Nyasar di Hari Pernikahanku

by hawarihadi

Malam sebelumya ku tidur agak larut  karena seru, banyak orang, keponakan ku tersayang yang bandel bandel itu datang hampir tengah malam, kakak-kakakku dan para pasangannya, wah seru deh, tapi setelah dipaksa, ahirnya tertidur juga di sofa ruang tamu rumahku.

Belum puas memejamkan mata, aku sudah dibangunkan, malas sekali rasanya menggerakkan badan untuk bangun. Kulihat jam dinding yang ada merpati nya, masih jam 4 kurang. Ingin ku pejamkan mata lagi, terlintas terngiang seseorang bilang ” Woi, jadi kawin ga?”. Serentak tubuh ku mengejang, bangun dari sofa “SIAP!!”, kataku dalam hati.

Ternyata Mama dan Papa sudah mandi terlebih dahulu sementara yang lain masih tertidur pulas di hamparan kasur yang dibawa dari kamar tidur ke ruang tamu dengan enaknya. Aku pergi mandi, ga lama-lama. Dingiiiin. Lalu memakai baju yang sudah disiapkan semalam, casual saja lah.

Sesuai perjanjian, aku akan erangkan lebih dahulu ke gedung Antam jam 4:30 jika supir mobil yang satu lagi atau yang lain belum siap. Pas jam 4:30 aku, Mama dan Papa sudah berada di mobil, berangkat menuju Gedung Antam. Seperti biasa, aku yang nyetir. “Tidak jauh dan aku sudah hapal lokasinya”. pikirku. Lagian aku sudah berjanji pada calon mertuaku agar tidak telat. jam 5:30 harus sampai di gedung untuk dirias. Karena sebelumnya beliau sudah khawatir sekali akan kehadiran keluargaku terlambat, pake menawarkan penginapan segala. Untuk aku yang terbiasa bolak balik Jakarta Bogor, hal itu sangatlah tidak perlu.

Jalanan dari rumahku melalui tol Bogor – Jakarta dini hari sangat lenggang. Dalam 20 menit sudah sampai ku di Cawang, tinggal beberapa kelok lagi sampai di gedung.

Teringat belum menanyakan keberadaan Salah seorang tanteku yang katanya uga mau berangkat pagi. Kuraih ponselku, yang berbentuk sebuah kotak batu bata merah besar. PDA ini sudah terlalu tua untuk diikutsertakan dalam hidupku, tapi bagaimana lagi, adanya ya itu. “Halah!” mana mesti pake dua tangan untuk mencari nomor telepon di buku alamatnya karena harus pegang stylusnya juga. Sedikit repot akhirnya bisa juga ku dial nomor tanteku. Tidak aktif HPnya. Kucoba lagi beberapa kali. Entah aku lupa itu berhasil atau tidak menghubunginya.

Tersadarkan diri dari kesibukan berponsel ria, aku telah melewati pintu tol yang harusya ku keluar sebelumnya. Itu pun baru ngeh kalo sudah melewati satu pintu tol setelahnya. Wal hasil keluar di pintu tol selanjutnya, “SIal, dua pintu tol kelewat! masih ada waktu lah”. Pikirku santai.

Kuambil jalur kiri, bersiap untuk keluar tol, berputar arah , mencari pintu tol untuk kembali ke jalan yang benar. Setelah agak jauh memutar akhirnya dapat. Aku kembali melaju di jalan tol menuju gedung antam.

Matahari belum muncul, gelap, aku tak berhasil menemukan panduan arah yang ku kenal. Hilang arah! Aku sampai pada pintu tol Mampang. Aku berpikir, apakah aku telah melewati pintu tol keluarnya? dari pada lebih jauh terlewat, aku keluar dan berusaha mengingat, dimana kuberada sekarang.

Biasanya aku mengandalkan instingku, yang memang kuat untuk menghadapi jalan di Jakarta yang ruwet. Memang ga ilmiah, tapi sering kali terbukti berhasil walau kadang harus memutar. Tapi kali ini aku ada event yang sangat penting. Aku tidak ingin bertaruh dengan instingku. Aku tidak mau lebih lama di jalanan. Aku ingin segera sampai. Terngiang di benakkku janji pada calon mertua untuk tiba jam 5:30. 

Aku sekarang mengarah ke timur. Instingku mengatakan gedung masih kearah depan lagi. Tapi tak kudengarkan. Aku butuh bantuan lebih dari insting. Kutelepon Kakakku karena beliau lebih tahu dari aku soal seluk beluk Jakarta.

“Halo, Teh!” Awal pembuka percakapan. “Aku kelewat nih, sekarang ada di luar tol Mampang”. “Wah, kamu kok bisa disitu?. ya udah gini aja, blabla bla bla bla.. atau kalo ga ambil jalan bla bla bla blabla. gitu deh. Nanti telepon lagi aja kalo ada apa apa”.  Walah tambah rumit. Aku jalan lagi menyusuri pinggir tol. Kelewat katanya. Berarti harus putar balik. Ah ga usah lewat tol, masih pagi. Ketemu puteran, ambil jalur luar tol, menyusuri jalan. 

Ketemu Carefour lebak bulus. “Yang ini aku kenal” pikirku. Aku putar balik dan menyusuri jalan, brharap gedung itu ada di depanku. Tiba-tiba muncul tanda pintu keluar tol. “Mampang” tulisannya. Kok aku ada di sini lagi? Mungin kah terlewat tadi? Aku cari puteran, kembali ke carefour, memutar lagi, susuri jalan lagi. Kuperhatikan jalan, gedung itu tidak nampak sampai ku bertemu plang tol itu lagi: “Mampang”. Sial! kok disini lagi nongolnya, padahal cuma lurus. Kubuka kaca untuk menghisap asap pembuang grogi, Mentholku tersayang. Bukannya lega, angin yang masuk dari jendela merasuk ke tulang, dingiiin. Terasa gejolak di perutku, mules. Ah Gawat neh! Makin ga konsen jadinya. 

Kepanikan ku bertambah ketika Dieta, sang calon mempelai wanita menelepon dan bertanya ” Sampai mana, Pak?” Dengan jujur ku berkata “Sampai Carefour”. “Ooooh, ya sudah , aku sudah di gedung lagi mulai di rias, cepetan ya, Pak”. Untaian nada lembut yang indah, pikirku. Kok dia ga marah ya aku sampai carefour segala? Ternyata kelamaan aku tahu disangkanya aku sampai carefour Cawang. Hehehe

Kali ini ku jalan terus tak memutar, beberapa saat ketemu Cilandak Town Square. Hatiku mengatakan “terus, ge! ke timur lagi”. Kembali ku ga pede, Dari pada tambah lama nyasarya, aku telepon Kakakku lagi. “Citos? Ooooo kamu dah ga di mampang lagi? kelewat tuh, muter trus lurus aja udah deket kok!” Sesuai petunjuk, ku cari puteran, kembali ke arah barat sampai careour lagi. “Ga mungkin lebih dari carefour!” Pikirku. Kembali di jalan TB simatupang, Jalan yang sesuai dengan alamat gedung Antam. susuri jalan, lewati beberapa perempatan sambil memperhatikan jalan, Gedung itu tak juga muncul di hadapanku. Sampai lagi di Citos. Arrrrgggghhhhh. Masih mules perutku. Teringat kata-kata yang bilang kalo mo nikah mbok ya jangan neko-neko. jagan main jauh, jangan ini, jangan itu, jangan nyetir adalah salah satunya. Apakah aku telah melanggar norma sial itu sehingga ku di butakan akan arah? Arrrggghh, Berbagai pikiran berkecamuk di benakku. 

Kembali ku telepon Teteh untuk ke sekian kalinya. Untuk ke sekian kalinya pun ku putar arah menuju carefour lebak bulus. Seperti yang  diduga, aku kembali di Citos, dengan muka pucat, pala pusing, perut mules, dada berdebar. Lemas. Ku raih HP bata ku, mendial ulang nomor yang sedari tadi ku hubungi. berkata lemas pada yang diujung sana ” Teh, Aku musti gimana…..?”. Dengan sigap, kakakku tercinta langsung mengeluarkan perintah tunggu ditempat. “Kami jemput segera. Tunggu di sana!”. Rombongan Kakakku yang hampir sampai di gedung membatalkan pendaratannya, melaju pesat menuju lokasi ku terdampar.

Sambil menunggu, ku coba hitung berapa kali ku berputar. Halah, malas jadinya. Tidak lama, Mobil itu muncul di belakang mobilku, Kakak masuk, lalu berkata “Kamu mangnya dari mana aja sih? mustinya kan lurus ke sana ( timur )!!”. Yeeeeeee.. dari tadi dia nyuruh gue muter tapi ga tau gue dah menghadap timur. Selama ini gue muter ke barat lagi dan lagi. Danternyata seperti insting gue bilang, gedungnya masih di timur sedikit lagi. Walhasil, aku ngebut ke arah timur jalan TB Simatupang itu. Tring!! Sampe deh di gedung. Ku lihat jam, menunjukkan pukul 6 tepat. Satu jam ku putari jalan ini sia-sia.

Masuk ke parkiran, Berjalan menuju ruang rias. Calon mertua ku masih duduk menunggu di rias dengan baju batik. Ah lega, ternyata dia juga belum ganti baju. Aku juga  tinggal ganti baju saja. Mengingat perut yang tidak kompak, berjalan cepat ku menuju CW ruag rias, membuang segala keluh kesah dan kepanikan di sana. Lega!