Hari kedua di negeri orang

by hawarihadi

Kembung masuk angin
Hmpff. Hari ini penuh dgn agenda workshop. Nothing much to tell. Yang ada perutku kembung, kayanya karena kombinasi makanan yang buruk, ditambah kopi. Semuanya dipicu oleh sebutir buah lengkeng. Masuk angin, kata orang kampung mah.

 

Gaya orang asia selatan
Anggota workshop kira-kira berjumlah 15 orang dari negara yang berbeda. Myanmar, Laos, Malaysia, Thailand, China, Rusia dan Kamboja sebagai tuan rumah. Beberapa orang USA sebagai Lector dan Host. Lucunya aku ngerasa salah kostum. Setengah dari mereka berpakaian rapi, pantalon dan kemeja lengan panjang. Kupikir “Ada yah peneliti lapangan yang rapih gini?”. Hanya kami dari Indonesia, Malaysia dan USA yang berpakaian kasual. Sisanya rapi. Tapi dengan postur tubuh mayoritas kecil pakaian mereka (menurutku) jadi aneh. Tunggu sampai kalian lihat gaya rambutnya. taun 50-60an bgt. Kaya gambar pahlawan di duit kertas dan buku PSPB (Pendidikan Sejarah dan Perjuangan Bangsa), Wage Rudolph Supratman. Hehehe. Tapi ini kan cuma masalah mode saja. Mereka sangat ramah dengan logat bahasa inggris asianya. Persis kaya anak SMA indonesia pada pelajaran bahasa inggris.

 

Semua cewek: langsing
Ada beberapa hal yang kuperhatikan disini. Belum pernah kulihat wanita gemuk. Apalagi gendut. Semua cewek itu langsing seperti manekin departmen store. Hanya perawakan tidak setinggi orang kaukasia (bule). standar tinggi asia-lah Tidak sedikit yang very good shape body, dengan bangga membalut dirinya dengan pakaian sedikit terbuka. Sexy! Apa yah resepnya? Suka? Ya iyyya lah… Masa ya iya dong? Hehe. Tergoda untuk cicipi? Ga sama sekali tuh! Dah digembok ama yang dirumah. Hehe.

 

Pada doyan kongkow
Satu hal lagi, sepertinya orang sini gemar nongkrong. Walaupun bukan hari libur (hari ini: senin),  hampir sepanjang jalan dari hotel ke tempat workshop dengan bus rombongan diwarnai dengan plasa, alun-alun, taman, pinggir jalan dan café tempat orang kongkow-kongdow pada ngobrol, atau sekedar menikmati hari. Sendiri, berdua atau beramai-ramai. Itu jam 8-9 pagi. Waktu pulangnya (sore 5-6 malam) pun begitu. Malam? Tambah ramai lagi. Hampir tiap resto dan café terisi manusia. Belum lagi yg dipinggir jalan. Sungguh budaya yang berbeda.

 

WiFi warior. Go, Mac! Spread the line! 
Menurut sang host, selama workshop hanya ada 1 line internet, dipakai bergantian dikala break. Ah, mana puas aku!  Kujajal internetnya di coffee break pertama, antri dengan yang lain tentunya. Testing speed … Cueeepat! Indikator menunjukkan kecepatan koneksi sampai dengan 70 KBPS. Waw! Kurestart mac ku yang tadi memakai window$ XP untuk workshop program GIS database. Kembali menggunakan Leopard tercinta. Mengaktifkan VM Ware Fusion sebagai alat emulasi sistem operasi window$ XP. Log on dan jajal program GIS database tersebut. 1x klik, 2x, 3x, Welldone! Works verywell on Fusion! Seperti yang kalian pikir, (kalo pake mac pasti dah tau) kuaktifkan Internet Sharing. Koneksi yang kuterima lewat kabel LAN/UTP kupancarkan ke yang lain melalui airport (wireless LAN) sehingga laptopku berfungsi sebagai access point, fungsi yang di window$ jarang berhasil dengan hebat, cepat dan stabil. Walla! Terkoneksilah seluruh ruangan! “Tidak usah berterima kasih, kawan. Ini memang kerjaanku” ucapku bangga dengan Mac ku dalam hati.

 

Sedot! Having great internet speed 
Kunikmati koneksi internet ini byte per byte. Donlot beberapa appication dalam beberapa menit, berserta seluruh (900) email gmail lengkap dengan attachmentnya yang beragam. Jadi norak karena di Indonesia jarang bisa begini, apalagi gratis. Tapi karena sibuk dengan workshop, aku tidak sempat browsing sana sini. Apalagi mengedit posting di blog yang text nya rapat semua karena exportan dari  handheld window$ mobile. Sebagai pelengkap, ku setting iGetter untuk mendownload hampir 1GB untuk esok hari.

 

Titanic restaurant?
Makan malem bareng di pinggir sungai Tonle Sap. Nama restorannya Titanic. Tapi ga ada Kate Winslett dan Leonardo D’caprio. Menunya seafood. Udang, ikan dan ayam dengan kentang goreng dan salad. Ah ini mah biasa. Rasanya pun hambar. Yang ga biasa satu porsi standar untuk lebih dari satu orang. Biar nyicip semua, mungkin. Menu sampingnya sayur (mirip lodeh cuma beda isi) jamur, jagung, sawi-sawian dan dedaunan aneh. Wek! ga doyan. Ada lagi sayuran dengan isi yang hampir sama tapi yang ini ditumis, sepertinya sama ga doyannya. Kuurungkan niat mencoba. Terakhir muncul sebongkah kelapa bulat. Kupikir es kelapa ala pantai. Tetapi isinya udang besar ditumis bersama telur. Yang ini bumbunya familiar; bawang merah, bawang putih dan cabai. Aku suka! Sayang hanya ada 1 porsi untuk beberapa mulut. Ya sudahlah.  
    

 

 

Selesai makan rombongan balik ke hotel. Aku langsung rebahan dengan perut kembung berharap segera tidur agar besok segar. Ga bisa tidur, malah ngelanjutin nulis bahan untuk posting besok (ini). Udah ah dah malem. Met malam, Dunia!