Perjalanan ke Phnom Penh, Kamboja

by hawarihadi

Sungguh hal yang ga lazim, aku, yang notabene menikah 7 hari lagi, malah berangkat ke Pnom Penh, Cambodia demi gawean selama 5 hari. Jadi ketika pulang nanti tinggal istirahat 1 hari, dan esoknya menikah!

Yang lebih bikin canggung lagi ini adalah pertama kalinya aku pergi ke luar Indonesiaku tercinta ini. Untungnya aku tidak sendiri, ada teman kantor yang berpengalaman sebelumnya.

Berangkat ke airport
Diantar oleh CPW (begitu aku menyebutnya sekarang – sampai resmi nanti) berangkat dengan Damri dari Bogor ke airport Cengkareng, menunggu sesaat di resto fast food, dan tibalah waktu kami berpisah saat check in. Ku kecup keningnya, dan ia hilang dibalik kerumunan. Temanku sudah menungu di dalam.

Uang = layanan lebih (lebih dilayani)
Check in ku ter-deskriminasi oleh kelas. Salah loket teryata. “Ini untuk kelas bisnis, Pak” ujar nona di balik meja. Jadilah aku antri di loket yang ditunjukkan dengan antrian yang lebih panjang. Huh! Lagi lagi uang berbicara.

Diperiksa mulu
Setelah itu ku lewati pemeriksaan demi pameriksaan. Banyak sekali! Repot sekali mau ke negeri orang. botol air mineralku lupa dikeluarkan, ditahan petugas. Hehe. Jadi malu. Dasar orang udik.

Ongkos mahal
Sesampai nya di gate, Pesawatnya sudah menunggu, dan terhubung melalui terowongan.Apa yah namanya? Singapore Airlines maskapainya. Menurut tiket yang kupegang, total harga bolak balik adalah 1500 USD. Sekitar 13 jutaan. “Brengsek! Mahal amat sih gini aja! Dan masih kelas ekonomi pula!”.

Pesawatku: gede
“Memang pesawat yang besar, pantas mahal!” pikirku seperti tukang daging. Bukan pesawat cupu – kecil, dekil dan keselamatan yang harus banyak dipikirkan lagi – seperti penerbangan domestik yang biasa kutumpangi. Entah jenis apa pesawat ini. Melalui si terowongan aku berjalan menyebrang ke pesawat. Ditunjukkan tempat dudukku didekat jendela, barisan belakang sayap. Lumayan.

Take off
Pesawat take off menuju Singapore, dimana nanti aku transit, ganti pesawat Silk Air menuju Phnom Penh. Ingin kuambil gambar landasan dari jendela dengan SLR dengan kecepatan rendah. Terbayang nanti hasilnya. Sayap kokoh dengan latar blur terseret kecepatan 500km/h. Tapi ga berani, takut diomelin pramugari semok itu. Dasar orang udik! Setelah stabil, baru kuabadikan teluk jakarta dari atas. Amatir! Gambarnya ga bagus. Hehe.

Gorengan dan anggur?
Ga lama mulai tercium semerbak wangi gorengan. “Masa ongkos 6 juta ada tukang gorengan? Dasar idung kampung! Ternyata hidangan mulai diedarkan. Si semok nyerocos ngomong inggris nawarin makan. “Mau teh, kopi apa anggur?” dia nanya. Pengen sih nyobain anggur, tapi ga enak ama temenku, dan takut perut berontak mules. Repot buangnya di pesawat, ga tau caranya. Dasar Udik!. “Just coffee, Please” putusku, bimbang.

Ternyata semerbak gorengan itu berasal dari menu yang di hidangkan secara massal. Tuna goreng tumis kunyit, capcai sawi jagung dan nasi yang dihangatkan di microwave. Aku cicipi sedikit. Hambar rasanya. Karena mulai lapar, ku sikat sampai habis kecuali sayurannya yang tidak enak. Tenggorokanku tidak cukup dibasuh dengan secangkir kopi krim yang rasanya hampir manis, dibanjur lagi dengan lemonade. Lumayan, lah hidangannya. Biasanya kalo penerbangan domestik cuma dikasih aer doang segelas.

Changi nan changgih
Landing di Changi, kembali jadi orang udik. Idih Cuangggihh begete. Jeprat-jepret dikit untuk nunjukin ke yang belum pernah liat. Sadar norak, kaya turis. Lha emang turis. kapan lagi norak begini? Kan Changi adalah salah satu bandara termewah di dunia. Muter-muter lihat-lihat. Betaah.. Andai punya rumah dan kantor di sini. Kalo mo lengkap ya cari tau sendiri, atau tanya paman google.

Ke smoking area untuk berasap sebentar. Sebatang rokok, cukuplah. Karena menurut jadwal boarding kami masih 90 menit lagi, kami cari tempat minum dan WiFi untuk menunggu. Cappucino dan Lemonade, 15 SGD.

Kunyalakan WiFi di PDA butut ku, terditeksi banyak hotspot di sekitar. Aku lihat pesan, aku mendapat SMS dari Singtel untuk registrasi wifi, kirim dial *186 dan dibalas dengan user ID dan password WiFi-nya. Kuurungkan niatku berselancar dengan PDA. Gesit tanganku mengeluarkan MacBook Pro, login ke wifi, download email dan log on to my blog.

Jempling!!! Dahsyat cepatnya, bahkan website yang full image pun terbuka dengan cepat. Waa! Mau dong koneksi gini di rumah dan di kantor. Klik, Pling! Klik, Pling! Wuzz. Dalam lima menit 150 email di gmail terdownload. Ku baca beberapa, baru teringat untuk posting tulisanku ini, atau download missing sync versi baru sekitar 40 MB.

Berlarian di airport
Belum juga mulai posting, Mas Dwi, teman kantorku bilang bahwa sudah seharusnya boarding dan sudah panggilan terakhir, dengan bingung kami bergegas pergi ke gate 56 yang jaraknya lumayan jauh. Dalam hati masih bingung. waktu indonesia jm 14:40, waktu Singapore 15:20. Boarding kami 16:40. Harusnya masih ada waktu 1 jam-an untuk bersantai menikmati mewahnya airport Changi. Kami berlarian menuju gate 56. sesampainya disana, ternyata masih santai. Disodori formulir visa, mengisinya, lalu berjalan di terowongan menuju pesawat Silk Air – keringetan.

Kok kecil? Pesawatnya menciut? Lalu ini siapa? Sleeping beauty?
Pesawatnya lebih kecil dan sempit. “Kok yang jaraknya lebih jauh, pesawatnya lebih jelek?” pikirku kecewa. Kecewaku bertambah ketika “window seat”ku ditempati orang. Seorang wanita, mungkin sebayaku. Sama sekali tidak cantik. Piiih.. Dia pake gaya lama ala penumpang kereta Jabotabek: Pura-pura tidur, pake selimut pula! Tapi cara itu berhasil. Aku malas membangunkannya hanya untuk berpindah tempat duduk. Mas Dwi hanya tertawa. Wanita sial!

Ga lama ia (pura-pura) bangun dari (pura-pura) tidurnya dan cekakak-cekikik dengan temannya di bangku seberang dan belakang dalam bahasa (mungkin) kamboja. Aku tebak-tebak artinya jadi kaya gini; “Hihihi, bener khan caraku untuk dapet duduk di jendela, harus pura-pura tidur, hihihi”. Brengsek!

Spageti = Mie ayam, Wine = pipis kuda!
Pesawat ini ga semewah yang membawaku ke singapore. Panas! Sempit! Kayanya sama seperti pesawatnya maskapai singa. Tapi ada bedanya dikit. Video screen memutarkan film Mr. Bean cartoon. Dan gerobak makanan mulai sibuk numpang lewat. Kali ini menunya ada dua pilihan. Nasi ikan atau spageti ayam. Tadi udah makan nasi ikan. Kini saatnya spageti. Terbayang spageti kaya yang biasa kupesan di Pijahat. Teryata… Salah! Spageti with chicken sama rasanya dengan mie ayam sekolahan. Hanya saja mie nya gede-gede. Plus wortel dan kacang polong. Dari pada sayang, tetep diabisin. Kembali pramugari nanya “Tea, coffee or wine, Sir?”. Mengingat sesal di pesawat sebelumnya, kujawab “Wine, please! White one”. Datang lah si wine ini. Puiiiih!…. Ga enak! Kok bisa sih bule minum cairan yang rasanya kaya pipis? Atau aku nya yang kampungan? Ya sudahlah. Toh kecewaku tertutup dengan es krim tiramisu bertabur kacang almond. Es krim lokal buatan singapore, dalam kemasan mangkok kertas itu tak habis ku makan. Kekenyangan dan ngantuk.

Tiba di Phnom Penh
Ketinggian pesawat menurun drastis. Kuping dan mataku terasa ditekan dan sedikit sulit bernafas lega akibat perbedaan tekanan udara. Sedikit lagi sampai. Di jendela sudah terlihat daratan Kamboja. Kota ramai denyan Olympic Stadium di tengahnya. Bangunannya ga ada yang tinggi dan bentuk jendela hampir sama.

Setelah urus visa, ambil bagasi, langsung ku menumpang taxi dengan harga flat USD 9 menuju hotel yang telah dipesan kantor pusat. Sekitar 30 menit ku nikmati pemandangan yang tidak biasa. Phnom penh seperti layaknya ibu kota negara; ramai. Bangunan dan ramainya jalan seperti kota Jakarta era 70 – 80 an. Ditambah banyaknya motor Honda supercup. Jadi ingat Juju. Kalo sempat ku belikan jok lucu khas motor kamboja untuknya. Bahkan mesin jika ada uang. Tapi lihat nanti kesempatannya.

Keadaan otomotif
Sedikit sekali motor keluaran baru disini. Kulilhat Honda Dream / Kharisma, Vario, Suzuki Smash, Mio hanya beberapa kali. Lagi lagi honda Supercup dan skuter-skuter aneh. Beda dengan mobil. Mungkin karena banyak bule, jeep SUV dan MPV berseliweran. Lexus, Pajero, Landrover, Hummer dan beberapa sedan Camry anyar.

Sesampainya di hotel kami istirahat, lihat jadwal untuk esok dan mandi. Berendam di air hangat sangat merelaxkan. Setelah itu shower air dingin agar segar.

Makan jamu lulur
Ternyata malam ini kami harus mencari makan sendiri. Ga mau pusing, hampiri resto berlabel halal yang ada di pinggir jalan raya terdekat. Sebelumnya kami lihat menu: everest, japanesse dan france. OK, sepakat kami masuk. Disambut dengan wangi rempah dan dupa, kami duduk di meja terdekat. Yang disodorkan oleh pramusaji hanya menu Everest, nama resto itu. Ternyata kumpulan masakan India, Nepal dan sekitarnya. Jangan harap ada daging sapi di menunya.

Aku pesan ayam panggang dan lemon soda, sedangkan mas Dwi pesan kari ikan dan lemon tea. Keduanya dengan nasi. “Cicipi, Ge!. Aku kemarin makan ini di Bangkok. Enak lho” Mas Dwi promosi. Aku seraya mencoba. “Iya, enak mas! Coba ayamku nih yang tampilannya kaya gado-gado!”. Setelah cicipi masakannya dia bilang “kok kaya makan jamu lulur, ya?”.

Ga ada yang ngudud
Aku dan mas Dwi pulang ke hotel. Mas dwi mo mandi. Aku mo ngerokok dulu di balkon hotel. Abisnya ga liat orang ngerokok di jalan. Warung yang jual rokok sih banyak. Takut itu adalah hal terlarang.Nanti ditangkep hansip kamboja. Hiyyy!

Bosan ngerokok sendirian, aku balik ke kamar. Ternyata teman sekamar ku itu masih mandi. Terpaksa menunggu di koridor. Lumayan lama. Akhirnya ia muncul. Aku masuk dan tiduran. Entah besok pertemuan macam apa yang akan kuhadiri. Mengingat-ingat perjalanan tadi, teringat CPW. Ku sms-an dulu lalu … Bobo.