Jalan-jalan ke Bangka. Part#1

by hawarihadi

4:30! Tersentak tubuhku diguncang istriku. “Pak bangun! Kita harus berangkat pagi”. “Mau kmana sih?” Pikirku belum sadar. Setelah keras mengingat baru terlintas, Pangkal Pinang, Bangka! Segera berusaha bangun untuk mandi. Argh! Sisa meriang tadi malam belum selesai juga. Merinding kulitku terkena udara subuh. “Ah, dia baik sekali. Sudah ada air panas dikamar mandi”, pikirku. Air itu habis seketika. Tak ingin ku berlama-lama di kamar mandi. Setelah memasukkan koper ke mobil, segera kami meluncur ke Cibubur, kediaman mertua.

Sambil menunggu supir kami sarapan. Sepiring nasi hangat dan kentang goreng balado yang ada telur puyuh dan udangnya menggelitik rasa lapar. Aku makan dengan lahap tetapi khawatir. Aku tak biasa sarapan. Akankah perutku memberontak siang nanti?

Tak lama supir datang. Aku, istriku, kedua mertua dan adik ipar berpamitan pada sisa isi rumah, berangkat dengan inova hitam ke bandara Sukarno-Hatta. Betewe, ngapain sih ke bangka? Selain jalan-jalan, ada rekan mertua yang hajatan. Kami berniat datang memenuhi undangannya. Dan pula aku belum pernah kesana. Alasan tepat tuk melancong, kabur dari keseharian.

Sesampainya di bandara, ada berita penerbangan kami ditunda. Sial. Hari mulai siang, dan perut mulai lapar. Tergoda aku tuk mengambil donat jeko yang sengaja dibawa untuk oleh-oleh. Tapi tidak tega juga. “Tahanlah lapar barang sebentar”, benakku menggurui. “Mungkin merokok dapat hilangkan lapar”, susulnya. Lagian AC ruang tunggu gerbang terminal A7 terasa sangat dingin dikulitku. Ataukah hanya aku yang sedang tidak enak badan?

Tadi sebelum masuk terminal mencium bau asap rokok di koridor. Mungkin ada kawasan merokok. Kulangkahkan kaki ke sana. Alamak! Koridor di depan pintu terminal itu buram dengan asap rokok. Ada orang yang merokok sambil duduk, berdiri, baca koran, dengarkan wakman, nonton tivi: acara gosip dari telepon selularnya. Bahkan ada yang merokok sambil tiduran, beralaskan koran dan berbantal tas.
Ironinya, disepanjang dinding koridor ditempelkan stiker larangan merokok. Mereka acuh saja. Bahkan ada yang merokok tepat di depan rambu itu. Bah! Kalo sampai begini keterlaluan sekali! Baik para perokok yang tidak tahu aturan dan sopan santun, maupun pihak bandara yang tak memberikan fasilitas kawasan merokok di ruang tunggu gerbang terminal. Aku iseng mengabadikannya dengan kamera. Masih saja mereka cuek mengepulkan asap. Kuurungkan niatku merokok, lalu ke toilet, pipis.

Bersambung…