Mio-ku berumur 30 hari Lenyap

by hawarihadi

Dear Reader,

Mau Cerita aja tentang raibnya tungganganku, si Memet Musfaidah, seorang skubek Mio keluaran 2008 semoga bermanfaat.

 

Ceritanya dimulai dari pengumuman bahwa sekelompok teman yang bergabung untuk mengekspresikan diri dengan bermusik (baca: band) bernama eyeliner   lolos seleksi  festifal musik indie LA Lights Indiefest dan harus perform audisi kemarin tangal 21 Mei 2008. Karena Harus standby jam 07.30 di RRI Jakarta ( deket monas ) aku pulang cepat, memarkir motor di teras seperti biasa dan pergi tidur. Jam Lima terbangun untuk siap siap berangkat. Dan ternyata setelah melihat keluar… Jeng jeng jeng.. si Mio Hitam itu tal lagi berada di tempatnya, hilang, lenyap tak berbekas. Sedikit panik dan lemas tapi pasrah, melagkah kembali ke kamar. Langsung cuci muka lalu mengungu teman-teman berangkat ke jakarta.

Audisi tidak bisa di tunda, maka menyempatkan diri mampir di kantor PolWil Bogor karena kebetulan dekat dengan stasiun kereta. Didampinngi Do  aku menghadap ke petugas piket. Setelah dipersilahkan duduk dan memberitahu perihal menjadi korban curanmor, si Petugas piket menyalahkan kami, “Mustinya kalian datang ke polsek Bogor tengah, karena TKP nya di si\tu. Mereka lebh  ngerti medannya”. “yaaah pak ga bisa di urus disini? buatkan surat laporannya saja deh” melasku. Polisi itu mungin ga tega dan malah mengajak ngobrol tentang peristiwa. Saya pikir itu wawancara. Beliau pun melai sibuk mengetikkan nama ku di komputernya. Sampai pada pertanyaan “BPKB nya di bawa?” kata si petugas piket. Kujawab “ Tidak pak, ini motor cicilan, belum lunas, belum ada BPKB nya”. “Oooooooo kalo gitu kalian ke leasing nya dulu, minta surat keterangan masih ditahan BPKB nya”. “grrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr” geramku. “bukannya dari tadi nanyanya”umpatku dalam hati. Ya sudah, kami keluar kantor polisi tanpa hasil. Berangkatlah kami ke jakarta. Cerita audisinya nanti aja yaaaa…

09.00

Aku bangun dan berniat mengurus Surat lapor tersebut ke kepolisian, tapi ternyata masih harus ke Kantor Imigrasi ngurusin paspor. Dengan tiga kali naik angkot, sampailah aku di Kantor Imigrasi. Orang yang harus kutemui belum datang. Duduk manis aku menonton tivi buram di bangku antrian. Diselang antrian, ingin hati menyempatkan diri tuk mencari informasi bagaimana seharusnya prosedur melaporkan kehilagan ini. Bah! bagaimana cara? HP ku yang keren ini sejak seminggu yang lalu tak isa lagi konek internet. 

Old School way saja lah. Ku telepon penerangan telkom 108. Mbak yang suaranya ketus menjawab “Ada yang bisa saya bantu?”. “Saya minta nomor kepolisian Bogor Tengah, Mbak”. “Tungu sebentar!” katanya. Tidak lama ku menunggu, si Mbak itu memberikan nomornya. “Ada nomor lain?” tanyaku. Kemudian dia memberikan satu lagi nomornya. Ku coba menelpon nomor pertama, nada sibuk yang kuterima. Selanjutnya nomor berikutnya, ada nada panggil, cukup senang ku mendengarnya, dan diangkat..” halo, Ji em ai!” sapa yang di ujung sana. “Bukan kantor polisi Bogor Tengah, Mbak?” kutanya. “Bukan, Mas. Mungkin salah nomor.” Setelah mengucapkan terima kasih, kembali aku menelepon 108 nya telkom. Ada harapan yang menjawab adalah Mbak ketus yang tadi, agar isa ku ketuskan kembali. Ngasih nomor kok ngaco! Ternyata yang menjawab Mbak-mbak yang baik hati. Menjawab telepon dengan manisnya.. aiih.. tidak jadi ketus aku. Diyakinkan aku, tidak ada nomor kantor polisi Bogor Tengah. Hanya kantor polisi Bogor, entah bogor yang mana. “Lho, mbak yang tadi kok ga bilang gitu ya, bikin resah saja”. Tapi masih 2 deret nomor yang sama yang diberi. Berarti datanya yang ngaco atau ga update. Ah menyusahkan saja! Aku menjajal nomor pertama masih tak berhasil, kemudian teringat.. aku kan di kota Bogor yang bernomor area 0251. Kutambahkan 0251 didepan 108. Kembali seorang mbak-mbak yang menjawab. Tidak ketus, tidak manis. Hambar rasanya. Kali ini nomor yang diberikan beda. Hanya satu nomor, dan Mbak Hambar itu yakin ini nomor Kantor Polisi Bogor Tengah. Aku pun yakin, karena yang ditanya adalah penerangan Telkom di Bogor. Tapi membuat satu pertanyaan, masa sih database telepon di indonesia belum online? kan katanya telkom adalah perusahaan telekomunikasi tertua dan terdepan? Cuuuuhhh.. gembel! dasar tukang kabel…..! 

10.00

Ku telepon nomor tadi, ada nada sambung. Bapak polisi J yang menerimanya. Beliau sedang piket, sepertinya. Kuceritakan perihal pecurian motorku kemarin, lengkap dengan kapan kejadiannya serta bagaimana kejadian, dan permintaan polisi piket kemarin di Polwil tentang BPKBnya. Pak J bilang, “Ya benar! Harus ada surat keterangan BPKB nya. Ke leasing dulu minta, nanti baru kesini”. jawabnya tegas, membuat ku yakin untuk ingin segera berangkat ke leasing.

Tapi antrian foto dan sidik jari masih lama, masih ada 7 orang lagi sebelum aku, satu orang cewek tionghoa berbadan porporsonal, dan kulit yang mulus, membuat petugas imigrasinya cengar-cengir, satu orang Mahasiswa Jayapura dengan rambut keriting ajaibnya, 2 orang bapak-bapak ukuran standar, dan Satu mahasiswi berjilbab lebar yang tak membuatku ingin melihat lagi lebih lama lagi, lengkap dengan satu ibu centil dengan anak perempuan yang kaya bola bekel, ga bisa diem. mengingatkanku akan peran di sinetron  Laki-laki takut istri, siapa tu, anak dan istrinya mas Karyo? hehehehe. Huh!! di imigrasi baru beres hampir jam makan siang. Lapar, mengingat belum sarapan! Tapi biarlah, langsung berangkat ke kantor Leasing Adira Finance untuk meminta surat keterangan kredit dan BPKB..

bersambung…