Singa udara dan padeh nian (Jalan-jalan ke Bangka. Part#2)

by hawarihadi

Kabar terdengar dari loadspeaker di gerbang A7. Suara itu berasal dari pegawai maskapai penerbangan singa udara, yang kami percaya untuk membawa kami ke Pangkal Pinang. Kabar baiknya, pesawat telah tiba, walaupun ngaret setengah jam. Kabar buruknya, pesawatnya salah parkir, di gerbang A2. Jadilah para calon penumpang berbondong-bondong hijrah ke gerbang A2 melewati kumpulan perokok di koridor tadi.

Jalan memutar sampai tiba di aspal landasan. Mengantri kami masuk pesawat, sementara gerimis dengan malu-malu menemani. Duduk berjejeran kami sekeluarga. Pramugari sibuk menukar kursi untuk yang hamil dan manula. Sementara pesawat menuju landasan, mereka berpantomim untuk mempragai perihal keselamatan. Tanpa ekspresi sama sekali. Aku berani bertaruh mereka sangat bosan melakukannya, sama sepertiku yang bosan menonton gerakan kaku itu.

Tak lama pesawat lepas landas, dan saya pun memulai ritual. Menyalakan pemutar audio di telepon selular yang di-flightmode-kan. Menyumbat telinga dan membuat daftar lagu. Kali ini malas membuatnya. Kupilih ‘all’ saja. Laluna pun berpentas untukku pribadi. Setelah itu berurutan Muse, Catatonia, Orgy, Club 8, Static X, dan lupa lagi. Playlist dengan genre yang berantakan itu mengiringiku memejamkan mata. Mungkin ku telah tertidur, ku terjaga saat turbulensi mengguncang pesawat cukup lama. Tema lagunya: Icon of Coil – dead enaugh for live. Halah! Jadi seram sendiri. Tapi takut iu tidak dapat mengalahkan kantukku, kembali ku terlelap.

Gedubrak! Dan pesawat terguncang dahsyat. Agh suara apa itu? Apakah pesawat ini jatuh? Takutku muncul seketika. “Astaghfirullah!” Latahku. Ku buka mata, ternyata pesawat baik-baik saja. Tadi itu guncangan dan suara pendaratan. Huh! Pendaratan paling kasar yang pernah kualami. Sementara dengan tidak sopannya kupingku yang masih tersumbat earphone mengumandangkan lagu nu reggae ‘… If i die before i wake… In heaven …’. Sial!

Tiba sudah kami di pandara pangkal pinang. Sebuah bandara imut yang mungkin tak lebih besar dan jauh lebih sepi dari terminal bis Kampung Rambutan. Berjalan menunggu bagasi, dan ke tempat parkir dimana kami ditunggu oleh staf mertua.

Saya lupa namanya. Ia orang Bangka asli. Dengan logat bangkanya, ramah sekali ia berbicara.

Ia melajukan kami langsung ke rumah makan. Ya, ini sudah tengah hari, dan kami sangat lapar. Putri Minang, sebuah rumah makan padang menjadi pilihan. Walau pelayanannya agak lambat tapi masakannya menggugah selera.

Tak beda dengan warung padang yang lain, segala lauk tumpah ruah di meja kami. Tak perlulah disebutkan. Bedanya, disini masakan padangnya tak basa-basi pedasnya. Huah! Terbakar lidah ini rasanya. Kalo bicara sambil kepedasan sudah mirip orang padang. ” huoh, pedesy! Minto air es satuoh”.

Bersambung…