Mio-ku berumur 30 hari Lenyap – Part #2

by hawarihadi

11.30

Menghadap staf asuransi, ku duduk di pojok sebuah gedung yang awalnya adalah dua ruko yang di jebol dijadikan satu ruangan yang cukup luas. Di Kawasan ini memang banyak showrum dan perniagaan otomotif dari service mesin, asesoris, audio, showroom dan lainnya. Perusahaan kredit tidak kalah perannya. Mengunggu Mas Dani — nama petugas asuransi itu — melayani nasabah yang lain, iseng mataku memandang tata letak gedungnya. “Bukan tempat impian tuk menjadi karyawannya” pikirku. Tak lama datanglah giliranku. Ku ulangi lagi aduanku pada si Mas gemuk ini. Sangat koorperatif bila dibandingkan dengan polisi tadi. Ini baru pelayanan!. Aku diterangkan syarat pengajuan klaim asuransi, dan juga berapa banyak yang akan aku terima, lumayan bosan juga. Tapi kudengarkan dengan seksama. karena pegawi asuransi terkenal pintar dalam bermain kata-kata, seperti halnya pengacara dan semua pihak yang mengandalkan komunikasi dalam proses menuju tujuannya. Pada intinya, pelaporan tidak boleh lebih dari 72 jam setelah perkara. Aku dianjurkan untuk segera membuat laporan kehilangn ke kepolisian. Setelah kuterangkan kasus tentang permintaan BPKB, dengan sigap dia mencetak surat keterangan motor itu belum berBPKB karena masih ditahan leasing sampai  cicilan selesai. Mengucap selamat jalan, ia menutup pertemuan kami.

12.30

Tengah hari panas, ku beranjak dari gedung leasing yang ber-AC, menunggu angkot di pinggir jalan ditemani tukang lumpia goreng yang aromanya sangat mengoda. Jadilah ku pesan satu porsi lumpia goreng dan martabak telur mini yang disiram dengan bumbu kacang dan cuka. “Lumayan! dikala lapar seperti ini” pikirku. Tak lupa teh botol dingin ikut andil dalam pembalasan dendam gerahku. Setelah habis, segera kubayar pesananku. Beberapa saat kemudian aku sudah berada di dalam angkot jurusan terminal yang harus disambung lagi beberapa kali Untuk mencapai Polsek Bogor Tengah.

Sesampainya di Polsek Bogor Tengah aku disambut oleh kerumunan orang-orang yang mungkin sedang melaporkan kasus-kasus. Ramai sekali! Aku lasung mendesak masuk dan melapor kepada petugas piket “Pak saya hendak melaporkan kehilangan sepeda motor”. “Oh silahkan duduk di dalam” kata seorang polisi berseragam.” Baru aku menempatkan pantat di kursi, Polisi yang satu lagi berkata agak tegas “Adik tunggu di luar saja!”. Ah gimana sih mereka ini kok ga kompak. Aku keluar lalu mendapati polisi yang menerima teleponku tadi, terlihat dari nama yang tertera di bajunya, “J”. Kuulangi lagi aduanku, “Pak saya yang melapor lewat telepon tadi”. “Ya, tunggu saja disini”. Ternyata benar, aku harus tunggu di luar, membelakangi mereka yang tengah melapor, menghadap televisi bersiaran infotainment yang tidak menarik minatku. Cukup lama, akhirnya ku dipangil ke dalam. 

“Kapan kejadiannya, Mas” sapa polisi pertama yang tadi menyuruhku keluar. “Kemarin subuh, Pak” jawabku. “Wah, kalo kemarin mah sudah lewat! harusnya Anda lapor begitu tahu kejadian, sehinga kami langsung dapat meluncur ke Tekape! Kalau begini Anda harus langsung ke Polresta, sana!” lantangnya ia berbicara dengan bahasa ala polisi yang biasa ku dengar di tontonan Buser. “Saya sudah ke polwil sebelumnya kemarin dan diarahkan kesini. Dan juga tadi saya telah berbicara dengan bapak J dan membenarkan saya harus kesini” ujarku. Sementara Bapak J yang dibicarakan hanya mesem-mesem ga jelas. Mustinya saya dibela. Ini kan karena petunjuk dia! Eh, dia diam saja. Mungin si bapak yang bicara dengan ku lebih senior ataukah memang lebih benar sehinga dia diam seribu satu bahasa. “Tidak bisa diurus disini, Pak? Sementara ini saya hanya perlu surat lapor saja kok”. melasku. “Pokoknya Kamu harus ke polwil!” masih tidak enak intonasi bahasanya. Lagian mungin memang tidak perlu enak. Mereka harus banyak berhadapan dengan penjahat, bukan melayani tamu seperti aku. Tapi aku geram. Bagaimanapun aku adalah pelanggan. Walau bukan dalam urusan niaga, aku harus diperlakukan dengan baik. Hati ku tidak terima. Ingin ku ingat namanya untuk suatu saat melaporkan pada dunia bahwa pelayanan polisi sangat buruk terhadapku. Entah bagaimana dengan yang lain.Tiba-tiba datang seorang polisi berperawakan tinggi, besar dan putih dengan seragam seperti pembawa motor. Dengan sopan ia menerangkan “Toh Adik harus ke Polresta juga nanti untuk interogasi lebih lanjut. Ada baiknya langsung kesana saja, yah!”. Hilang kesalku seketika. Kalo bicaranya gitu kan lebih enak. Segera ku pamit tanpa melihat polisi yang pertama tadi. Berangkat ke Polresta, tidak cukup sekali  angkot tentunya.