudian menutupnya dengan bosan.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Baru ia akan berdiri menuju meja Pak Londra untuk mengembalikan buku itu, seketika sebuah suara berat bertanya “Kau bisa melihat apa yang tertulis disana?”. Ternyata tadi adalah suara Pak Londra. Vanda menatap heran &#8211; tentu saja. Dengan mata penuh binar Pak Londra menatap Vanda lalu duduk di sampingnya. “Buku itu memilihmu. Buku itu datang padamu untuk dibaca.” Vanda mengerutkan kening kebingungan, dilihatnya lagi sampul buku itu, ternyata tidak ada judulnya. “Memangnya buku apa ini?” Tanyanya. Pak Londra kembali menatap Vanda dalam-dalam dan ada secercah pengharapan disana. “Jalan menuju kota yang tak pernah gelap”, ujar Pak Londra kemudian.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Terkadang Pak Londra tampil seperi petapa, tua, bungkuk dan berjangggut putih. Tapi kali ini nampaknya ia baru saja mengunjungi Ralph, tukang cukur langganannya sehingga ia tampak beberapa tahun lebih muda. Wangi kolonye tercium damai dari dagunya. Vanda selalu terbayang wujud kakek, bapak dari ibunya. Ia tak pernah bertemu dengan kakeknya. Kini, ia mendapat sosok Pak Londra sangat mirip dengan kisah-kisah yang diceritakan oleh ibunya dikala sebelum tidur. &#8220;Kakek sangat baik dan ramah pada semua orang. Dulu ia bekerja sebagai tukang kayu di Hagitsra. Dikala senjangnya Kakek membuatkan layang-layang untuk anak-anak kecil. Mereka bermain bersama di gurun rumput Roswelyn dimana rumah batu kakeknya berdiri dengan kokoh diantara lapangan rumput segar dan bunga Astride yang bertebaran&#8221; bisik ibunya yang mengantarkan Vanda kecil tidur. &#8220;Apa dulu siangnya lebih lama, Bu? Apa dulu banyak bunga yang mekar di musim semi?&#8221; tanya Vanda pada ibunya. &#8220;Tentu, sayang!&#8221; sahut ibunya cepat. &#8220;Kakekmu adalah generasi terakhir yang menikmati siang lebih dari lamanya tiga batang lilin tothy&nbsp; .”</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Vanda tau lilin tothy&nbsp; tidak lagi digunakan pada masa sekarang. Sekarang di Hagistra sudah tidak ada lilin tothy. Orang lebih suka membeli lentera minyak yang nyalanya dapat jauh lebih lama dari lilin tothy. Apa lagi lilin tothy&nbsp; selain mahal juga hanya bertahan sebentar. Mungkin hanya sewaktu dengan jika kau memasak sepanci air sampai mendidih. Tapi lilin tothy&nbsp; sangat indah nyalanya dan juga wangi. Wangi itu berasal dari Bunga Astride yang banyak mekar di Hagistra kala itu. Kini pun bunga itu jarang sekali ada yang mekar. Bunga itu membutuhkan cahaya matahari untuk hidupnya.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">&#8220;Jadi dulu kakek bisa membaca di halaman rumah tanpa lentera?&#8221; kembali Vanda kecil bertanya. Ibunya mengangguk dengan pandangan bulat penuh kasih padanya. &#8220;Kelak nanti kau akan mengalaminya kembali, dimana bunga Astride dengan anggunnya mekar diseluruh tanah Hagistra. Sekarang pejamkan matamu, besok sekolah.” Sambil mengecup kening Vanda, ibu kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapannya esok.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Lamunan Vanda disadarkan oleh pertanyaan yang terdengar diulang. &#8220;Kau bisa melihat apa yang tertulis disana?&#8221; kembali Pak Londra bertanya padanya. Vanda menggeleng. &#8220;Memangnya ada apa didalamnya? Hanya berisi sajak yang tak kumengerti. Aku lebih paham sajak cinta pengamen di pasar. Kata-katanya mudah dicerna. Bisanya mereka bercerita tentang kekasihnya yang pergi ke medan perang, atau tentang cinta yang tak kesampaian.” Belum juga menarik nafas, Vanda melanjutkan &#8220;Sedangkan di sajak ini semuanya tak beraturan, kadang bercerita tentang manusia, lalu pindah tentang cinta, dan melompat jauh tentang Tuhan. Aku tak begitu mengerti.&#8221; Vanda menarik nafas. &#8220;Siapakah yang menulisnya? Mengapa tak ada judul di sampulnya? Adakah yang pernah membacanya dan mengerti?&#8221;</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Pak Londra sangat hapal sikap Vanda yang selalu tidak puas dengan apa pun. Ia akan selalu bertanya tentang hal yang tak dimengertinya. Pak Londra sering kewalahan menjawab. Karena ia memiliki banyak buku di perpustakaannya, Vanda sering mengira Pak Londra tahu akan segalanya. &#8220;Jika kau sungguh terarik, bawalah buku itu pulang, mungkin kau dapat membacanya diwaktu senggang. Tapi jangan kau lupakan pelajaranmu. Mungkin sudah waktunya kau membaca buku selain dongeng bocah yang selalu kau pinjam dariku. Kau sudah remaja sekarang. Mungkin diluar saja ada remaja lelaki yang menunggumu keluar dari perpustakaanku yang pengap ini dan membawa seikat bunga untuk mengajakmu berdansa di hari ulang tahun kota ini minggu depan.” Goda Pak Londra. Muka Vanda bersemu merah karena malu. Tanpa menggubris godaan Pak Londra ia memasukkan buku tanpa judul itu ke tas pundaknya dan berlari ke arah pintu keluar. &#8220;Terimakasih Pak Londra! akan kubaca buku ini dirumah. Ku berjanji tak akan merusaknya. Sepertinya buku ini mahal, melihat dari sampul kulitnya.” Setengah berlari ia melangkah keluar meninggalkan Pak Londra yang tertawa terpingkal-pingkal mengodanya sampai terbatuk ketika ia melewati pintu utama perpustakaan itu.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Remaja lelaki apa? pikir Vanda. Ia tidak seperti remaja perempuan seumurnya yang pandai bersolek dan memakai gaun yang indah di sore hari. Ia terbiasa dengan celana panjang dan kaus buatan Ibunya yang berwarna mencolok, dimana ia dapat menempelkan kata yang ia inginkan. Kali ini ia menggunakan kaus kuning dengan emblem huruf yang berkata: S-I-N-A-R.</span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Sementara itu dari balik kios buah, ada dua pasang mata yang mengawasi langkah Vanda keluar dari perpustakaan. Mereka telah berada disana selama hampir dua bulan lamanya. Kios buah itu tak pernah ada pembelinya karena buah yang dijualnya tidak begitu segar dan penjualnya yang tak acuh. Penjual itu pun tak ambil pusing. Ia memang ia tak berniat mencari pelanggan. Lokasi kios itu dibelinya dari seorang pemabuk yang bangkrut, yang kebetulan tepat menghadap pintu perpustakaan, sehingga ia dapat melihat siapa saja yang keluar masuk gedung itu. Si penjual buah dan kawannya mendapati tas Vanda yang kini mengembung penuh, tak seperti dikala ia masuk. Ia yakin buku sajak bersampul kulit coklat itu kini ada di dalam tas tersebut. Buku itu terlalu besar untuk buku dongeng atau kisah asmara yang biasa dipinjam oleh remaja seperti Vanda.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Si penjual mengangguk pada kawannya. Ia memberi kode untuk menguntit Vanda pergi. Segera kawan penjual itu melangkah terburu-buru. Tapi baru dua langkah kegaduhan terdengar. Ia baru saja menabrak seorang ibu gemuk dengan penuh belanjaan dan menjatuhkan semuanya kelantai. Ibu itu marah dan memegangi jaketnya sehingga ia tak dapat melangkah. Ibu itu menyuruhnya membantu mengambil belanjaannya dan mengganti telur angsanya yang pecah akibat ditabrak tiba-tiba oleh kawan si penjual buah. Kawan si penjual buah dengan malas memungut sayur els dan roti pita milik si nyonya pemarah itu sambil mencari-cari sosok Vanda yang telah menghilang di keramaian jalan. &#8220;Sial!” umpatnya. </span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Vanda melangkah riang sambil bersiul menuju Lapangan Voltren, dimana ia yakin saat itu sahabatnya sedang bermain bola korgi bersama dengan kawannya yang lain. Vanda tak sabar ingin memberitahukan Loup apa yang ditemuinya di perpustakaan pak Londra.</span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Loup menyilangkan kakinya di pinggir lapangan, berharap sebentar lagi bagiannya bermain bola korgi, sebab semakin sore langit semakin gelap dan tepat ketika makan malam membuat air liurmu terbit, gulita sudah menyelimuti Hagitsra. Pemandangan delapan remaja berlari mengejar pelari sambil menerka-nerka yang manakah dari mereka yang merupakan pengumpat, &#8211; yaitu orang yang membawa bola korgi kecil di tangan yang terkepal &#8211; merupakan pemandangan yang dapat dilihat setiap hari di lapangan Voltren. Permainan itu sama populernya dengan Karenlina. Wanita cantik bertubuh molek yang mampu memberi gosip macam apapun tentang dirinya setiap hari tanpa sekalipun berfikir bahwa orang akan bosan mendengarnya.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Dari jauh dilihatnya bayangan berjalan riang sambil bersiul-siul menuju lapangan yang agak lembap. “Vanda”, pikir Loup, matanya sekarang teralih pada seorang pelindung yang mendorong jatuh pemain lawan entah untuk melindungi pengumpat atau raja. Yang jelas pihak musuh sekarang mencurigai Walter sebagai orang yang cukup penting, entah pengumpat atau raja, melihat perawakannya yang langsing dan lincah kemungkinan besar ia adalah pengumpat, tapi tidak mustahil bahwa ia adalah raja. Vanda mendekat dengan kaus kuningnya yang mencolok mata &#8211; bahkan dalam gelap seperti ini. Vanda mengambil tempat disamping Loup, rumput basah menyapu bagian belakang celana longgarnya.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">&#8220;Loup! aku punya sesuatu untuk kau lihat!&#8221; ujar Vanda tanpa basa basi. &#8220;Hai, Vanda!” sapa Loup. Lelaki mana yang membuatmu berseri seperti itu? Apa Si Luthe yang pintar geometri lagi atau kali ini Jon, anak baru yang tampan? Vanda mengacuhkan pertanyaan sahabatnya. Vanda tahu bahwa Loup hanya mengejeknya. Tak mungkin Si Pintar Luthe mengajaknya ke pesta dansa, apa lagi Jon Si Tampan dari Becshire, kota besar yang maju, dimana tidak ada lagi tukang pedati membawa rumput untuk ternaknya. </span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Jon dan Luthe sangat populer di sekolah. Vanda pun sempat suka pada keduanya – siapa yang tidak? &#8211; tapi tak sampai bermimpi bahwa salah satunya akan mengajaknya minum di kantin, apa lagi ke pesta dansa. Vanda terkenal dengan sebutan gadis aneh di sekolahnya. Sebutan itu Vanda tak salahkan. Dikala sedang musim rambut kepang, Vanda mengurai rambutnya. Dikala musim tas anyaman tikar, Vanda malah bangga dengan tas pundak peninggalan pamannya ketika berdinas di ketentaraan. Walau tas itu tak pernah ikut berperang, tapi Vanda merasa gagah memakainya. Gagah, bukan anggun. </span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Vanda memang dikenal jarang bermain dengan perempuan sebayanya. Ia malah lebih sering bermain bersama Loup dan kawan-kawan laki-laki lainnya. Bermain bola korgi di lapangan Voltren, adalah salah satu kegemarannya. Tapi sejak beranjak remaja, Vanda mengurangi waktunya untuk bermain di lapangan itu. Ia lebih suka membaca dongeng-dongeng, terutama dongeng dari buku-buku yang dipinjamnya di perpustakaan Pak Londra.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">&#8220;Kau belum dapat giliran, Loup?” tanya Vanda. Loup menggeleng. &#8220;Tubuhmu terlalu kurus! itu sebabnya mereka tak mengajakmu. Larimu pun tak lebih kencang dari anak perempuan seperti aku.” Vanda balas mengejek sambil mencabut rumput jarum lalu menghisapnya. Rumput jarum disukai Vanda karena rasanya sedikit manis bila dihisap. &#8220;Aku tidak terlalu kurus! Aku hanya kurang gemuk sedikit.” umpat Loup. Lagi pula mereka baru mulai, dan aku terlambat sampai disini, jadi aku harus menunggu salah satu dari mereka yang kelelahan.” &#8220;Tetap saja kau kurus, sampai angin pun dapat menerbangkanmu keluar dari Hagistra.” Vanda terpingkal berguling di rumput basah. Tinggal Loup yang menekuk wajahnya kesal.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Seraya seorang anak yang bernama Rochie menghampiri dengan nafas yang terengah. Dia duduk di antara mereka. Loup mengencangkan tali sepatunya bersiap beranjak masuk ke lapangan. &#8220;Hendak kemana kau Loup?” tanya anak itu. &#8220;Aku memang letih, tapi kawan-kawan yang lain ingin Vanda bermain bersama kita. Sudah lama Vanda tak mampir kesini. Ia terlalu sibuk dengan buku dongengnya. Selagi ia ada, hendaklah ia bermain.” Terlihat beberapa anak berdiri di kejauhan menunggu Vanda dilapangan sambil melambaikan tangannya. Sementara sisanya masih asik berlari kesana-kemari. Sambil menunjuk Vanda, Rochie tumbang rebah kelelahan. Tinggal Vanda dan Loup yang berpandangan. Wajah Loup terlihat kesal sedangkan wajah Vanda bersemu menahan tawa. &#8220;Jika kau tertawa, aku kan penuhi bajumu dengan rumput ini!” ancam Loup. Tawa renyah Vanda seketika tergelak seraya berdiri lalu berlari meninggalkan Loup yang sudah bersiap mengejarnya dengan sejumput rumput basah yang dicabutnya tadi. &#8220;Awas, kau Vanda!” teriak Loup mengejar Vanda yang masih berlari sambil tertawa. Rochie yang masih kelelahan itu bangkit lalu berteriak pada Loup dan Vanda yang menjauh. &#8220;Lalu siapa yang menggantikanku bermain?” Tanpa jawaban dari Loup dan Vanda, Rochie dengan malas masuk kembali ke lapangan. Berlari terengah mengejar lawan yang dikiranya sebagai pengumpat.</span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Vanda berlari meninggalkan lapangan kedalam hutan Kecil dimana burung Rangkong Merah bersarang di ujung pepohonannya yang&nbsp; rimbun. Hutan Kecil terbelah oleh sungai Hunt dari hulunya di tengah hutan ke Hagistra dan bermuara di laut. Kelelahan berlari dikejar Loup, Vanda berhenti di tepian sungai Hunt untuk meraih air dengan telapak tangannya. Airnya yang jernih bergelombang ketika tersibak oleh sentuhan tangannya. Diminumnya air itu sedikit lalu digunakan untuk membasuh wajahnya yang penuh dengan keringat. Seketika datanglah Loup entah dari mana. Loup tak berhasil memperlambat larinya. Ia menabrak Vanda yang sedang membungkuk di tepian sungai. Sedetik kemudian mereka berdua sudah berada di air. Basah. Tawa pun kembali tergelak dari keduanya.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">&#8220;Apa tadi yang ingin kau sampaikan padaku tadi?” tanya Loup sambil mengeringkan sepatunya yang basah bebatuan pinggir sungai. Bergidik kedinginan, Vanda berkata &#8220;Tadi aku ingin menunjukkan buku yang dipinjamkan Pak Londra kepadaku. Entah mengapa kurasa kau juga pasti akan tertarik. Namun sekarang buku itu basah tercebur bersama tasku. Kau harus bertanggung jawab. Kau harus mengeringkannya!” Vanda memercikkan air sungai ke muka Loup. &#8220;Mengapa aku? aku kan tak sengaja melakukannya!&#8221; bela Loup. Tapi Vanda telah menyerahkan tas itu padanya. Dan Loup pun menerimanya, sambil membuka tas itu dan mencari buku yang dibicarakan Vanda. Buku itu cukup besar untuk seukuran buku dongeng, apa lagi sajak. Buku itu seperti buku peta yang selalu dibawa Bu Noorlya ketika ia mengajarkan geografi di sekolah. Buku itu sangat mewah dengan sampul kulit coklatnya yang berkilau karena basah. Dan Loup langsung merasa bersalah.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">&#8220;Baiklah, Akan ku keringkan buku ini dirumah, tapi apa yang ingin kau tunjukkan? Buku ini kosong, tidak ada tulisannya, bahkan judulnya pun tidak ada.” Vanda langsung menoleh &#8220;Jangan kau berlagak seperti orang suci lagi. Kau telah melakukan kesalahan dan harus bertanggung jawab. Mana mungkin kubawa buku berat itu jika tidak ada apapun didalamnya? Bilang saja jika kau malas mengeringkannya.” “Tidak, aku tidak berbohong. Buku ini memang tidak ada judul di sampulnya, dan tidak ada tulisan apapun di dalamnya&#8221; Loup terus berkata demikian sambil membalik-balik halamannya. Bajunya telah dilepaskan untuk diperas agar airnya keluar. Badan Loup yang kurus itu terlihat mengerikan bagi orang normal, Tapi Vanda sudah terbiasa melihatnya. Loup memang kurus sekali, pikirnya, tapi ia masih manusia, bukan gagang sapu. </span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Sambil mengibaskan rambut pendeknya, Vanda berkata &#8220;Memang benar, buku itu tak ada judul di sampulnya, itu salah satu yang membuatnya menarik. Tapi didalamnya ada sajak-sajak aneh yang tak kumengerti. Kupikir kau ingin membacanya. Ayahmu kan guru bahasa di sekolah. Tentu kau pernah membaca sajak semacam itu dari lemari buku ayahmu.” “Isi apa?” Tanya Loup. “Lihat sendiri halaman-halaman ini! Tak ada satu hurufpun didalamnya.” Vanda meninggikan lehernya untuk mencari tahu yang Loup katakan. Sejenak ia tak percaya akan kalimat Loup. Anak itu terlalu sering menggodanya. Tapi kali ini ia mencoba memejamkan matanya sekali lagi, dan mulai merasa mual. Ia yakin tadi di perpustakaan Pak Londra ia membacanya. Bahkan Pak Londra pun melihat ia membacanya seraya menawarkan buku itu untuk dibacanya dirumah. Jadi tak mungkin buku itu tidak ada isinya. </span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Vanda melangkah mendekat pada Loup. Ia usap permukaan halaman demi halaman buku itu. Kosong, pikirnya. Bagaimana mungkin? Benaknya kembali disuguhi pernyataan. Sementara Loup masih mengoceh tentang kebohongan yang dibuatnya. Walaupun dibesar-besarkan oleh Loup, Vanda diam tak melawan sedikipun tuduhan Loup. Ia tak tahu harus berkata apa. Ia sangat yakin tadi, beberapa saat sebelumnya di perpustakaan Pak Londra ia masih membaca sajak aneh di lembaran buku itu, lembaran halaman yang sama.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Masih basah kuyup, Vanda dan Loup berjalan pulang. Buku di tas Vanda terasa berat ditambah dengan kandungan air yang meresap. Ia menitipkannya di bahu Loup. Walaupun kurus, Loup tetap lebih kuat darinya. “Aku masih yakin buku itu tadi ada isinya.” seru Vanda. Loup menimpali dengan kelakar “Mungkin tintanya luntur terbawa air sungai.” Vanda memukul bahu Loup “Tak mungkin. Semuanya sangat aneh.” Mereka saling mengejek sepanjang perjalanan pulang. Tak lama kemudian sampailah mereka di gerbang perumahan Vont kota Hagistra. Jejeran rumah itu terlihat rapi seperti di permainan petak yang menggunakan 5 dadu untuk memainkannya. </span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Rumah Loup dan Vanda bersebelahan. Kakek Loup dan Kakek Vanda adalah sahabat karib semasa perang. Ketika perang usai mereka bersepakat untuk membeli sebidang tanah di komplek perumahan Vont lalu membangunnya bersama. Vanda dan Loup adalah keturunan ketiga yang tinggal dirumah itu. Rumah Vanda berwarna hijau oleh pohon Anggur yang merambat luas. Pohon&nbsp; rambat itu sengaja dirawat oleh ayahnya sehingga menutupi bagian depan tembok rumahnya. Sedangkan rumah Loup berwarna merah, sesuai dengan bata yang digunakan untuk membangunnya. Didepannya tergeletak sepeda roda tiga milik adik sepupunya. Dan seember mainan pelastik yang basah karena hujan. Tandanya bibi Lisma dan Arka, sepupu Loup, sedang datang berkunjung.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Rumah Loup dicapai lebih dulu dibandingkan dengan rumah Vanda bila berjalan dari arah sungai. Sekarang mereka telah berada di depan rumah Loup. Vanda berpamitan dan meminta tas berserta isinya dikeringkan. Besok akan Vanda ambil kembali ketika bersama berangkat ke sekolah. Loup mengangguk setuju dan masuk ke halaman rumah bata merahnya. Ibunya muncul dipintu sambil berkacak pinggang. Loup tau ibunya marah karena bajunya basah dan kotor. Vanda mempercepat jalannya tak ingin dilihat oleh ibu Loup, nanti ia terkena omel juga, pikirnya.</span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Seampainya di rumah, Vanda mendapati rumahnya sepi. Mungkin ayah masih bekerja di toko ikan yang terletak tak jauh dari rumahnya. Ibu mungkin sedang mengajak adik-adiknya ke taman bermain. Karena kota ini hampir selalu gelap, hampir tak ada beda malam dan siang. Ia melirik jam peninggalan kakeknya yang selalu dibawanya. Jam itu basah. &#8220;Untung jam ini tahan air.” gumamnya. Jam telah menunjukkan pukul 7.30. waktunya makan malam, ia keheranan mengapa ibu dan ayahnya belum ada dirumah. Vanda langsung menuju kamarnya untuk mandi dan berganti baju. “Syukurlah kalo ibu tak ada, setidaknya aku bebas dari omelan, tak seperti Loup yang sial itu.” benak Vanda berbicara. Ketika ia di kamar mandi, terdengar keriuhan di bawah. Ibu dan adik-adiknya sudah pulang, dan adiknya ingin menjemput ayah di toko. &#8220;Ah, pasti ibu membawa kue kesukaannya.&#8221; pikir Vanda. Ia membasahi badannya dengan air pancuran. Hangat.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Sementara itu Loup dengan pakaiannya yang basah dan kotor terus menaiki tangga kayu melewati perapian menuju kamarnya di loteng. Perapian di ruang makan sungguh menggoda Loup untuk berhenti sejenak dan menghangatkan kaki dan tangannya yang nyaris beku karena udara dingin ditambah pakaiannya yang basah karena Vanda. Loup menutup pintu kayunya yang berat dan menyelotnya agar tak ada yang bisa masuk. Loup membuka baju dan celana basahnya dan menggantinya dengan piyama kering. Agak gelap di loteng, hanya ujung tempat tidur Loup yang agak terang karena diatasnya ditaruhnya lampu hidup berupa sepuluh kunang-kunang hidup yang dimasukkan kedalam botol plastik yang diberi lubang untuk para kunang-kunang bernafas. Loup lebih senang menggunakan lampu hidup sebagai penerang ketimbang lentera minyak, walaupun ia membutuhkannya malam ini. </span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Ia teringat buku Vanda yang basah dan harus dikeringkannya. Buru-buru diambilnya buku itu dari tas basah yang cuma digantung sembarang di depan jendela kamar, berharap angin bisa mengeringkannya esok pagi. Loup membuka buku bersampul coklat yang kosong itu, ditaruhnya dengan hati-hati diatas peti tua di pojok gelap ruangan. Diangkatnya lentera minyaknya dari meja kayu keropos berkaki pendek tempat Loup biasa membaca lalu menggantungkan kaitannya pada kawat yang sudah ada bahkan sejak jaman kakeknya kecil, kata ayahnya. Kawat itu ditarik kebawah agar lebih dekat ke bukunya, karena Loup butuh panasnya, bukan sinarnya. Lentera minyak itu kini bukan hanya menerangi buku dan peti tua, tapi juga seluruh kamar Loup.<br />
Sampai-sampai Loup bisa melihat sarang laba-laba di tepian atap loteng dekat tempat tidurnya. </span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Loup mengelus halaman pertama buku coklat itu. “Masih basah,” pikirnya. Lembaran usang dan kasar tersebut terasa dingin di ujung-ujung jarinya. Lembar kecoklatan itu kosong, seperti juga lembar-lembar lainnya dalam buku itu. Loup menggeleng heran, berpikir untuk apa ada sebuah buku di perpustakaan yang isinya tidak ada. Buku kosong adanya di toko buku dan tas-tas anak-anak sekolah. Itupun buku-buku baru, dengan lembaran putih bersih dan sampul warna-warni. Loup yakin Vanda tidak bercanda, tapi yang ada di hadapannya cuma buku usang yang basah dan kosong. Loup berjalan ke tepi jendela dan duduk sambil memandang langit yang cerah berbintang, jam segini tidak akan mudah melihat pemandangan apapun kecuali rumah-rumah yang menaruh lentera minyak di depan rumah mereka. Ia tidak bisa melihat perpustakaan Pak Londra, padahal letaknya tidak terlalu jauh, tapi perpustakaan itu selalu gelap. Lentera-lentera hanya dinyalakan di ruang baca dan hanya saat ada yang membaca. Loup tergoda untuk mengunjungi perpustakaan dan bertanya-tanya pada Pak Londra tapi tidak malam ini. Dilihatnya rumah Vanda yang terang benderang oleh deretan lentera pada tiap sudut rumah, hanya kamar Vanda yang selalu agak gelap, lampu hidup saja yang tergantung di dalam kamarnya, jadi Loup hanya bisa melihat siluet vanda dari lotengnya, seperti malam ini. Dipicingkannya matanya sedikit. Ada siluet jelas keluar dari kamar mandi yang terang masuk ke kamar yang gelap dan jadi bayangan hitam saja. Vanda kah? Tentu saja. Siapa lagi?</span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Loup menelan ludahnya. Vanda memang sahabatnya tapi ia tetap wanita dan sudah lama Loup melihatnya sebagai wanita. Loup membuang muka, mencoba mengalihkan pikirannya pada tugas mengeringkan bukunya malam ini. Ia pun berjalan lagi ke pojok kamarnya tempat peti tua, buku basah dan lenteranya berada.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">“Tidak ada gunanya” pikir loup. Dibukanya lembar demi lembar halaman buku tua yang mulai mengering itu. tetap tidak tertulis apapun. Dibawanya buku tersebut mendekati lentera minyak dengan harapan ia akan bisa melihat puisi-puisi yang dikatakan oleh vanda. Tadinya ia berfikir, jika buku itu sudah mengering, puisi-puisi itu akan muncul dengan sendirinya. Seperti buku ajaib. Tapi ternyata tidak seperti itu. Putus asa dilemparkannya buku itu ke atas meja kayu. Jika hingga esok pagi Vanda tidak menemukan sebaris kata pun didalamnya, ia pasti akan marah padaku. Tapi saat ini tidak ada yang bisa dilakukan, jadi Loup memutuskan untuk tidur dan berharap keajaiban akan datang.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Diseberang utara, Vanda melihat kamar Loup yang masih terang benderang. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Loup membolak balikkan buku tua itu. Vanda tertawa membayangkan ekspresi keras kepala Loup saat ia berusaha mencoba membaca apapun yang tertulis disana. Tapi Vanda mulai mengerti, Loup tidak bisa menemukan apapun seperti halnya Lak Londra. “Jalan menuju kota yang tidak pernah gelap” begitu kata Pak Londra. Benarkah kota seperti itu ada? Vanda mencoba membayangkan rasa matahari di kulitnya. Tidak bisa.. hanya ada dingin yang membekukan. Mungkin karena aku sudah terlalu lama hidup dalam gelap, pikirnya. Tapi, bukankah hal yang menyenangkan jika Hagitsra bisa bercahaya lagi? Akankah senangnya bisa membaca di padang rumput tanpa harus membawa-bawa lentera? Dan tidak akan ada omelan lagi karena terlambat pulang. Dibuku itu pasti tertulis caranya pergi ke kota yang penuh cahaya dan mencari tahu bagaimana caranya membawa matahari ke hagistra. Mungkinkah Loup mau membantunya? </span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Vanda mengulang adegan di lapangan tadi. Loup memang tidak tampan seperti Jon ataupun Luthe, akan tetapi Loup teman yang sangat menyenangkan. Hanya Loup yang tidak menganggapnya aneh di sekolahan. Loup selalu mendengarkan ocehan Vanda cerita dongeng yang baru saja ia baca dari buku yang ia pinjam dari perspustakaan Pak Londra. Dan sekarang walau selalu mengejek, Loup terlihat percaya waktu Vanda berkata ada puisi didalam buku itu. Vanda menyayanginya. Pasti Loup mau membantunya, seperti halnya Vanda yang bersedia melakukan apapun untuk sahabatnya itu.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Membawa mimpi tentang Loup dan hagistra yang hangat, Vanda tertidur.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Api di Lilin tothy&nbsp; yang sengaja dinyalakan di ruang baca Pak Londra bergoyang terkena semilir angin. Angin itu membuat wangi ekstrak bunga Astride menyeruak ke seluruh ruangan, membuat efek damai bagi yang menciumnya. Wangi itu seperti wangi bunga Lavender bercampur dengan mawar kuning kadang wangi lautan juga muncul dari hangatnya cahaya putih lembut yang dipijarkan. Beda dengan nyala api di lentera minyak, api lilin tothy&nbsp; tidak berwarna kuning, melainkan ungu terang yang tentram. Cahayanya nyaman sekali jika digunakan untuk membaca buku. Terkadang muncul percikan bunga api dari sumbu yang terbakar. Bunga api itu berwarna-warni, seperti kembang api di malam perayaan ulang tahun Hagistra.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Pak Londra masih menyimpan satu peti besar Lilin tothy&nbsp;&nbsp; londra. Ia mendapatinya di ruang bawah tanah perpustakaannya bersama dengan berbotol-botol kristal anggur buatan moyangnya yang tersimpan dengan rapi di rak-rak kayu. Ia sengaja menyimpan lilin tothy&nbsp; untuk kepeluan khusus. Sekarang entah kenapa hati Pak Londra sangat riang sekaligus gundah. Ia membutuhkan cahaya tentram dan wangi tothy&nbsp;&nbsp; yang menenangkan. Diletakkannya lilin tothy&nbsp;&nbsp; itu di pojok ruangan, di atas meja bundar disebelah kursi bersandaran tangan yang empuk dan terbalut kulit rusa. Ia pun seraya duduk diatasnya sambil membuka buku yang berjudul &#8220;Semangat, Sinar dan Serumpun Asa&#8221;. Buku itu tampak tua dengan debu halus di antara lembaran-lembarannya.</span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Pak Londra memiliki sangat banyak buku. Tiap malam sebelum tidur, ia selalu menyempatkan membaca satu buku yang dipilihnya secara acak dengan mencabut sembarang kartu katalog dari lacinya. Kali ini laci katalog itu memilihkan buku itu untuknya. Buku itu berisi tentang tuturan seorang ibu yang menunggu anak dalam kandungannya untuk dilahirkan ke dunia. Pak Londra tiba tiba menaruh buku itu dimeja. Diurungkan niatnya untuk membaca buku itu. Cahanya ungu lilin tothy&nbsp; menerangi sampulnya, memantulkan kata kata yang tertulis dari sampulnya; SEMANGAT &#8211; SINAR &#8211; ASA</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Terbayang dibenak Pak Londra sosok riang Vanda tadi siang. Teringat pancaran mata bulat yang selalu penuh dengan pertanyaan. Pak Londra mulai tahu apa penyebab kegembiraan yang bercampur kegelisahannya itu. Kaus kuning Vanda tadi, S-I-N-A-R, Pak Londra melihatnya dalam ingatan. Pandangan mata itu, SEMANGAT, dan ASA nya untuk mendapat sesuatu yang lebih baik. Dan lebih dari itu, Vanda berkata bahwa ia dapat melihat isi buku itu, bahkan membacanya. Ia katakan padanya, buku itu berisi sajak yang tak dimengertinya. Sajak, ulangnya dalam hati. Seumur hidupnya Pak Londa menyimpan buku itu tanpa mengetahui isinya. Buku itu kosong, baik sampul maupun isinya. Ia tak tahu bagaimana buku itu bisa berada di perpustakaannya seperti kebanyakan buku yang ada disana. Ia sering bermimpi bahwa buku itu adalah penunjuk ke Kota yang tak pernah gelap. Selau terngiang di kepalanya bahwa buku itu berharga. Maka dari itu ia menyimpannya denganharapan suatu saat ia mengerti maksud dari mimpinya tersebut. Tapi ia ingat betul bahwa ia menaruhnya dengan rapi di ruangan kantor perpustakaan, bersama dengan buku-buku yang belum ia kumpulkan dengan subjek yang sama dengan buku lainnya. Buku itu ada di dalam lemari, di rak yang paling tinggi.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Bagaimana buku itu ada di Vanda? pikir Pak Londra. Ia selalu bilang ke anak-anak yang datang ke perpustakaannya, bahwa buku yang memilih pembacanya. Ia percaya itu. Tapi buku yang menghampiri pembacanya secara harfiah – terbang melayang ke pembacanya &#8211; tidaklah mungkin. Sambil berpikir, Pak Londra bangkit dan berjalan ke kantor perpustakaannya. Ia ingin memastikan apakah lemari itu rubuh, atau tak terkunci. Bagaimana buku itu sampai di tangan Vanda? Menepis pikiran anehnya Pak Londra mengira, mungkin buku itu memang terjatuh dari lemari lalu terbawa oleh anak-anak nakal yang suka mengoprek ruangan kantornya yang penuh lukisan.</span><br />
<br style="font-family:Lucida Grande;" /><span style="font-family:Lucida Grande;">Sesampainya di muka kantor, Pak Londra membuka pintunya yang berat. Ia mendapati ruang kantor itu rapi tak seperti bekas kedatangan sekelompok anak-anak nakal yang mengacak-acak atas mejanya. Tumpukan suratnya pun masih rapih tersusun diatas meja. Globe masih ditempatnya semula ketika ia menunjukkan letak kutub utara dan selatan pada Tim, anak sepupunya. Pandangannya beralih ke lemari temat ia menyimpan buku yang kini dibawa Vanda. Lemari itu kokoh dan tinggi terbuat dari kayu Elk yang terbaik yang pernah ia miliki. Karena lantainya agak miring, pintunya selalu terbuka dengan sendiri. Pak londa membeli kunci gembok agar lemari itu tertutup sedia kala. Terkejut Pak Londra ketika ia mendapati lemari itu masih terkunci dengan rapat. Ini mulai aneh, pikir Pak Londa sambil mengerenyitkan kulit dahinya.</span><br style="font-family:Lucida Grande;" /><br style="font-family:Lucida Grande;" /><br style="font-family:Lucida Grande;" /><br style="font-family:Lucida Grande;" /><br style="font-family:Lucida Grande;" />
<div class="flockcredit" style="text-align:right;color:#CCC;font-size:x-small;">Blogged with the <a href="http://www.flock.com/blogged-with-flock" style="color:#999;font-weight:bold;" target="_new" title="Flock Browser">Flock Browser</a></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hawarihadi.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hawarihadi.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hawarihadi.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hawarihadi.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hawarihadi.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hawarihadi.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hawarihadi.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hawarihadi.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hawarihadi.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hawarihadi.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hawarihadi.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hawarihadi.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hawarihadi.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hawarihadi.wordpress.com/149/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hawarihadi.wordpress.com&amp;blog=1403689&amp;post=149&amp;subd=hawarihadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/12/03/cahaya-untuk-hagistra-petualangan-vanda-dan-loup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c2a6e38a58006996dc67495f7c857c2d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">age</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/11/12/148/</link>
		<comments>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/11/12/148/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 22:31:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hawarihadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hawarihadi.wordpress.com/2009/11/12/148/</guid>
		<description><![CDATA[Music Playlist at MixPod.com<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hawarihadi.wordpress.com&amp;blog=1403689&amp;post=148&amp;subd=hawarihadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="visibility:hidden;width:0;height:0;" border="0" width="0" height="0" src="http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.0NXC/bHQ9MTI1ODAwMzgzNzE5MiZwdD*xMjU4MDAzODU*OTU*JnA9MTgwMzEmZD*mbj13b3JkcHJlc3MmZz*xJm89YWIwMmY5MWI*ZDJiNGM1ZTgxYTg5YWMyMWEwNmFkMGM=.gif" />
<p style="visibility:visible;"><iframe frameborder="0" width="228" height="136" src="http://wpcomwidgets.com/?width=220&amp;height=128&amp;src=http%3A%2F%2Fassets.myflashfetish.com%2Fswf%2Fmp3%2Fmff-txtzoom.swf%3Fmyid%3D10381076%26path%3D2008%2F06%2F20&amp;quality=high&amp;flashvars=mycolor%3Dad0202%26mycolor2%3D4d0404%26mycolor3%3Dfae8e8%26autoplay%3Dfalse%26rand%3D0%26f%3D4%26vol%3D100%26pat%3D0%26grad%3Dtrue&amp;salign=TL&amp;wmode=transparent&amp;_tag=gigya&amp;_hash=7b884e17d8cf3e01d6385916816ade19" id="7b884e17d8cf3e01d6385916816ade19"></iframe><br /><a href="http://www.mixpod.com/playlist/10381076" target="_blank"><img src="http://assets.myflashfetish.com/images/get-tracks.gif" title="Get Music Tracks!" style="border-style:none;" alt="Music" /></a><a href="http://www.mixpod.com" target="_blank"><img src="http://assets.myflashfetish.com/images/make-own.gif" title="Create A Playlist!" style="border-style:none;" alt="Playlist" /></a><br /><a href="http://mixpod.com">Music Playlist</a> at <a href="http://mixpod.com">MixPod.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hawarihadi.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hawarihadi.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hawarihadi.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hawarihadi.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hawarihadi.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hawarihadi.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hawarihadi.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hawarihadi.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hawarihadi.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hawarihadi.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hawarihadi.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hawarihadi.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hawarihadi.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hawarihadi.wordpress.com/148/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hawarihadi.wordpress.com&amp;blog=1403689&amp;post=148&amp;subd=hawarihadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/11/12/148/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c2a6e38a58006996dc67495f7c857c2d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">age</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.0NXC/bHQ9MTI1ODAwMzgzNzE5MiZwdD*xMjU4MDAzODU*OTU*JnA9MTgwMzEmZD*mbj13b3JkcHJlc3MmZz*xJm89YWIwMmY5MWI*ZDJiNGM1ZTgxYTg5YWMyMWEwNmFkMGM=.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://assets.myflashfetish.com/images/get-tracks.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Get Music Tracks!</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://assets.myflashfetish.com/images/make-own.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Create A Playlist!</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Placebo ke Indonesia, bener? mungkin ini buktinya</title>
		<link>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/11/04/placebo-ke-indonesia-bener-mungkin-ini-buktinya/</link>
		<comments>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/11/04/placebo-ke-indonesia-bener-mungkin-ini-buktinya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 01:27:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hawarihadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>
		<category><![CDATA[eyeliner]]></category>
		<category><![CDATA[music]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[placebo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hawarihadi.wordpress.com/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[dari beberapa situs yang tersaring, kopas repost ya guys.. &#160; ================================================ Guys..sekedar share ibuat kamu yang cinta mati atau cuman sekedar seneng sama lagu2 hits-nya Placebo, kebayang ga bakal liat live performance-nya?? Bagaimana aksi panggung dari si Brian Molko dkk?? &#8230; <a href="http://hawarihadi.wordpress.com/2009/11/04/placebo-ke-indonesia-bener-mungkin-ini-buktinya/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hawarihadi.wordpress.com&amp;blog=1403689&amp;post=145&amp;subd=hawarihadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>dari beberapa situs yang tersaring, kopas repost ya guys..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>================================================</p>
<p>Guys..sekedar share ibuat kamu yang cinta mati atau cuman sekedar seneng sama lagu2 hits-nya Placebo, kebayang ga bakal liat live performance-nya?? Bagaimana aksi panggung dari si Brian Molko dkk?? Info ini saya tahu pas iseng searching di mbah google tentang placebo, trus ketemu berita ini di website javamusikindo. Mereka selaku event organizer kehadiran Placebo di Indonesia. Seperti yang saya ambil dari www.javamusikindo.com, event ini akan digelar pada tanggal 16 Februari 2010. Hanya saja mereka belum mencantumkan berapa harga tiket yang harus dibayar. So..buat kalian yang ingin menyaksikan sendiri, buruan nabung dari sekarang dan pesan tiketnya! jangan sampai kehabisan. Jarang-jarang bisa lihat  secara langsung salah satu band legendaris. Mari kita sama-sama melihat bagaimana aksi Placebo sesungguhnya.</p>
<p>http://avieonline.wordpress.com/2009/10/25/placebo-manggung-di-indonesia-rek/</p>
<p>==================================================<br />
Placebo Bakal Ke Indonesia?<br />
Monday, 19 Oct 2009</p>
<p>Sebuah kabar gembira pun datang dari ketikan jari Adrie Subono, promotor nomor satu di Indonesia. Melalui account Twitter-nya, Adrie akan berencana mendatangkan Placebo ke Indonesia, atas tawaran dari pihak Placebo-nya sendiri yang menginginkan tampil di Indonesia pada tanggal 16 Februari 2010. Adrie sendiri baru akan mendapatkan kepastian dari pihak Placebo pukul 16.00 hari ini, setelah ia menghubungi agen yang menangani Brian Molko cs tersebut.</p>
<p>Band asal Inggris yang terbentuk di tahun 1994 ini tentu sudah punya nama yang cukup besar di Indonesia. Lagu-lagu macam Every You Every Me, Bitter End, Pure Morning dan juga 36 Degrees sangat bersahabat di telinga kita. Image bentukan Placebo juga sangat mengena, dengan tampilan androgini Molko menjadi nilai tambah mengapa kita perlu melihat mereka manggung di depan mata kita. Jadi, sekarang saatnya berharap pihak promotor, khususnya Java Musicindo supaya bisa mendapatkan kesepakatan untuk mendatangkan Placebo. (ip)</p>
<p>http://www.welovehonda.com/news,98,p2</p>
<p>==================================================<br />
Placebo in Indonesia: Feb 2010<br />
There are some bands, you just feel, they like Asian food too much.</p>
<p>Like Placebo for example. Just look at them, you can already tell Brian loves to chow down to a nice large plate of &#8216;Nasi Lemak Ayam&#8217;. Otherwise why would he come here so often. Never mind &#8216;Nasi Lemak Ayam&#8217; is a Malaysian (yeah!) dish and the band has technically never been to Malaysia, I am currently prophesying that they are going to. And from what I figure, what I prophesy, tends to come true. Take Rachel for example, I prophesied that she would be by my side in 5 days and in 5 days, she was. Granted she has since turned a little pudgy on the sides and grown a full mane of chest hair, but I still have faith that it&#8217;s her although most of my friends tell me she&#8217;s ran away months ago and that the person I&#8217;ve been making out with is someone named Julio. What do they know anyway? What we have is special &#8230;</p>
<p>&#8230; come here my sweet thing. Oh, you&#8217;ve grown a mustache too. Smoking.</p>
<p>Details:</p>
<p>Date: 16th February 2009 (Tuesday)<br />
Venue: Istora Senayan, Jakarta</p>
<p>==================================================</p>
<p>Placebo Boyong Barang 7 Ton di Konser Jakarta</p>
<p>Akan ada penampilan spesial dari Placebo untuk konsernya di Jakarta, 16 Februari 2010 mendatang. Karena mereka akan membawa peralatan seberat 7 ton.Alat-alat yang sudah masuk dalam daftar adalah alat musik juga tata panggung. Band asal London itu kabarnya akan membawa seting panggung sendiri.</p>
<p>&#8220;Ini bakal seheboh Muse dandanan panggungnya. Dia bawaannya aja 7 ton,&#8221; ujar ujar bos Java Musikindo, Adrie Subono kepada detikhot via ponselnya, Senin (19/10/2009) malam.Promotor pun menyediakan Istora Senayan, Jakarta Selatan sebagai arena konser. Segala perjanjian konser telah lengkap tinggal tunggu tanggal mainnya.</p>
<p>&#8220;Gue udah dapat kabar dari jasa pengangkutan kalau bawaan dia lengkap banget. Bisa dibayangin lah nanti konsernya seheboh apaan,&#8221; tutur Adrie.</p>
<p>http://www.musikji.net/2009/10/placebo-boyong-barang-7-ton-di-konser.html</p>
<p>==================================================<br />
Placebo Confirmed to Indonesia 2010</p>
<p>Dikonfirmasi dari account Twitter pemilik Java Musikindo, Adrie Subono, band asal Inggris Placebo akan menggelar konser di Istora Senayan, Jakarta, tanggal 16 Februari 2010. Berita selengkapnya bisa dilihat di http://www.jakartaconcerts.com.</p>
<p>Untuk yang belum tahu siapa Placebo, mereka adalah band beranggotakan tiga orang yaitu Brian Molko (lead vocals, guitar, harmonica, keyboards, saxophone), Stefan Olsdal (bass, guitar, keyboards, backing vocals), dan personel barunya yaitu Steve Forrest (drums, percussion, backing vocals).</p>
<p>Placebo dikenal dengan hits-hits mereka seperti Nancy Boy, Song To Say Goodbye, dan The Bitter End.</p>
<p>Discography:<br />
Placebo (1996)<br />
Without You I&#8217;m Nothing (1998)<br />
Black Market Music (2000)<br />
Sleeping With Ghosts (2003)<br />
Meds (2006)<br />
Battle For The Sun (2009)</p>
<p>Oh iya soal harga tiket gosipnya sekitar 475 ribu sampe 575 ribu, tapi itu juga belum pasti. Dan gosipnya juga akan ada harga presale, jadi siap-siap aja nabung dari sekarang!</p>
<p>From Detik</p>
<p>http://forum.britishroom.net/showthread.php?&#038;t=32</p>
<p>======================================</p>
<p>NABUNG NABUNG NABUNG NABUNG NABUNG NABUNG NABUNG NABUNG NABUNG NABUNG NABUNG NABUNG NABUNG NABUNG NABUNG NABUNG!!!!!!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hawarihadi.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hawarihadi.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hawarihadi.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hawarihadi.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hawarihadi.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hawarihadi.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hawarihadi.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hawarihadi.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hawarihadi.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hawarihadi.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hawarihadi.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hawarihadi.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hawarihadi.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hawarihadi.wordpress.com/145/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hawarihadi.wordpress.com&amp;blog=1403689&amp;post=145&amp;subd=hawarihadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/11/04/placebo-ke-indonesia-bener-mungkin-ini-buktinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c2a6e38a58006996dc67495f7c857c2d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">age</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>tes dari wpbb</title>
		<link>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/09/01/tes-dari-wpbb/</link>
		<comments>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/09/01/tes-dari-wpbb/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 00:16:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hawarihadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>
		<category><![CDATA[tes temp]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hawarihadi.wordpress.com/2009/09/01/tes-dari-wpbb/</guid>
		<description><![CDATA[Tes saja dulu<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hawarihadi.wordpress.com&amp;blog=1403689&amp;post=143&amp;subd=hawarihadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tes saja dulu</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hawarihadi.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hawarihadi.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hawarihadi.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hawarihadi.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hawarihadi.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hawarihadi.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hawarihadi.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hawarihadi.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hawarihadi.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hawarihadi.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hawarihadi.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hawarihadi.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hawarihadi.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hawarihadi.wordpress.com/143/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hawarihadi.wordpress.com&amp;blog=1403689&amp;post=143&amp;subd=hawarihadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/09/01/tes-dari-wpbb/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c2a6e38a58006996dc67495f7c857c2d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">age</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Agnostik itu?</title>
		<link>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/06/15/apakah-agnostik-itu/</link>
		<comments>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/06/15/apakah-agnostik-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 04:13:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hawarihadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hawarihadi.wordpress.com/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Agnostik itu? Oleh Bertrand Russell, 1953. Diterjemahkan oleh Setya A. Sis Apakah orang agnostik itu Atheis? Tidak. Seorang atheis, seperti halnya penganut Kristiani, mempercayai bahwa ia dapat mengetahui ada atau tidak adanya Tuhan. Penganut Kristiani mengatakan bahwa ia dapat &#8230; <a href="http://hawarihadi.wordpress.com/2009/06/15/apakah-agnostik-itu/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hawarihadi.wordpress.com&amp;blog=1403689&amp;post=140&amp;subd=hawarihadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Apakah Agnostik itu?</strong><br />
    Oleh Bertrand Russell,  1953.<br />
    Diterjemahkan oleh Setya A. Sis</p>
<p><strong>Apakah orang agnostik itu Atheis?</strong></p>
<p>Tidak.  Seorang atheis,  seperti halnya penganut Kristiani,   mempercayai bahwa ia dapat mengetahui ada atau tidak adanya Tuhan.  Penganut Kristiani mengatakan bahwa ia dapat mengetahui Tuhan itu ada;  kaum atheis menyatakan bahwa kita dapat mengtahui Tuhan itu tidak ada.  Orang agnostik menunda pengambilan keputusan,  dengan menyatakan bahwa tidak cukup bukti untuk menegaskan atau menolak adanya Tuhan.  Pada saat bersamaan, orang agnostik mungkin mengatakan bahwa eksistensi Tuhan meskipun bukan tidak mungkin, sangat kecil kemungkinan adanya;  ia mungkin menyatakan begitu kecil kemungkinan adanya Tuhan, maka Tuhan pada kenyataannya tidak cukup bermakna untuk dipakai sebagai bahan pertimbangan. Dalam hal demikian,   Tuhan disingkirkan tak jauh berbeda seperti dalam atheisme.  Sikapnya adalah mirip seperti filsuf yang teliti terhadap dewa-dewa Yunani Kuno.  Apabila saya disuruh membuktikan bahwa Zeus dan Poseidon dan Hera dan dewa-dewi Olympia lainnya tidak ada,  maka saya pasti kebingungan dalam memberikan argumen yang memadai.  Orang agnostik akan berpendapat bahwa Tuhan orang Kristiani sama kecil kemungkinan adanya dengan dewa-dewi Olympia;  dalam hal demikian,  untuk mudahnya ia sama dengan orang atheis.</p>
<p>Oleh karena Anda menolak &#8220;hukum Tuhan&#8221;,  otoritas apa yang Anda terima sebagai pedoman hidup?</p>
<p>Orang agnostik tidak menerima &#8220;otoritas&#8221; apapun sebagai mana halnya yang diterima oleh orang beragama.  Dipercayai bahwa orang harus memikirkan sendiri masalah pedoman hidup.  Tentu saja,  ia akan mengambil keuntungan dari pengalaman orang lain,  tetapi harus dipilihnya sendiri orang-orang yang dianggapnya bijak,   dan sama sekali tidak akan menganggap bahwa apapun yang dikatakannya tak boleh dibantah.  Teramati bahwa apa yang ditentukan oleh &#8220;Hukum Tuhan&#8221; itu selalu berubah setiap saat.  Injil mengatakan bahwa wanita tiak boleh kawin dengan saudara laki-2 dari suami yang telah meninggal,  dan bahwa dalam keadaan tertentu wanita harus kawin dengannya.  Jika anda kebetulan seorang janda tak beranak dan masih ada ipar yang belum kawin, maka logikanya anda tak boleh menghindari &#8220;hukum Tuhan.&#8221;</p>
<p><strong>Bagaimana Anda mengetahui baik dan buruk?  Apakah yang dianggap Dosa oleh orang agnostik?</strong></p>
<p>Orang agnostik tidak begitu pasti sebagaimana yang diyakini penganut Kristiani terhadap apa yang disebut baik dan buruk. Tidak akan diklaim seperti yang diklaim penganut Kristiani di masa lalu bahwa orang yang tak setuju dengan perintah mengenai theologi yang absurd harus menerima hukum mati yang menyakitkan.  Hukum mati demikian ditentang,  dan lebih hati-hati mengenai tuduhan moral.</p>
<p>Kata &#8220;dosa&#8221; dianggap bukan sebagai ide yang ada gunannya.   Tentu saja diakui bahwa sebagian macam tindakan adalah patut dan sebagian lagi tidak patut,  tapi diyakini bahwa hukuman untuk tindakan yang tidak patut hanya diterapkan jika dimaksudkan untuk menghindari atau memperbaiki,  bukan karena hukuman itu memang dianggap baik dan dengan pikiran bahwa orang jahat harus menderita.   Kepercayaan inilah yang ada dalam hukuman balas dendam sehingga orang menerima idee neraka.  Ini adalah bagian merugikan yang telah diakibatkan oleh adanya ide &#8220;dosa&#8221;.</p>
<p><strong>Apakah orang agnostik melakukan apapun asal dikehendakinya?</strong></p>
<p>Dalam satu hal tidak,  dilain hal siapapun akan melakukan apa yang dikehendakinya.  Kalau misalnya Anda begitu membenci seseorang sampai Anda mau membunuhnya:  Kenapa tidak?  Anda akan menjawab:   &#8220;Sebab agama mengatakan bahwa pembunuhan adalah dosa.&#8221;  Namun dalam kenyataan statistik,   orang-orang agnostik tidak lebih cenderung melakukan pembunuhan dari pada orang lain,  dan kenyataannya kecenderungan mereka memang lebih kecil.  Mereka mempunyai motif sama untuk tidak melakukan pembunuhan sebagaimana orang lain.  Jauh dalam lubuk hatinya, motif paling kuat adalah takut dihukum.  Namun dalam keadaan tanpa hukum,  seperti demam menambang emas, segala macam orang akan melakukan kejahatan,  meski dalam keadaan normal mereka adalah orang-orang yang taat pada hukum.  Bukan hanya karena adanya hukuman, tapi juga ada rasa tidak nyaman mengetahui hal menakutkan itu, dan rasa sepi karena mengetahuinya,  untuk menghindari kebencian orang,  anda harus memakai topeng meski dengan teman terdekat anda sekalipun.   dan dan ada lagi yang sering disebut &#8220;conscience&#8221;:  Jika anda pernah berangan-angan untuk membunuh,  anda akan takut pada ingatan yang mengerikan saat-saat terakhir tubuh korban anda tak bernyawa.  Semua ini benar,  ya,   tergantung pada kehidupan anda dalam masyarakat yang taat hukum,  tetapi banyak sekali alasan-alasar non agama/sekuler yang dipakai untuk menciptakan dan dan mengabadikan masyarakat demikian.</p>
<p>Saya katakan ada alasan lain mengapa siapapun akan melakukan apa yang diinginkannya.  Tak seorangpun kecuali orang tolol yang menuruti segala keinginan,   tetapi apa yang menahan keinginan in check adalah selalu merupakan meinginan yang lain. Keinginan anti-sosial seseorang dapat di kendalikan oleh keinginan untuk menyenangkan Tuhan,  tapi dapat juga dikendalikan oleh keinginan untuk menyenangkan teman-temannya,  atau mendapatkan respek penghormatan dari masyarakatnya,  atau agar dapat mencitrakan dirinya sendiri tanpa rasa jijik.  Namun jika tak memiliki keinginan-2 tersebut,  maka satu-2 nya aturan abstrak moralitas tak akan dapat meluruskan orang itu.</p>
<p><strong>Bagaimanaka anggapan orang agnostik terhadap Injil?</strong></p>
<p>Orang agnostik menganggap Injil tepat sebagaimana yang dianggap oleh seorang enlightened clerics.  Tidak dianggapnya sebagai inspirasi illahi;  akan dianggapnya sebagai legenda sejarah awal, dan tak lebih akurat dari pada yang tertulis dalam Homer;  dianggapnya ajaran moral yang terkandung didalamnya kadang baik, tapi kadang sangat buruk.  Misalnya, Samuel memerintahkan Saul dalam perang untuk tidak saja membunuh tiap laki-laki, wanita,  dan anak-anak lawan,  tapi sampai semua biri-biri dan ternak sapinya.  Namun demikian Saul tetap membiarkan biri-biri dan ternak sapi hidup,  dan untuk hal ini kita disuruh mengutuknya.  Saya tak pernah mampu menyenangi Elisha karena mengutuki anak-anak yang mengolok-oloknya,  atau mempercayai (yang dinyatakan Injil)  bahwa Dewa yang baik hati akan mengirimkan beruang jadi-jadian untuk membunuh anak-anak tersebut.</p>
<p>Bagaimanakah anggapan orang agnostik terhadap Jesus,  Kelahiran oleh Sang Perawan,  dan Trinitas yang Suci?</p>
<p>Karena orang agnostik tidak percaya Tuhan,  tak dapat dipercayai bahwa Jesus adalah Tuhan.  Kebanyakan orang-orang agnostik menghargai kehidupan dan ajaran Jesus sebagaimana ditulis dalam Injil,  tetapi tidak harus melebihi penghargaan terhadap orang lain.  Ada yang menempatkan Jesus sama dengan sang Buddha, sebagian dengan Socrates dan dan lainnya dengan Abraham Lincoln.  Mereka juga tidak menganggap apa-apa yang dikatakannya tidak boleh dibantah,  oleh karena orang Agnostik tidak menerima suatu otoritas sebagai hal yang absolute.</p>
<p>Orang Aganostik Menganggap Kelahiran Sang Perawan sebagai satu doktrin yang diambil dari mitologi pagan/kafir,  dimana kelahiran demikian bukan hal yang aneh (Zoroaster dikatakan terlahir dari seorang perawan;  Ishtar,  the dewi Babylon,   yang disebut sebagai the Holy Virgin/Perawan Suci).  Mereka tak dapat memberikan kepercayaannya kepada hal tersebut,  ataupun kepada doktrin Trinitas,   karena keduanya tidak mungkin tanpa adanya kepercayaan pada Tuhan.</p>
<p><strong>Dapatkah orang agnostik menjadi penganut Kristiani?</strong></p>
<p>Kata &#8221; Kristiani&#8221; mempunyai berbagai makna dalam waktu yang berbeda. Selama berabad-abad sejak jama Kristus,  kata itu berarti orang yang percaya apada Tuhan dan keabadian dan serta bahwa Kristus adalah Tuhan.  Tetapi kaum Unitarians menyebut diri mereka penganut Kristiani meski tidak percaya akan keIlahian Kristus,  dan banyak orang saat ini menggunakan kata &#8220;Tuhan&#8221; dengan arti yang kurang pas dibandingkan dengan arti jaman sebelumnya.  Banyak orang yang sekarang mempercayai Tuhan tidak lagi bermakna person/manusia,  atau trinitas dari person,  namun hanya berupa kecenderungan kabur atau kekuatan atau maksud dan tujuan immanent dalam evolusi.  Lebih jauh lagi, orang lain  mengartikan &#8220;Kristianitas&#8221; hanyalah sebuah sistem etika yang dibayangkan sebagai karakter penganut Kristiani saja, karena mereka tidak peduli dengan masalah kesejarahan.</p>
<p>Dalam buku yang baru diterbitkan, ketika saya katakan bahwa apa yang diperlukan dunia adalah &#8220;cinta,  cinta Kristiani,  atau kepedulian/compassion,&#8221;  banyak yang menyangka hal ini menunjukkan adanya perubahan dalam pemikiran saya,  meski kenyataannya mungkin saya katakan hal yang sama kapanpun.  Jika yang Anda maksudkan &#8220;Penganut Kristiani&#8221; berarti orang yang mencintai tetangganya,  yang sangat bersimpati terhadap penderitaan, dan yang sangat menginginkan agar dunia bebas dari kebuasan dan kebencian yang jaman sekarang ini diabaikan,  maka jelas Anda mendapat justifikasi untuk menyebut saya seorang Kristiani.  Dan dalam hal ini,  saya kira anda akan dapat menemukan lebih banyak &#8220;penganut Kristiani&#8221; diantara orang-orang agnostik dibandingkan dalam kalangan orthodoks.  Namun menurut saya,  Saya tak dapat menerima definisi demikian.   Selain penolakan lainnya,  namapaknya agak kasar bagi orang Yahudi, Buddhis,   Muslim,  penganut non Kristianilainnya ,  yang sepanjang sejarah ditunjukkan oleh sejarah, paling tidak cenderung untuk melakukan moralitas diklaim dengan arogan oleh penganut Kristiani sebagai unik milik agama mereka sediri.</p>
<p>Saya kira juga bahwa siapapun yang menyebut diri penganut Kristiani di jaman-jaman awal,  dan dah sebagian besar orang yang melakukannya sampai saat ini,   akan menganggap bahwa kepercayaan pada Tuhan dan immortalitas adalah essensial bagi penganut Kristiani.  Dengan dasar ini,  saya menyebut saya sendiri sebagai penganut Kristiani,  harus saya katakan bahwa orang agnostik tak dapat menjadi penganut Kristiani.  Namun jika kata &#8220;Kristianitas&#8221; ternyata digunakan secara umum dulunya hanya berarti sejenis moralitas,  maka jelaslah mungkin bagi seorang agnostik untuk menjadi penganut Kristiani.</p>
<p><strong>Apakah Orang agnostik menolak bahwa manusia punya Jiwa?</strong></p>
<p>Pertanyaan ini tidak mempunyai arti yang tepat kecuali kita diberi definisi sari kata &#8220;jiwa&#8221;.  Saya kira yang dimaksudkan secara kasar adalah sesuatu nonmaterial yang berada dalam seluruh hidup seseorang bahkan,  bagi yang mempercayai immoralitas, sepanjang waktu-waktu yang akan datang.  Jika yang begitu maksudnya maka orang agnostik mungkin tidak akan percaya bahwa manusia mempunyai jiwa.  Tetapi akan segera saya tambahkan bahwa hal ini tidak berarti orang agnostik pasti penganut materialis.   Banyak orang-orang agnostik (termasuk saya sendiri) sangat ragu pada tubuh sebagaimana ketidak tahuan mengenai jiwanya,  namun ini adalah cerita lama untuk mempertimbangkan metafisik yang sulit ini.  Baik jiwa maupun materi harus saya katakan adalah simbol yang mudah dalam satu diskursus, sebenarnya bukan sesuatu yang eksis.</p>
<p><strong>Apakah orang agnostik percaya Akhirat,  Surga atau Neraka?</strong></p>
<p>Pertanyaan mengenai apakah orang akan hidup setelah mati adalah pertanyaan mengenai bukti mana yang memungkinkan. Riset fisika dan spiritualisme dianggap oleh banyak orang dapat memberikan buktinya.  Orang agnostik dengan demikian tidak mempunyai pandangan mengenai kelangsungan jiwa kecuali dianggapnya ada bukti yang serba sedikit-pun.  Menurut pandangan saya sendiri,  saya anggap tidak ada alasan memadai untuk mempercayai bahwa kita akan hidup lagi setelah mati, namun saya terbuka untuk percaya jika ada bukti yang memadai.</p>
<p>Surga atau neraka adalah hal lain lagi.  Percaya pada adanya neraka terikat pada adanya kepercayaan bahwa hukuman pembalasan artas dosa adalah hal yang baik,  sangat terpisah of dari tujuan pencegahan atau perbaikan yang mungkin dapat diberikan.   Orang agnostik hampir tak percaya akan hal ini.  Sehubungan dengan surga,   barangkali ada bukti yang dapat diraba dengan eksistensinya melalui spiritualisme,   namun kebanyakan orang-orang agnostik menganggap tidak ada bukti demikian,   dan oleh karenanya tidak mempercayai adanya surga.</p>
<p><strong>Apakah anda tak pernah takut pada pembalasan Tuhan karena menolak-Nya?</strong></p>
<p>Tentu tidak.  Saya juga menolak Zeus dan Jupiter dan Odin dan Brahma, namun hal ini tidak menyebabkan kebingungan/keraguan bagi saya.  Saya perhatikan bahwa sebagian besar dari ummat manusia tidak percaya tuhan Tuhan dan tidak menderita hukuman yang nyata karenanya.  dan jika memang ada Tuhan, saya kira Tuhan itu tidak akan merasa tak nyaman karena ditolak eksistensinya.</p>
<p><strong>Bagaimana Orang Agnostik menerangkan keindahan dan harmoni Alam?</strong></p>
<p>Saya tak tahu dimana ketemunya &#8220;keindahan&#8221; dan &#8220;harmoni&#8221;.  Dalam kelompok kerajaan binatang,  binatang-binatang itu saling memakan.  Kebanyakan dari mereka terbunuh dengan kejam oleh binatang lain atau mati pelan-pelan karena kelaparan. Menurut saya sendiri,  saya tak bisa melihat keindahan luar biasa atau harmoni dalam diri Cacing Pita.  Janganlah dikatakan bahwa binatang ini dikirim sebagai hukuman atas dosa-dosa kita,  sebab binatang itu lebih banyak terdapat pada binatang dibandingkan manusia.  Saya kira si penanya sedang memikirkan keindahan langit yang penuh bintang.  Akan tetapi harus diingat bahwa bintang kadang meledak dan menghancurkan tetangga sekitarnya menjadi asap yang gelap.  Keindahan,   dalam segala hal adalah subyektif dan hanya ada di mata orang yang memandangnya saja.</p>
<p><strong>Bagaimana Orang Agnostik menjelaskan mukjizat dan wahyu lain dari Tuhan YME?</strong></p>
<p>Orang-orang agnostik beranggapan tidak ada bukti &#8220;mukizat&#8221; dengan arti kejadian-kejadian yang bertentangan dengan Hukum Alam.  Kita tahu bahwa penyembuhan dengan iman dapat terjadi dan sama sekali bukan mukjizat.  Di Lourdes,  penyakit tertentu dapat disembuhkan dan lainnya tidak dapat disembuhkan.  Yang dapat tersembuhkan dapat saja disembuhkan oleh dokter manapun terhadap pasien yang beriman.  Menurut catatan mukjizat lain,  seperti Joshua yang memerintahkan Matahari agar diam,  orang agnostik menolaknya dan menganggap hanya legenda dan menunjukkan bahwa semua agama penuh dengan legenda yang begitu.  Sama banyaknya mukjizat yang ada pada dewa-dewa Yunani dalam cerita Homer seperti halnya Tuhan Kristiani dalam Injil.</p>
<p><strong>Banyak nafsu rendah dan jahat yang ditentang agama.  Jika Anda meninggalkan prinsip-prinsip keagamaan,  dapatkan umat manusia terus eksis?</strong></p>
<p>Adanya nafsu rendah dan jahat tak dapat ditolak,  tapi tak saya temui bukti dalam sejarah bahwa agama agama-agama telah menentang nafsu-nafsu tersebut.  Sebaliknya,   malah disucikan,  dan memungkinkan orang untuk mentolerirnya tanpa rasa sesal.   Hukuman kejam lebih umum terjadai dalam Kristiani dibandingkan tempat lainnya.   Apa yang nampak dapat membenarkan hukum mati adalah kepercayaan dogmatis.   Keramahan dan toleransi hanya terjadi sejalan dengan berkurangnya kepercayaan dogmatis.  Dalam jaman kita sekarang,  agama baru yang dogmatis,  yakni komunisme telah muncul.  Untuk itu, sebagai mana terhadap sistem dogma lainnya,   orang agnostik ditenentangnya.   Ciri hukum-menghukum komunisme jaman ini persis seperti Ciri hukum-menghukum Kristianitas di abad dahulu.  Dengan berlangsungnya waktu, Kristianitas kurang cenderung menghukum,  ini adalah hasil kerja para penganut berfikir bebas yang menjadikan penganut dogmatis berkurang ke-dogmatisannya.  Jika mereka tetap dogmatis seperti jaman dulu,  mereka akan tetap menganggap benar membakar orang yang tak percaya.  Semangat toleransi yang dianggap oleh penganut Kristiani modern sebagaimana Kristiani,  pada kenyataannya merupakan produk moderasi yang memperkenankan ketidak-jelasan dan mencurigai kepastian absolut.  Saya kira siapapun yang meneliti sejarah tanpa memihak akan menuju kesimpulan bahwa agama-agama telah mengakibatkan penderitaan dari pada yang telag diselamatkannya.</p>
<p><strong>Apakah arti hidup bagi Orang Agnostik?</strong></p>
<p>Saya cenderung menjawabnya dengan pertanyaan lain:  Apa maksudnya &#8220;arti hidup&#8221; ?   Saya kira itu adalah apa yang dimaksudkan sebagai tujuan umum.  Saya tidak menganggap bahwa hidup itu ada tujuannya.  Cuma asal terjadi saja.  Tetapi tiap individu memiliki tujuan hidup tertentu,  dan tak ada alasan dalam agnostisisme untuk meninggalkan tujuan-tujuan hidup ini. Tentu mereka tidak pasti yakin akan dapat mencapai hasil yang diusahakannya;  namun anda akan menganggap gila jika seorang tentara menolak tugas bertempur sampai ia yakin pasti menang. Orang yang memerlukan agama untuk menekankan tujuan hidupnya sendiri adalah orang yang ketakutan,  dan saya tidak dapat menanggapnya pula sebagai orang yang mencari jalan aman,  meski mengakui juga bahwa kekalahan bukan merupakan hal yang tak mungkin.</p>
<p><strong>Apakah penolakan terhadap agama berarti penolakan terhadap perkawinan dan kesetiaan?</strong></p>
<p>Lagi, hal ini akan dijawab dengan pertanyaan:  Apakah orang yang mempertanyakan ini percaya bahwa perkawianan dan kesetiaan dapat meningkatkan kebahagiaan di dunia,  atau apakah ia mengaanggap bahwa  perkawinan dan kesetiaan itu, meski menyebabkan kseusahan di dunia, dipakai sebagai alat mencapai surga?   Orang yang mengambil pandangan terakhir jelas tak dapat mengharapkan agnostisisme akan menyebabkan menurunnya moralitas,   namun harus kita akui bahwa moralitas adalah sebab utama adanya kebahagiaan umat manusia dalam kehidupannya di dunia.  Jika sebaliknya ia mengambil pandangan pertama yaitu bahwa ada argumen yang membumi untuk perkawinan dan kesetiaan,  harus juga diyakininya bahwa argumen-argumen ini mesti meyakinkan juga bagi orang agnostik.   Orang agnostik dengan demikian tidak mempunyai pandangan berbeda mengenai moralitas seksual.  Akan tetapi kebanyakan akan mengakui bahwa, ada argumen yang shahih untuk menentang toleransi terhadap nafsu seksual tanpa kendali.  Namun demikian,  akan mendasarkan argumen ini pada sumber-sumber membumi yang jelas dan bukan berdasarkan digaan perintah keilahian.</p>
<p><strong>Apakah keimanan karena logika saja merupakan kepercayaan yang berbahaya?</strong></p>
<p>Bukankan logika tidak sempurna dan tidak memadai tanpa hukum spiritual dan moral?  Tak seorangpun yang mau memakai otak meski ia agnostik,  &#8220;hanya mengimani logika saja&#8221;.  Logika berkaitan dengan kenyataan,  sebagian teramati,   sebagian lagi disimpulkan.  Pertanyaan apakah ada kehidupan masa depan dan pertanyaan apakah ada Tuhan berkaitan dengan kenyataan,  dan orang agnostik percaya bahwa pertanyaan-pertanyaan itu harus diselidiki mirip dengan pertanyaan,   &#8220;Apakah akan ada gerhana rembulan besok?&#8221;  Namun kenyataan saja tidak cukup untuk menentukan tindakan,  karena tidak diberitahukan apa tujuan yang harus kita capai.  Dalam wilayah tujuan-tujuan,  kita memerlukan hal lain selain logika.  Orang agnostik menemukan tujuan dalam hatinya sendiri dan bukan dalam perintah dari luar.  Coba kita ambil contoh:  Misalkan Anda ingin bepergian dengan kereta api dari New York ke Chicago;  Anda akan menggunakan logika untuk mengetahui kapan kereta api berangkat,  dan orang yang mengira bahwa ia punya kemampuan mengetahui atau intuisi yang menyuruhnya agar menyesuaikan dengan jadwal akan dianggap agak bodoh.  Namun tak ada jadwal yang akan memberitahu bahwa pergi ke Chicago adalah bijaksana. Jelas dalam menentukan apakah hal itu bijaksana, ia mesti memperhitungkan fakta-fakta lain;  namun dibalik segala fakta, ada tujuan yang dianggapnya cocok untuk diusahakan, dan bagi orang agnostik sebagaimana orang-orang lain,   hal-hal ini termasuk dalam wilayah yang bukan wilayah logika,  meski tidak harus bertentangan sama sekali dengan logika.  Wilayah yang saya maksudkan adalah emosi dan perasaan dan keinginan.</p>
<p><strong>Apakah anda menganggap semua agama sebagai bentuk takhayul atau dogma? Agama-agama mana yang Anda hormati,  dan mengapa?</strong></p>
<p>Semua agama besar dan terorganisir yang mendominasi umat manusia sedikit banyak mengandung dogma,  tetapi &#8220;agama&#8221; adalah kata yang maknanya tidak pasti.  Sebagai contoh Confucianism dapat disebut agama,  meski tidak mengandung dogma. Dan dalam beberapa bentuk kepercayaan Kristen,  elemen dogma diperkecil sampai minim.</p>
<p>Dari agama-agama besar sepanjang sejarah,  Saya lebih cenderung Buddhisme,    terutama dalam bentunya yang paling awal, sebab agama itu yang melibatkan hukuman paling minim.</p>
<p><strong>Komunisme,   seperti agnostisisme  bertentangan dengan agama.  Apakah orang-orang agnostik itu komunis?</strong></p>
<p>Komunisme tidak menentang agama.  Hanya menentang agama Kristiani saja, sebagaimana yang ditentang oleh agama Islam (Mohammedanism sic.).  Komunisme,  paling tidak dalam bentuk yang diciptakan oleh pemerintah Soviet dan Partai Komunis, adalah suatu sistem dogma baru yang maut dan banyak melibatkan penghukuman.   Oleh karena itu, tiap orang agnostik asli mesti menentangnya.</p>
<p><strong>Apakah orang-orang agnostik menganggap sains dan agama tak mungkin bersahabat?</strong></p>
<p>Jawabannya kembali pada apa yang dimaksud dengan &#8220;agama&#8221;.  Jika hanya berarti sistem etika,  agama dapat akrab dengan sains.  Jika hanya berarti sistem dogma,   yang dianggap sebagai mutlak benar,  maka hal itu tidak cocok dengan semangat ilmiah/sains yang menolak diterimanya kenyataan tanpa bukti,  dan juga menganggap bahwa kepastian mutlak jarang sekali tercapai.</p>
<p><strong>Bukti apa yang dapat meyakinkan Anda bahwa Tuhan itu ada?</strong></p>
<p>Saya kira jika saya dengar suara dari langit yang memprediksi segala sesuatu yang akan terjadi pada diri saya dalam waktu 24 jam mendatang,  termasuk kejadian-kejadian yang sangat tidak mungkin,  dan dan jika hal-hal itu terjadi betul,  barangkali saya dapat diyakinkan paling tidak terhadap adanya intelegensia superhuman. Dapat saya bayangkan bukti-bukti lain sejenis yang mungkin dapat meyakinkan saya,  namun sampai kini   setahu saya tak ada bukti demikian.</p>
<p>Ryan Breedon untuk Philosophy for Everyone/Filsafat untuk<br />
Siapapun,  24 Agustus 1997.</p>
<p>Diterjemahkan oleh Setya A. Sis<br />
(Sumber Milis Diskusi SARA)<br />
dikutip (kopi paksa) dari <a href="http://www.geocities.com/area51/dunes/5591/main.htm">sini</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hawarihadi.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hawarihadi.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hawarihadi.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hawarihadi.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hawarihadi.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hawarihadi.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hawarihadi.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hawarihadi.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hawarihadi.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hawarihadi.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hawarihadi.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hawarihadi.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hawarihadi.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hawarihadi.wordpress.com/140/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hawarihadi.wordpress.com&amp;blog=1403689&amp;post=140&amp;subd=hawarihadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/06/15/apakah-agnostik-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c2a6e38a58006996dc67495f7c857c2d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">age</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Link Dukung Prita lainnya</title>
		<link>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/06/03/137/</link>
		<comments>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/06/03/137/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2009 03:59:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hawarihadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hawarihadi.wordpress.com/2009/06/03/137/</guid>
		<description><![CDATA[dari sini Tulisan saya terbukti sudah hari ini, : “Bahkan jika tidak hati-hati malah membuka risiko yang tak kalah besarnya berupa perlawanan massal oleh konsumen yang tak rela konsumen lainnya dipenjara”. Hari ini, Selasa 2 Juni 2009, sudah ada seruan &#8230; <a href="http://hawarihadi.wordpress.com/2009/06/03/137/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hawarihadi.wordpress.com&amp;blog=1403689&amp;post=137&amp;subd=hawarihadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>dari <a href="http://www.virtual.co.id/blog/internet-marketing/perusahaan-dan-merek-vs-konsumen-online/">sini</a></p>
<p>Tulisan saya terbukti sudah hari ini, : “Bahkan jika tidak hati-hati malah membuka risiko yang tak kalah besarnya berupa perlawanan massal oleh konsumen yang tak rela konsumen lainnya dipenjara”.</p>
<p>Hari ini, Selasa 2 Juni 2009, sudah ada seruan para blogger untuk membebaskan Prita.</p>
<p>1. <a href="http://ndorokakung.com/2009/05/28/omni-pecas-ndahe/">Seruan Pecas Ndahe</a>.</p>
<p>2. <a href="http://ladybugfreak.wordpress.com/2009/06/02/ibu-prita-dan-ketidakadilan/">Ibu Prita dan Ketidakadilan</a>.</p>
<p>3. <a href="http://venus-to-mars.com/2009/06/01/diam-atau-lawan/">diam atau lawan</a></p>
<p>4. <a href="http://tikabanget.com/2009/06/01/satu-lagi-korban-uu-ite-ituh/">apakah sayah akan ikut dituntut seperti bu prita ituh..</a></p>
<p>5. <a href="http://restlessangel.wordpress.com/2009/06/01/ibu-prita-omni-internasional-dan-kesadaran-konsumen/">Ibu Prita, Omni Internasional, dan Kesadaran Konsumen</a></p>
<p>Saya menduga akan lebih banyak lagi blogger yang menulis seruan sejenis.</p>
<p>Selain itu, perlawanan publik juga merembet ke social media.<br />
Di Facebook pun kini mereka menggalang DUKUNGAN BAGI IBU PRITA MULYASARI, PENULIS SURAT KELUHAN MELALUI INTERNET YANG DIPENJARA.</p>
<p>Selain itu, terbentuk pula gerakan Say No To RS OMNI Internasional Tangerang.</p>
<p>Perlawanan publik terhadap RS Omni Tangerang mulai terjadi. Produsen vs. Konsumen via online memasuki babak kedua, karena publik secara horisontal mulai ikut dalam arena pertempuran.</p>
<p>Perlawanan publik seperti ini memang tidak akan mempengaruhi keputusan hukum. Namun upaya RS Omni untuk mengatasi masalah ini dengan jalan legal saja, tanpa memperhatikan pendekatan-pendekatan lain, jelas fatal, bahkan cenderung memperparah, citra perusahaan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hawarihadi.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hawarihadi.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hawarihadi.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hawarihadi.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hawarihadi.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hawarihadi.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hawarihadi.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hawarihadi.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hawarihadi.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hawarihadi.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hawarihadi.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hawarihadi.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hawarihadi.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hawarihadi.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hawarihadi.wordpress.com&amp;blog=1403689&amp;post=137&amp;subd=hawarihadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/06/03/137/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c2a6e38a58006996dc67495f7c857c2d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">age</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Prita (lagi)</title>
		<link>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/06/03/prita-lagi/</link>
		<comments>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/06/03/prita-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2009 03:35:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hawarihadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hawarihadi.wordpress.com/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[Oalah. Ada apa gerangan? Bagaimana asal muasal perkara ini? Koran Tempo hari ini memberitakan ada seorang ibu rumah tangga bernama Prita Mulyasari yang dibui Prita Mulyasari, ibu dengan dua anak, ditahan sejak 13 Mei 2009 di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang &#8230; <a href="http://hawarihadi.wordpress.com/2009/06/03/prita-lagi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hawarihadi.wordpress.com&amp;blog=1403689&amp;post=134&amp;subd=hawarihadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://ndorokakungmu.files.wordpress.com/2009/05/prita.jpg?w=246&#038;h=300&#038;h=299" title="kliping tentang Prita" class="alignnone" width="246" height="299" />Oalah. Ada apa gerangan? Bagaimana asal muasal perkara ini?</p>
<p><a href="http://korantempo.com/korantempo/koran/2009/05/28/headline/krn.20090528.166458.id.html">Koran Tempo</a> hari ini memberitakan ada seorang ibu rumah tangga bernama Prita Mulyasari yang dibui Prita Mulyasari, ibu dengan dua anak, ditahan sejak 13 Mei 2009 di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang sebagai tersangka kasus pencemaran nama baik Rumah Sakit Internasional Omni, Alam Sutera, Serpong, Tangerang Selatan.</p>
<p>Prita, warga Vila Melati Mas Residence, Serpong, itu divonis terbukti melanggar Pasal 27 ayat 3 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang isinya, “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.”</p>
<p>Kenapa dia dianggap mencemarkan nama baik?</p>
<p>Kasus ini bermula dari surat elektronik Prita pada 7 Agustus 2008. Email itu berisi keluhannya ketika dirawat di Omni. Surat yang semula hanya ditujukan ke beberapa temannya itu ternyata beredar ke pelbagai milis dan forum di Internet, dan diketahui oleh manajemen Rumah Sakit Omni.</p>
<p>PT Sarana Mediatama Internasional, pengelola rumah sakit itu, lalu merespons dengan mengirim jawaban atas keluhan Prita ke milis dan memasang iklan di harian nasional. Belakangan, PT Sarana juga menggugat Prita, baik secara perdata maupun pidana, dengan tuduhan pencemaran nama baik.</p>
<p>Pengadilan Negeri Tangerang memutuskan perkara gugatan perdata nomor 300/PDG/6/2008/PN-TNG itu sekitar dua pekan yang lalu. Sedangkan persidangan pidana kasus ini akan digelar pekan depan.</p>
<p>Sampean juga bisa membaca lebih detail mengenai awal mula kasus Prita di situs <a href="http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/10/13/HK/mbm.20081013.HK128451.id.html">Majalah Tempo edisi Oktober 2008.</a></p>
<p>Terus terang saya merasa prihatin dan bersimpati pada Prita. Saya merasa dia tak layak dihukum seberat itu, bahkan sampai masuk penjara. Ini jelas teror bagi kita, konsumen, yang sering kali diperlakukan tak layak dan tak adil, tapi ketika mengeluh malah dituduh mencemarkan nama baik.</p>
<p>Tapi ada hikmahnya buat saya dan sampean. Tragedi yang dialami Prita bisa menimpa siapa saja, saya atau sampean. Kita semua. Kita harus bersatu melawan kesewenang-wenangan dan ketidakadilan semacam ini. Kita juga mesti semakin hati-hati. Musuh di luar sana semakin pintar. Kita juga harus semakin cerdik.</p>
<p>Nah, untuk menghindari jeratan pasal karet di UUITE itu, mungkin ada baiknya sampean mendengar nasihat <a href="http://arijuliano.blogspot.com/">Ari Juliano</a>, pengacara dan blogger kawan saya itu. Dia mengatakan bahwa sebagai blogger atau netizens kita tidak bisa menghindar dari tuntutan hukum atas segala aktivitas kita yang dipublikasikan. Kita hanya bisa mengurangi agar dampaknya tak terlalu fatal buat kita.</p>
<p>Caranya (diadaptasi dari blog Rama, <a href="http://dailysocial.net/post/tips-tips-meminimalisir-jeratan-uu-ite/">Daily Social</a>):</p>
<p>    * Jangan cuma cari perhatian dengan judul-judul yang terlampau provokatif untuk mengincar traffic dan sensasi. Sebagai blogger kita tentu bahagia ketika blog kita dikunjungi banyak orang, namun dengan teknik seperti ini bisa-bisa menjadi bumerang untuk kita.<br />
    * Fokus terhadap masalah yang sampean alami atau keluhkan, dan bukan terhadap orang/lembaganya. Seringkali pandangan subyektif atau kebencian terhadap seseorang bisa terpancar dalam tulisan di blog. Padahal untuk mendukung obyektivitas, sebagai blogger harus melihat ke gambaran yang lebih besar yaitu masalahnya, bukan orangnya.<br />
    * Jangan hanya mengritik, tapi berikan juga solusi. Kritik tentu boleh saja, tetapi ada bedanya antara kritik yang membangun dan yang menjatuhkan. Kritik yang menjatuhkan rawan jeratan pasal-pasal dari UU-ITE. Sampaikan kritik dengan bahasa yang santun. Sodorkan alternatif solusi agar kritik sampean bisa diterima dengan lapang.<br />
    * Jangan segan minta maaf. Seringkali blogger yang sudah menulis tentang sebuah kritik atau masukan enggan meminta maaf meskipun sudah terbukti bahwa kritik atau keluhannya ternyata salah. Nah, sebaiknya jangan terlalu angkuh dan enggan meminta maaf.<br />
    * Freedom of speech pasti disertai freedom of response. Jadi kita harus siap menerima masukan, kritik, atau keberatan pembaca.</p>
<p>&gt;&gt; Selamat hari Kamis, Ki Sanak. Apa yang akan sampean lakukan seandainya mengalami kasus yang sama dengan Prita?</p>
<p>&gt;&gt; Email Prita yang bikin heboh itu bisa dilihat <a href="http://suarapembaca.detik.com/read/2008/08/30/111736/997265/283/rs-omni-dapatkan-pasien-dari-hasil-lab-fiktif">di sini</a>.</p>
<p>asalnya dari <a href="http://ndorokakung.com/2009/05/28/omni-pecas-ndahe/">sini</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hawarihadi.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hawarihadi.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hawarihadi.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hawarihadi.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hawarihadi.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hawarihadi.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hawarihadi.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hawarihadi.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hawarihadi.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hawarihadi.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hawarihadi.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hawarihadi.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hawarihadi.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hawarihadi.wordpress.com/134/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hawarihadi.wordpress.com&amp;blog=1403689&amp;post=134&amp;subd=hawarihadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/06/03/prita-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c2a6e38a58006996dc67495f7c857c2d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">age</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ndorokakungmu.files.wordpress.com/2009/05/prita.jpg?w=246&#038;h=300" medium="image">
			<media:title type="html">kliping tentang Prita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PRITA, DUNIA SUNGGUH AROGAN&#8230;</title>
		<link>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/06/03/prita-dunia-sungguh-arogan/</link>
		<comments>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/06/03/prita-dunia-sungguh-arogan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2009 03:31:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hawarihadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hawarihadi.wordpress.com/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[SUDAH tiga pekan wanita itu meringkuk dalam ruang pengap dan dingin tahanan. Ia hanya seorang wanita yang mengeluh. Dalam ruang hidup tak berbatas, kita seperti tercekik oleh sebuah ketakutan dan arogansi institusi kesehatan macam rumah sakit. Di sisi lain hukum &#8230; <a href="http://hawarihadi.wordpress.com/2009/06/03/prita-dunia-sungguh-arogan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hawarihadi.wordpress.com&amp;blog=1403689&amp;post=132&amp;subd=hawarihadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SUDAH tiga pekan wanita itu meringkuk dalam ruang pengap dan dingin tahanan. Ia hanya seorang wanita yang mengeluh. Dalam ruang hidup tak berbatas, kita seperti tercekik oleh sebuah ketakutan dan arogansi institusi kesehatan macam rumah sakit.<br />
Di sisi lain hukum lalu gampang jadi instrumen arogansi itu. Ia tidak lagi memberikan rasa adil, tapi justru sebaliknya: sebuah pelecehan terhadap pengekspresian hidup. Prita berada dalam konstelasi seperti itu.<br />
Ia hanya wanita. Ia mengeluh betapa sebuah rumah sakit yang birokratis bukannya memberikan dorongan rasa nyaman dan penyembuhan, namun justru membuat penderitaan baru. Ia hanya menulis email, dan entah kenapa ia lalu dipenjara.<br />
Prita ditahan di LP tersebut sejak 13 Mei 2009 karena dituduh melakukan pencemaran nama baik terhadap RS Omni International Tangerang lewat internet. Hal itu berawal dari email Prita yang dikirim kepada teman-temannya seputar keluhannya terhadap RS tersebut, yang kemudian menyebar ke publik lewat milis.<br />
Prita merasa dibohongi dengan diagnosa demam berdarah saat dirawat di RS Omni pada pertengahan Agustus 2008. Belakangan dokter di RS tersebut mengatakan dia hanya terkena virus udara. Tak hanya itu, dokter memberikan berbagai macam suntikan dengan dosis tinggi, sehingga Prita mengalami sesak nafas.<br />
Saat hendak pindah ke RS lainnya, Prita mengajukan komplain karena kesulitan mendapatkan hasil lab medis. Namun, keluhanya kepada RS Omni itu tidak pernah ditanggapi, sehingga dia mengungkapkan kronologi peristiwa yang menimpanya kepada teman-temannya melalui email dan berharap agar hanya dia saja yang mengalami hal serupa. Pihak Omni telah menjawab tulisan Prita itu lewat milis dan iklan di media cetak.<br />
Prita dijadwalkan disidang secara pidana pada Kamis 4 Juni mendatang di Pengadilan Negeri Tangerang setelah kalah dalam sidang perdata. Perempuan yang bekerja di sebuah bank swasta ini dijerat dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dengan hukuman maksimal 6 tahun penjara atau denda Rp 1 miliar. Sebuah aplikasi perangkat hukum yang sungguh tidak masuk akal!!!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hawarihadi.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hawarihadi.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hawarihadi.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hawarihadi.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hawarihadi.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hawarihadi.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hawarihadi.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hawarihadi.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hawarihadi.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hawarihadi.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hawarihadi.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hawarihadi.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hawarihadi.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hawarihadi.wordpress.com/132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hawarihadi.wordpress.com&amp;blog=1403689&amp;post=132&amp;subd=hawarihadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/06/03/prita-dunia-sungguh-arogan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c2a6e38a58006996dc67495f7c857c2d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">age</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bebaskan PRITA</title>
		<link>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/06/03/bebaskan-prita/</link>
		<comments>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/06/03/bebaskan-prita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2009 03:29:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hawarihadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hawarihadi.wordpress.com/2009/06/03/bebaskan-prita/</guid>
		<description><![CDATA[Obrolan hangat di kalangan &#8216;aktivis&#8217; milis atau pun blogger saat ini adalah Prita Mulyasari. Ibu dua anak yang masih kecil-kecil itu ditahan di LP Wanita Tangerang sejak 13 Mei lalu dengan tuduhan pencemaran nama baik RS Omni International Tangerang lewat &#8230; <a href="http://hawarihadi.wordpress.com/2009/06/03/bebaskan-prita/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hawarihadi.wordpress.com&amp;blog=1403689&amp;post=131&amp;subd=hawarihadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Obrolan hangat di kalangan &#8216;aktivis&#8217; milis atau pun blogger saat ini adalah Prita Mulyasari. Ibu dua anak yang masih kecil-kecil itu ditahan di LP Wanita Tangerang sejak 13 Mei lalu dengan tuduhan pencemaran nama baik RS Omni International Tangerang lewat internet.<br />
ADVERTISEMENT</p>
<p>Penahanan Prita yang diadili 4 Juni mendatang itu dinilai berlebihan. Alhasil, &#8216;penggiat&#8217; internet pun ramai-ramai membelanya, termasuk lewat Facebook.</p>
<p>Support itu bertajuk &#8220;DUKUNGAN BAGI IBU PRITA MULYASARI, PENULIS SURAT KELUHAN MELALUI INTERNET YANG DIPENJARA&#8221;. Hingga pukul 11.30 WIB, Selasa (2/6/2009) grup ini telah memiliki 5.910 member. Grup ini menargetkan mengumpulkan 7.500 member.</p>
<p>Aspirasi kelompok perjuangan ini adalah &#8216;Bebaskan Ibu Prita Mulyasari Dari Penjara dan Segala Tuntutan Hukum&#8217; dengan 3 poin:</p>
<p>1. Cabut segala ketentuan hukum pidana tentang pencemaran nama baik karena sering disalahgunakan untuk membungkam hak kemerdekaan mengeluarkan pendapat</p>
<p>2. Keluhan/curhat ibu Prita Mulyasari thd RS Omni tidak bisa dijerat dengan Pasal 27 ayat (3) UU ITE</p>
<p>3. Keluhan/curhat Ibu Prita Mulyasari dijamin oleh UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen</p>
<p>4. RS Omni hendaknya memberikan HAK JAWAB, bukan melakukan tuntutan perdata dan pidana atas keluhan/curhat yg dimuat di suara pembaca dan di milis2</p>
<p>Kisah tragis Prita ini dimulai ketika Prita menulis keluhannya lewat email ke sejumlah rekannya pada medio Agustus 2008 setelah komplainnya kepada pihak RS tidak mendapat respons memuaskan. Isinya kekesalan Prita pada pelayanan RS Omni yang telah dianggapnya telah membohonginya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Prita juga menyesalkan sulitnya mendapatkan hasil lab medis.</p>
<p>Tak dinyana, tulisan Prita menyebar ke berbagai milis. Pihak RS Omni telah menjawab tulisan Prita lewat milis dan memasang iklan di media cetak. Tak cukup itu, RS itu juga memperkarakan Prita ke pengadilan. Prita dijerat dengan UU Informasi dan Traksaksi Elektronik (ITE) dengan hukuman maksimal 6 tahun atau denda Rp 1 miliar.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hawarihadi.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hawarihadi.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hawarihadi.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hawarihadi.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hawarihadi.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hawarihadi.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hawarihadi.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hawarihadi.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hawarihadi.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hawarihadi.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hawarihadi.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hawarihadi.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hawarihadi.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hawarihadi.wordpress.com/131/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hawarihadi.wordpress.com&amp;blog=1403689&amp;post=131&amp;subd=hawarihadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/06/03/bebaskan-prita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c2a6e38a58006996dc67495f7c857c2d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">age</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ini aku, hamba dan penciptamu</title>
		<link>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/06/02/ini-aku-hamba-dan-penciptamu/</link>
		<comments>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/06/02/ini-aku-hamba-dan-penciptamu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 01:38:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hawarihadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hawarihadi.wordpress.com/2009/06/02/ini-aku-hamba-dan-penciptamu/</guid>
		<description><![CDATA[semesta tak pernah hening.. semesta terlalu berisik oleh dentingan suara mesin lelehan besi berbisik rantai yang bergemerincing Dug dag .. Dug dag! Palu itu kian keras menghantam Paku itu kian dalam menghujam Dug dag! Dug dag! kelak kan ku gantikan &#8230; <a href="http://hawarihadi.wordpress.com/2009/06/02/ini-aku-hamba-dan-penciptamu/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hawarihadi.wordpress.com&amp;blog=1403689&amp;post=130&amp;subd=hawarihadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>semesta tak pernah hening..<br />
semesta terlalu berisik oleh dentingan suara mesin<br />
lelehan besi berbisik<br />
rantai yang bergemerincing</p>
<p>Dug dag .. Dug dag!</p>
<p>Palu itu kian keras menghantam<br />
Paku itu kian dalam menghujam</p>
<p>Dug dag! Dug dag!</p>
<p>kelak kan ku gantikan kalian<br />
mahluk rasa yang sangat lemah<br />
kelak kan tiada setan<br />
hanya mesin berdiri mengadah</p>
<p>Dug dag! Dug dug dag!<br />
Dug dag! Dug dug dag!</p>
<p>kini ku makin cepat berpacu<br />
kini makin tak ada ragu<br />
kini ku lacak dirimu<br />
ini aku, hamba dan penciptamu</p>
<p>Dug dag! Dug dag!<br />
Dug dag! Dug dug dag!<br />
Dug dag! Dug dag!<br />
Dug dag! Dug dug dag!</p>
<p>Dess!!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hawarihadi.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hawarihadi.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hawarihadi.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hawarihadi.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hawarihadi.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hawarihadi.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hawarihadi.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hawarihadi.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hawarihadi.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hawarihadi.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hawarihadi.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hawarihadi.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hawarihadi.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hawarihadi.wordpress.com/130/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hawarihadi.wordpress.com&amp;blog=1403689&amp;post=130&amp;subd=hawarihadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hawarihadi.wordpress.com/2009/06/02/ini-aku-hamba-dan-penciptamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c2a6e38a58006996dc67495f7c857c2d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">age</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
