Prita (lagi)

by hawarihadi

Oalah. Ada apa gerangan? Bagaimana asal muasal perkara ini?

Koran Tempo hari ini memberitakan ada seorang ibu rumah tangga bernama Prita Mulyasari yang dibui Prita Mulyasari, ibu dengan dua anak, ditahan sejak 13 Mei 2009 di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang sebagai tersangka kasus pencemaran nama baik Rumah Sakit Internasional Omni, Alam Sutera, Serpong, Tangerang Selatan.

Prita, warga Vila Melati Mas Residence, Serpong, itu divonis terbukti melanggar Pasal 27 ayat 3 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang isinya, “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.”

Kenapa dia dianggap mencemarkan nama baik?

Kasus ini bermula dari surat elektronik Prita pada 7 Agustus 2008. Email itu berisi keluhannya ketika dirawat di Omni. Surat yang semula hanya ditujukan ke beberapa temannya itu ternyata beredar ke pelbagai milis dan forum di Internet, dan diketahui oleh manajemen Rumah Sakit Omni.

PT Sarana Mediatama Internasional, pengelola rumah sakit itu, lalu merespons dengan mengirim jawaban atas keluhan Prita ke milis dan memasang iklan di harian nasional. Belakangan, PT Sarana juga menggugat Prita, baik secara perdata maupun pidana, dengan tuduhan pencemaran nama baik.

Pengadilan Negeri Tangerang memutuskan perkara gugatan perdata nomor 300/PDG/6/2008/PN-TNG itu sekitar dua pekan yang lalu. Sedangkan persidangan pidana kasus ini akan digelar pekan depan.

Sampean juga bisa membaca lebih detail mengenai awal mula kasus Prita di situs Majalah Tempo edisi Oktober 2008.

Terus terang saya merasa prihatin dan bersimpati pada Prita. Saya merasa dia tak layak dihukum seberat itu, bahkan sampai masuk penjara. Ini jelas teror bagi kita, konsumen, yang sering kali diperlakukan tak layak dan tak adil, tapi ketika mengeluh malah dituduh mencemarkan nama baik.

Tapi ada hikmahnya buat saya dan sampean. Tragedi yang dialami Prita bisa menimpa siapa saja, saya atau sampean. Kita semua. Kita harus bersatu melawan kesewenang-wenangan dan ketidakadilan semacam ini. Kita juga mesti semakin hati-hati. Musuh di luar sana semakin pintar. Kita juga harus semakin cerdik.

Nah, untuk menghindari jeratan pasal karet di UUITE itu, mungkin ada baiknya sampean mendengar nasihat Ari Juliano, pengacara dan blogger kawan saya itu. Dia mengatakan bahwa sebagai blogger atau netizens kita tidak bisa menghindar dari tuntutan hukum atas segala aktivitas kita yang dipublikasikan. Kita hanya bisa mengurangi agar dampaknya tak terlalu fatal buat kita.

Caranya (diadaptasi dari blog Rama, Daily Social):

* Jangan cuma cari perhatian dengan judul-judul yang terlampau provokatif untuk mengincar traffic dan sensasi. Sebagai blogger kita tentu bahagia ketika blog kita dikunjungi banyak orang, namun dengan teknik seperti ini bisa-bisa menjadi bumerang untuk kita.
* Fokus terhadap masalah yang sampean alami atau keluhkan, dan bukan terhadap orang/lembaganya. Seringkali pandangan subyektif atau kebencian terhadap seseorang bisa terpancar dalam tulisan di blog. Padahal untuk mendukung obyektivitas, sebagai blogger harus melihat ke gambaran yang lebih besar yaitu masalahnya, bukan orangnya.
* Jangan hanya mengritik, tapi berikan juga solusi. Kritik tentu boleh saja, tetapi ada bedanya antara kritik yang membangun dan yang menjatuhkan. Kritik yang menjatuhkan rawan jeratan pasal-pasal dari UU-ITE. Sampaikan kritik dengan bahasa yang santun. Sodorkan alternatif solusi agar kritik sampean bisa diterima dengan lapang.
* Jangan segan minta maaf. Seringkali blogger yang sudah menulis tentang sebuah kritik atau masukan enggan meminta maaf meskipun sudah terbukti bahwa kritik atau keluhannya ternyata salah. Nah, sebaiknya jangan terlalu angkuh dan enggan meminta maaf.
* Freedom of speech pasti disertai freedom of response. Jadi kita harus siap menerima masukan, kritik, atau keberatan pembaca.

>> Selamat hari Kamis, Ki Sanak. Apa yang akan sampean lakukan seandainya mengalami kasus yang sama dengan Prita?

>> Email Prita yang bikin heboh itu bisa dilihat di sini.

asalnya dari sini