Cahaya untuk Hagistra : Petualangan Vanda dan Loup

by hawarihadi

download: Cahaya untuk Hagistra – 21122009-edit28052012

Thetaggedwriters:

 

Cahaya untuk Hagistra

Kisah Petualangan Vanda dan Loup

mi|end|ge|enk

PROLOG

“Loup, sudahkah kau tulis bagian awalnya? Tulislah, biar aku yang melanjutkan.” Pinta Vanda pada sahabat karibnya. “Ah, kau!” Loup berurasa menepis topik. “Kau tak tahu lagi hendak kemana, sedangkan diriku yakin akan hal itu.” “Aku hanya berusaha. Kulanjutkan berjalan melewati tepian sungai bening dimana ikan-ikan kecilpun terlihat dengan jelas.” Seru Vanda sambil bergumam tak jelas. “Tapi kau harus keluar dari lamunanmu. Semua itu membuat mu hidup hanya di alam khayalmu, Vanda! Sesekali kita harus turun dan melakukan semuanya sendiri.” Loup tak mau mengalah dengan kata-kata Vanda. Tapi Vanda tak peduli ia lalu meneruskan membaca temuannya. “Dengar ini, Loup! Tertulis disini, bahwa pintu akan terbuka dengan sendirinya pada mereka yang bernurani besar dan berhati bersih. Keinginan yang besar akan membawanya kedepan gerbang dunia yang tak pernah gelap.”

Tubuh kecil kurus Loup bersandar pada sebatang pohon mati. “Aku sepenuhnya percaya denganmu bahwa portal itu bisa saja ada, tetapi kita belum menemukan bukti kuat untuk mengemukakan ke orang-orang. Vanda, duniamu itu sungguh berbahaya. Yang kau pikirkan itu dapat membuat orang-orang sini kehilangan jati dirinya. Mereka sudah terbiasa dengan yang ada. Jangan dulu kau hancurkan mereka.” Kembali Vanda bersikeras, “Yang bisa kukatakan hanyalah mereka telah menjadi orang dewasa. Itu sebabnya mereka tidak percaya,tidak mau percaya tepatnya. karena itu tidak akan ada portal, tidak akan ada apapun untuk mereka”

Sepotong percakapan itu tetap tergiang di benak Loup. Vanda, sahabatnya sedari kecil yang dulu selalu bermain Tali hurquins bersama di halaman belakang rumahnya, sekarang telah berubah menjadi wanita yang keras kepala. Kunjungannya ke perpustakaan Pak Londra di pojok kota Hagistra, telah mengubahnya beberapa bulan belakangan. Ia sangat tertarik akan sajak-sajak kono yang ia temukan dari teka teki di buku dongeng anak-anak. “Buku itu datang kepadanya” ingat Loup. Dan ia adalah orang pertama yang diberi tahu tentang arti dibalik sajak itu. Beberapa ramalan di sajak itu telah terbukti benar. Sekarang sajak kuno itu membahas tentang dunia lain, yang tak pernah gelap.

Hagistra adalah kota terpencil dimana malam lebih banyak dari siangnya. Kota ini membutuhkan sinar matahari lebih lama untuk membuat penduduknya bersemangat untuk bekerja, Kota ini membutuhkan sinar matahari untuk membuat penduduknya sehat, lepas dari wabah wedh yang sebentar lagi akan mengubur sejarah kota ini dengan kematian anak-anaknya. Sekarang, impian Vanda mendapat secercah cahaya penuntun. Sebuah portal magis yang membuka jalan menuju Morps, kota yang tak pernah gelap.

Tapi tak semua pihak menginginkan sinar matahari. Banyak yang mengambil keuntungan dengan gelapnya Hagistra. Dan mereka tak ingin itu sirna hanya dengan harapan seorang bocah remaja. Vanda yang periang  memberi tahukan temuannya itu pada semua orang. tak ada yang menanggapinya dengan serius. Hampir tak ada kecuali Loup, sahabatnya dan orang-orang yang sengaja menjaga kegelapan di Hagitsra. Mereka tak akan tinggal diam. Isu itu terlalu tajam untuk mereka lewatkan. Vanda dan khayalannya harus lenyap dari Hagistra

BAGIAN 1

PERPUSTAKAAN PAK LONDRA

Pak Londra adalah seorang laki-laki berperawakan tambun yang mulai bungkuk. Rambutnya berwarna keabu-abuan mulai rata oleh uban yang hanya menutupi bagian samping dan belakang kepalanya. Sedangkan bagian atasnya hanya ada kulit kepala yang putin bersih bersinar, tak ubahnya para profesor ahli roket. Hidung Pak Londra yang besar menyangga kacamata bulat berlensa bifokal, tempat ia menyembuyikan mata rabunnya. Kecerdikannya tampak jelas di matanya yang berwarna ungu gelap.

Pak Londra sangat baik. Tiap awal gelap, yaitu setelah waktunya makan siang, ia selalu membuka perpustakaannya untuk umum. Banyak anak-anak yang datang untuk meminjam atau membaca buku dongeng dan halaman bergambar yang penuh warna. Kadang Pak Londra sendiri yang membacakan dongeng itu pada anak-anak sehingga mereka jatuh dalam alam dongeng yang tak ada habisnya.

Perpustakaan itu terletak di sebuah gedung tua gelap diantara pepohonan dan suasana tepi jalannya yang sangat sunyi. Lantainya berlapis karpet merah marun lapuk dan dindingnya dihiasi lukisan-lukisan para penulis ternama dari zaman ke zaman. Vanda tertarik pada tempat itu karena ia ingin mengetahui sedikit lebih tentang dongeng. Itu saja-awalnya. Sampai ia menemukan sebuah buku sajak bersampul kulit coklat tua di tepi kakinya saat hendak mengembalikan buku dongeng putri duyung berkaki tujuh ke rak-nya. Penuh rasa ingin tahu dibawanya buku itu ke meja baca. Dibukanya sampul coklat itu perlahan dan ternyata isinya sajak-sajak kuno. Tidak begitu mengerti tentang sajak, dibukanya kertas-kertas itu sambil lalu. Kemudian menutupnya dengan bosan.

Baru ia akan berdiri menuju meja Pak Londra untuk mengembalikan buku itu, seketika sebuah suara berat bertanya “Kau bisa melihat apa yang tertulis disana?”. Ternyata tadi adalah suara Pak Londra. Vanda menatap heran – tentu saja. Dengan mata penuh binar Pak Londra menatap Vanda lalu duduk di sampingnya. “Buku itu memilihmu. Buku itu datang padamu untuk dibaca.” Vanda mengerutkan kening kebingungan, dilihatnya lagi sampul buku itu, ternyata tidak ada judulnya. “Memangnya buku apa ini?” Tanyanya. Pak Londra kembali menatap Vanda dalam-dalam dan ada secercah pengharapan disana. “Jalan menuju kota yang tak pernah gelap”, ujar Pak Londra kemudian.

Terkadang Pak Londra tampil seperi petapa, tua, bungkuk dan berjangggut putih. Tapi kali ini nampaknya ia baru saja mengunjungi Ralph, tukang cukur langganannya sehingga ia tampak beberapa tahun lebih muda. Wangi kolonye tercium damai dari dagunya. Vanda selalu terbayang wujud kakek, bapak dari ibunya. Ia tak pernah bertemu dengan kakeknya. Kini, ia mendapat sosok Pak Londra sangat mirip dengan kisah-kisah yang diceritakan oleh ibunya dikala sebelum tidur. “Kakek sangat baik dan ramah pada semua orang. Dulu ia bekerja sebagai tukang kayu di Hagistra. Dikala senjangnya Kakek membuatkan layang-layang untuk anak-anak kecil. Mereka bermain bersama di gurun rumput Roswelyn dimana bengkel kayu, yaitu rumah batu kakeknya berdiri dengan kokoh diantara lapangan rumput segar dan bunga Astride yang bertebaran” bisik ibunya yang mengantarkan Vanda kecil tidur. “Apa dulu siangnya lebih lama, Bu? Apa dulu banyak bunga yang mekar di musim semi?” tanya Vanda pada ibunya. “Tentu, sayang!” sahut ibunya cepat. “Kakekmu adalah generasi terakhir yang menikmati siang lebih dari lamanya tujuh batang lilin tothy.”

Vanda tau lilin tothy tidak lagi digunakan pada masa sekarang. Sekarang di Hagistra sudah tidak ada lilin tothy. Orang lebih suka membeli lentera minyak yang nyalanya dapat jauh lebih lama dari lilin. Apa lagi lilin tothy selain mahal juga hanya bertahan sebentar. Mungkin hanya sewaktu dengan jika kau memasak sepanci air sampai mendidih. Tapi lilin tothy sangat indah nyalanya dan juga wangi. Wangi itu berasal dari Bunga Astride yang banyak mekar di Hagistra kala itu. Kini pun bunga itu jarang sekali ada yang mekar. Bunga itu membutuhkan cahaya matahari untuk hidupnya.

“Jadi dulu kakek bisa membaca di halaman rumah tanpa lentera?” kembali Vanda kecil bertanya. Ibunya mengangguk dengan pandangan bulat penuh kasih padanya. “Kelak nanti kau akan mengalaminya kembali, dimana bunga Astride dengan anggunnya mekar diseluruh tanah Hagistra. Sekarang pejamkan matamu, besok sekolah.” Sambil mengecup kening Vanda, ibu kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapannya esok.

Lamunan Vanda disadarkan oleh pertanyaan yang terdengar diulang. “Kau bisa melihat apa yang tertulis disana?” kembali Pak Londra bertanya padanya. Vanda menggeleng. “Memangnya ada apa didalamnya? Hanya berisi sajak yang tak kumengerti. Aku lebih paham sajak cinta pengamen di pasar. Kata-katanya mudah dicerna. Bisanya mereka bercerita tentang kekasihnya yang pergi ke medan perang, atau tentang cinta yang tak kesampaian.” Belum juga menarik nafas, Vanda melanjutkan “Sedangkan di sajak ini semuanya tak beraturan, kadang bercerita tentang manusia, lalu pindah tentang cinta, dan melompat jauh tentang Tuhan. Aku tak begitu mengerti.” Vanda menarik nafas. “Siapakah yang menulisnya? Mengapa tak ada judul di sampulnya? Adakah yang pernah membacanya dan mengerti?”

Pak Londra sangat hapal sikap Vanda yang selalu tidak puas dengan apa pun. Ia akan selalu bertanya tentang hal yang tak dimengertinya. Pak Londra sering kewalahan menjawab. Karena ia memiliki banyak buku di perpustakaannya, Vanda sering mengira Pak Londra tahu akan segalanya. “Jika kau sungguh terarik, bawalah buku itu pulang, mungkin kau dapat membacanya diwaktu senggang. Tapi jangan kau lupakan pelajaranmu. Mungkin sudah waktunya kau membaca buku selain dongeng bocah yang selalu kau pinjam dariku. Kau sudah remaja sekarang. Mungkin diluar saja ada remaja lelaki yang menunggumu keluar dari perpustakaanku yang pengap ini dan membawa seikat bunga untuk mengajakmu berdansa di hari ulang tahun kota ini minggu depan,” goda Pak Londra. Muka Vanda bersemu merah karena malu. Tanpa menggubris godaan Pak Londra ia memasukkan buku tanpa judul itu ke tas pundaknya dan berlari ke arah pintu keluar. “Terimakasih Pak Londra! akan kubaca buku ini dirumah. Ku berjanji tak akan merusaknya. Sepertinya buku ini mahal, melihat dari sampul kulitnya.” Setengah berlari ia melangkah keluar meninggalkan Pak Londra yang tertawa terpingkal-pingkal mengodanya sampai terbatuk ketika ia melewati pintu utama perpustakaan itu.

Remaja lelaki apa? pikir Vanda. Ia tidak seperti remaja perempuan seumurnya yang pandai bersolek dan memakai gaun yang indah di sore hari. Ia terbiasa dengan celana panjang dan kaus buatan Ibunya yang berwarna mencolok, dimana ia dapat menempelkan kata yang ia inginkan. Kali ini ia menggunakan kaus kuning dengan emblem huruf yang berkata: S-I-N-A-R.

~~~#~~~

Dari balik kios buah, ada dua pasang mata yang mengawasi langkah Vanda keluar dari perpustakaan. Mereka telah berada disana selama hampir dua bulan lamanya. Kios buah itu tak pernah ada pembelinya karena buah yang dijualnya tidak begitu segar dan penjualnya yang tak acuh. Penjual itu pun tak ambil pusing. Ia memang ia tak berniat mencari pelanggan. Lokasi kios itu dibelinya dari seorang pemabuk yang bangkrut, yang kebetulan tepat menghadap pintu perpustakaan, sehingga ia dapat melihat siapa saja yang keluar masuk gedung itu. Si penjual buah dan kawannya mendapati tas Vanda yang kini mengembung penuh, tak seperti dikala ia masuk. Ia yakin buku sajak bersampul kulit coklat itu kini ada di dalam tas tersebut. Buku itu terlalu besar untuk buku dongeng atau kisah asmara yang biasa dipinjam oleh remaja seperti Vanda.

Si penjual mengangguk pada kawannya. Ia memberi kode untuk menguntit Vanda pergi. Segera kawan penjual itu melangkah terburu-buru. Tapi baru dua langkah kegaduhan terdengar. Ia baru saja menabrak seorang ibu gemuk dengan penuh belanjaan dan menjatuhkan semuanya kelantai. Ibu itu marah dan memegangi jaketnya sehingga ia tak dapat melangkah. Ibu itu menyuruhnya membantu mengambil belanjaannya dan mengganti telur angsanya yang pecah akibat ditabrak tiba-tiba oleh kawan si penjual buah. Kawan si penjual buah dengan malas memungut sayur els dan roti pita milik si nyonya pemarah itu sambil mencari-cari sosok Vanda yang telah menghilang di keramaian jalan. “Sial!” umpatnya.

~~~#~~~

Vanda melangkah riang sambil bersiul menuju Lapangan Voltren, dimana ia yakin saat itu sahabatnya sedang bermain bola korgi bersama dengan kawannya yang lain. Vanda tak sabar ingin memberitahukan Loup apa yang ditemuinya di perpustakaan pak Londra.

Loup menyilangkan kakinya di pinggir lapangan, berharap sebentar lagi bagiannya bermain bola korgi, sebab semakin sore langit semakin gelap dan tepat ketika makan malam membuat air liurmu terbit, gulita sudah menyelimuti Hagitsra. Pemandangan delapan remaja berlari mengejar pelari sambil menerka-nerka yang manakah dari mereka yang merupakan pengumpat, – yaitu orang yang membawa bola korgi kecil di tangan yang terkepal – merupakan pemandangan yang dapat dilihat setiap hari di lapangan Voltren. Permainan itu sama populernya dengan Karenlina. Wanita cantik bertubuh molek yang mampu memberi gosip macam apapun tentang dirinya setiap hari tanpa sekalipun berfikir bahwa orang akan bosan mendengarnya.

Dari jauh dilihatnya bayangan berjalan riang sambil bersiul-siul menuju lapangan yang agak lembap. “Vanda”, pikir Loup, matanya sekarang teralih pada seorang pelindung yang mendorong jatuh pemain lawan entah untuk melindungi pengumpat atau raja. Yang jelas pihak musuh sekarang mencurigai Walter sebagai orang yang cukup penting, entah pengumpat atau raja, melihat perawakannya yang langsing dan lincah kemungkinan besar ia adalah pengumpat, tapi tidak mustahil bahwa ia adalah raja. Vanda mendekat dengan kaus kuningnya yang mencolok mata – bahkan dalam gelap seperti ini. Vanda mengambil tempat disamping Loup, rumput basah menyapu bagian belakang celana longgarnya.

“Loup! aku punya sesuatu untuk kau lihat!” ujar Vanda tanpa basa basi. “Hai, Vanda!” sapa Loup. Lelaki mana yang membuatmu berseri seperti itu? Apa Si Luthe yang pintar geometri lagi atau kali ini Jon, anak baru yang tampan? Vanda mengacuhkan pertanyaan sahabatnya. Vanda tahu bahwa Loup hanya mengejeknya. Tak mungkin Si Pintar Luthe mengajaknya ke pesta dansa, apa lagi Jon Si Tampan dari Becshire, kota besar yang maju, dimana tidak ada lagi tukang pedati membawa rumput untuk ternaknya.

Jon dan Luthe sangat populer di sekolah. Vanda pun sempat suka pada keduanya – siapa yang tidak? – tapi tak sampai bermimpi bahwa salah satunya akan mengajaknya minum di kantin, apa lagi ke pesta dansa. Vanda terkenal dengan sebutan gadis aneh di sekolahnya. Sebutan itu Vanda tak salahkan. Dikala sedang musim rambut kepang, Vanda mengurai rambutnya. Dikala musim tas anyaman tikar, Vanda malah bangga dengan tas pundak peninggalan pamannya ketika berdinas di ketentaraan. Walau tas itu tak pernah ikut berperang, tapi Vanda merasa gagah memakainya. Gagah, bukan anggun.

Vanda memang dikenal jarang bermain dengan perempuan sebayanya. Ia malah lebih sering bermain bersama Loup dan kawan-kawan laki-laki lainnya. Bermain bola korgi di lapangan Voltren, adalah salah satu kegemarannya. Tapi sejak beranjak remaja, Vanda mengurangi waktunya untuk bermain di lapangan itu. Ia lebih suka membaca dongeng-dongeng, terutama dongeng dari buku-buku yang dipinjamnya di perpustakaan Pak Londra.

“Kau belum dapat giliran, Loup?” elak Vanda. Loup menggeleng. “Tubuhmu terlalu kurus! itu sebabnya mereka tak mengajakmu. Larimu pun tak lebih kencang dari anak perempuan seperti aku.” Vanda balas mengejek sambil mencabut rumput jarum lalu menghisapnya. Rumput jarum disukai Vanda karena rasanya agak manis bila dihisap. “Aku tidak terlalu kurus! Aku hanya kurang gemuk sedikit,” umpat Loup. Lagi pula mereka baru mulai, dan aku terlambat sampai disini, jadi aku harus menunggu salah satu dari mereka yang kelelahan.” “Tetap saja kau kurus, sampai angin pun dapat menerbangkanmu keluar dari Hagistra.” Vanda terpingkal berguling di rumput basah. Tinggal Loup yang menekuk wajahnya kesal.

Seraya seorang anak yang bernama Rochie menghampiri dengan nafas yang terengah. Dia duduk di antara mereka. Loup mengencangkan tali sepatunya bersiap beranjak masuk ke lapangan. “Hendak kemana kau Loup?” tanya anak itu. “Aku memang letih, tapi kawan-kawan yang lain ingin Vanda bermain bersama kita. Sudah lama Vanda tak mampir kesini. Ia terlalu sibuk dengan buku dongengnya. Selagi ia ada, hendaklah ia bermain.” Terlihat beberapa anak berdiri di kejauhan menunggu Vanda dilapangan sambil melambaikan tangannya. Sementara sisanya masih asik berlari kesana-kemari. Sambil menunjuk Vanda, Rochie tumbang rebah kelelahan. Tinggal Vanda dan Loup yang berpandangan. Wajah Loup terlihat kesal sedangkan wajah Vanda bersemu menahan tawa. “Jika kau tertawa, aku kan penuhi bajumu dengan rumput ini!” ancam Loup. Tawa renyah Vanda seketika tergelak seraya berdiri lalu berlari meninggalkan Loup yang sudah bersiap mengejarnya dengan sejumput rumput basah yang dicabutnya tadi. “Awas, kau Vanda!” teriak Loup mengejar Vanda yang masih berlari sambil tertawa. Rochie yang masih kelelahan itu bangkit lalu berteriak pada Loup dan Vanda yang menjauh. “Lalu siapa yang menggantikanku bermain?” Tanpa jawaban dari Loup dan Vanda, Rochie dengan malas masuk kembali ke lapangan. Berlari terengah mengejar lawan yang dikiranya sebagai pengumpat.

Vanda berlari meninggalkan lapangan kedalam hutan Kecil dimana burung Rangkong Merah bersarang di ujung pepohonannya yang  rimbun. Hutan Kecil terbelah oleh sungai Hunt dari hulunya di tengah hutan ke Hagistra dan bermuara di laut. Kelelahan berlari dikejar Loup, Vanda berhenti di tepian sungai Hunt untuk meraih air dengan telapak tangannya. Airnya yang jernih bergelombang ketika tersibak oleh sentuhan tangannya. Diminumnya air itu sedikit lalu digunakan untuk membasuh wajahnya yang penuh dengan keringat.

Seketika datanglah Loup entah dari mana. Loup tak berhasil memperlambat larinya. Ia menabrak Vanda yang sedang membungkuk di tepian sungai. Sedetik kemudian mereka berdua sudah berada di air. Basah. Tawa pun kembali tergelak dari keduanya.

“Apa tadi yang ingin kau sampaikan padaku tadi?” tanya Loup sambil mengeringkan sepatunya yang basah bebatuan pinggir sungai. Bergidik kedinginan, Vanda berkata “Tadi aku ingin menunjukkan buku yang dipinjamkan Pak Londra kepadaku. Entah mengapa kurasa kau juga pasti akan tertarik. Namun sekarang buku itu basah tercebur bersama tasku. Kau harus bertanggung jawab. Kau harus mengeringkannya!” Vanda memercikkan air sungai ke muka Loup. “Mengapa aku? aku kan tak sengaja melakukannya!” bela Loup. Tapi Vanda telah menyerahkan tas itu padanya. Dan Loup pun menerimanya, sambil membuka tas itu dan mencari buku yang dibicarakan Vanda. Buku itu cukup besar untuk seukuran buku dongeng, apa lagi sajak. Buku itu seperti buku peta yang selalu dibawa Bu Noorlya ketika ia mengajarkan geografi di sekolah. Buku itu sangat mewah dengan sampul kulit coklatnya yang berkilau karena basah. Dan Loup langsung merasa bersalah.

“Baiklah, Akan ku keringkan buku ini dirumah, tapi apa yang ingin kau tunjukkan? Buku ini kosong, tidak ada tulisannya, bahkan judulnya pun tidak ada.” Vanda langsung menoleh “Jangan kau berlagak seperti orang suci lagi. Kau telah melakukan kesalahan dan harus bertanggung jawab. Mana mungkin kubawa buku berat itu jika tidak ada apapun didalamnya? Bilang saja jika kau malas mengeringkannya.” “Tidak, aku tidak berbohong. Buku ini memang tidak ada judul di sampulnya, dan tidak ada tulisan apapun di dalamnya” Loup terus berkata demikian sambil membalik-balik halamannya. Bajunya telah dilepaskan untuk diperas agar airnya keluar. Badan Loup yang kurus itu terlihat mengerikan bagi orang normal, tapi Vanda sudah terbiasa melihatnya. Loup memang kurus sekali, pikirnya, tapi ia masih manusia, bukan gagang sapu.

Sambil mengibaskan rambut pendeknya, Vanda berkata “Memang benar, buku itu tak ada judul di sampulnya, itu salah satu yang membuatnya menarik. Tapi didalamnya ada sajak-sajak aneh yang tak kumengerti. Kupikir kau ingin membacanya. Ayahmu kan guru bahasa di sekolah. Tentu kau pernah membaca sajak semacam itu dari lemari buku ayahmu.” “Isi apa?” Tanya Loup. “Lihat sendiri halaman-halaman ini! Tak ada satu hurufpun didalamnya.” Vanda meninggikan lehernya untuk mencari tahu yang Loup katakan. Sejenak ia tak percaya akan kalimat Loup. Anak itu terlalu sering menggodanya. Tapi kali ini ia mencoba memejamkan matanya sekali lagi, dan mulai merasa mual. Ia yakin tadi di perpustakaan Pak Londra ia membacanya. Bahkan Pak Londra pun melihat ia membacanya seraya menawarkan buku itu untuk dibacanya dirumah. Jadi tak mungkin buku itu tidak ada isinya.

Vanda melangkah mendekat pada Loup. Ia usap permukaan halaman demi halaman buku itu. Kosong, pikirnya. Bagaimana mungkin? Benaknya kembali disuguhi pernyataan. Sementara Loup masih mengoceh tentang kebohongan yang dibuatnya. Walaupun dibesar-besarkan oleh Loup, Vanda diam tak melawan sedikipun tuduhan Loup. Ia tak tahu harus berkata apa. Ia sangat yakin tadi, beberapa saat sebelumnya di perpustakaan Pak Londra ia masih membaca sajak aneh di lembaran buku itu, lembaran halaman yang sama.

Masih basah kuyup, Vanda dan Loup berjalan pulang. Buku di tas Vanda terasa berat ditambah dengan kandungan air yang meresap. Ia menitipkannya di bahu Loup. Walaupun kurus, Loup tetap lebih kuat darinya. “Aku masih yakin buku itu tadi ada isinya.” seru Vanda. Loup menimpali dengan kelakar “Mungkin tintanya luntur terbawa air sungai.” Vanda memukul bahu Loup “Tak mungkin. Semuanya sangat aneh.” Mereka saling mengejek sepanjang perjalanan pulang. Tak lama kemudian sampailah mereka di gerbang perumahan Vont kota Hagistra. Jejeran rumah itu terlihat rapi seperti di permainan petak yang menggunakan 5 dadu untuk memainkannya.

~~~#~~~

Rumah Loup dan Vanda bersebelahan. Kakek Loup dan Kakek Vanda adalah sahabat karib semasa perang. Ketika perang usai mereka bersepakat untuk membeli sebidang tanah di komplek perumahan Vont lalu membangunnya bersama. Vanda dan Loup adalah keturunan ketiga yang tinggal dirumah itu. Rumah Vanda berwarna hijau oleh pohon Anggur yang merambat luas. Pohon  rambat itu sengaja dirawat oleh ayahnya sehingga menutupi bagian depan tembok rumahnya. Sedangkan rumah Loup berwarna merah, sesuai dengan bata yang digunakan untuk membangunnya. Didepannya tergeletak sepeda roda tiga milik adik sepupunya. Dan seember mainan pelastik yang basah karena hujan. Tandanya bibi Lisma dan Arka, sepupu Loup, sedang datang berkunjung.

Rumah Loup dicapai lebih dulu dibandingkan dengan rumah Vanda bila berjalan dari arah sungai. Sekarang mereka telah berada di depan rumah Loup. Vanda berpamitan dan meminta tas berserta isinya dikeringkan. Besok akan Vanda ambil kembali ketika bersama berangkat ke sekolah. Loup mengangguk setuju dan masuk ke halaman rumah bata merahnya. Ibunya muncul dipintu sambil berkacak pinggang. Loup tau ibunya marah karena bajunya basah dan kotor. Vanda mempercepat jalannya tak ingin dilihat oleh ibu Loup, nanti ia terkena omel juga, pikirnya.

Seampainya di rumah, Vanda mendapati rumahnya sepi. Mungkin ayah masih bekerja di toko ikan yang terletak tak jauh dari rumahnya. Ibu mungkin sedang mengajak adik-adiknya ke taman bermain. Karena kota ini hampir selalu gelap, hampir tak ada beda malam dan siang. Ia melirik jam peninggalan kakeknya yang selalu dibawanya. Jam itu basah. “Untung jam ini tahan air.” gumamnya. Jam telah menunjukkan pukul 7.30. waktunya makan malam, ia keheranan mengapa ibu dan ayahnya belum ada dirumah. Vanda langsung menuju kamarnya untuk mandi dan berganti baju. “Syukurlah kalo ibu tak ada, setidaknya aku bebas dari omelan, tak seperti Loup yang sial itu.” benak Vanda berbicara. Ketika ia di kamar mandi, terdengar keriuhan di bawah. Ibu dan adik-adiknya sudah pulang, dan adiknya ingin menjemput ayah di toko. “Ah, pasti ibu membawa kue kesukaannya.” pikir Vanda. Ia membasahi badannya dengan air pancuran. Hangat.

~~~#~~~

Loup dengan pakaiannya yang basah dan kotor terus menaiki tangga kayu melewati perapian menuju kamarnya di loteng. Perapian di ruang makan sungguh menggoda Loup untuk berhenti sejenak dan menghangatkan kaki dan tangannya yang nyaris beku karena udara dingin ditambah pakaiannya yang basah karena Vanda. Setelah menutup pintu kayunya yang berat dan menyelotnya agar tak ada yang bisa masuk Loup membuka baju dan celana basahnya dan menggantinya dengan piyama kering. Agak gelap di loteng, hanya ujung tempat tidur Loup yang agak terang karena diatasnya ditaruhnya lampu hidup berupa sepuluh kunang-kunang hidup yang dimasukkan kedalam botol plastik yang diberi lubang untuk para kunang-kunang bernafas. Loup lebih senang menggunakan lampu hidup sebagai penerang ketimbang lentera minyak, walaupun ia membutuhkannya malam ini.

Ia teringat buku Vanda yang basah dan harus dikeringkannya. Buru-buru diambilnya buku itu dari tas basah yang cuma digantung sembarang di depan jendela kamar, berharap angin bisa mengeringkannya esok pagi. Loup membuka buku bersampul coklat yang kosong itu, ditaruhnya dengan hati-hati diatas peti tua di pojok gelap ruangan. Diangkatnya lentera minyaknya dari meja kayu keropos berkaki pendek tempat Loup biasa membaca lalu menggantungkan kaitannya pada kawat yang sudah ada bahkan sejak jaman ayahnya masih kecil, kata ayahnya. Kawat itu ditarik kebawah agar lebih dekat ke bukunya, karena Loup butuh panasnya, bukan sinarnya. Lentera minyak itu kini bukan hanya menerangi buku dan peti tua, tapi juga seluruh kamar Loup. Sampai-sampai Loup bisa melihat sarang laba-laba di tepian atap loteng dekat tempat tidurnya.

Loup mengelus halaman pertama buku coklat itu. “Masih basah,” pikirnya. Lembaran usang dan kasar tersebut terasa dingin di ujung-ujung jarinya. Lembar kecoklatan itu kosong, seperti juga lembar-lembar lainnya dalam buku itu. Loup menggeleng heran, berpikir untuk apa ada sebuah buku di perpustakaan yang isinya tidak ada. Buku kosong adanya di toko buku dan tas-tas anak-anak sekolah. Itupun buku-buku baru, dengan lembaran putih bersih dan sampul warna-warni. Loup yakin Vanda tidak bercanda, tapi yang ada di hadapannya cuma buku usang yang basah dan kosong. Loup berjalan ke tepi jendela dan duduk sambil memandang langit yang cerah berbintang, jam segini tidak akan mudah melihat pemandangan apapun kecuali rumah-rumah yang menaruh lentera minyak di depan rumah mereka. Ia tidak bisa melihat perpustakaan Pak Londra, padahal letaknya tidak terlalu jauh, tapi perpustakaan itu selalu gelap. Lentera-lentera hanya dinyalakan di ruang baca dan hanya saat ada yang membaca. Loup tergoda untuk mengunjungi perpustakaan dan bertanya-tanya pada Pak Londra tapi tidak malam ini. Dilihatnya rumah Vanda yang terang benderang oleh deretan lentera pada tiap sudut rumah, hanya kamar Vanda yang selalu agak gelap, lampu hidup saja yang tergantung di dalam kamarnya, jadi Loup hanya bisa melihat siluet vanda dari lotengnya, seperti malam ini. Dipicingkannya matanya sedikit. Ada siluet jelas keluar dari kamar mandi yang terang masuk ke kamar yang gelap dan jadi bayangan hitam saja. Vanda kah? Tentu saja. Siapa lagi?

Loup menelan ludahnya. Vanda memang sahabatnya tapi ia tetap wanita dan sudah cukup lama Loup melihatnya sebagai wanita akhir-akhir ini. Loup membuang muka, mencoba mengalihkan pikirannya pada tugas mengeringkan buku malam ini. Ia pun berjalan lagi ke pojok kamarnya tempat peti tua, buku basah dan lenteranya berada.

~~~#~~~

“Tidak ada gunanya,” pikir loup. Dibukanya lembar demi lembar halaman buku tua yang mulai mengering itu. Tetap tidak tertulis apapun. Dibawanya buku tersebut mendekati lentera minyak dengan harapan ia akan bisa melihat puisi-puisi yang dikatakan oleh vanda. Tadinya ia berfikir, jika buku itu sudah mengering, puisi-puisi itu akan muncul dengan sendirinya. Seperti buku ajaib. Tapi ternyata tidak seperti itu.

Putus asa, dilemparkannya buku itu ke atas meja kayu. Jika hingga esok pagi Vanda tidak menemukan sebaris kata pun didalamnya, ia pasti akan marah padaku. Tapi saat ini tidak ada yang bisa dilakukan, jadi Loup memutuskan untuk tidur dan berharap keajaiban akan datang.

~~~#~~~

Diseberang utara, Vanda melihat kamar Loup yang masih terang benderang. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Loup membolak balikkan buku tua itu. Vanda tertawa membayangkan ekspresi keras kepala Loup saat ia berusaha mencoba membaca apapun yang tertulis disana. Tapi Vanda mulai mengerti, Loup tidak bisa menemukan apapun mungkin juga seperti halnya Pak Londra. “Jalan menuju kota yang tidak pernah gelap” begitu kata Pak Londra, setelah ia sendiri bertanya apakah Vanda bisa melihat apa yang tertulis di buku itu? Sepertinya memang Pak Londra mengetahui tak ada tulisan di buku itu. Kalau tidak, mengapa ia bertanya? Tapi mengapa ia menyuruhku membawa pulang buku untuk dibaca dirumah? Benarkah kota seperti itu ada? Vanda mencoba membayangkan rasa matahari di kulitnya. Tidak bisa.. hanya ada dingin yang membekukan. Mungkin karena aku sudah terlalu lama hidup dalam gelap, pikirnya. Tapi, bukankah hal yang menyenangkan jika Hagistra bisa bercahaya lagi? Akankah senangnya bisa membaca di padang rumput tanpa harus membawa-bawa lentera? Dan tidak akan ada omelan lagi karena terlambat pulang. Dibuku itu mungkin tertulis bagaimana caranya pergi ke kota yang penuh cahaya dan mencari tahu bagaimana caranya membawa matahari ke hagistra. Mungkin. Mungkinkah Loup mau membantunya?

Vanda mengulang adegan di lapangan tadi. Loup memang tidak tampan seperti Jon ataupun Luthe, akan tetapi Loup teman yang sangat menyenangkan. Hanya Loup yang tidak menganggapnya aneh di sekolahan. Loup selalu mendengarkan ocehan Vanda cerita dongeng yang baru saja ia baca dari buku yang ia pinjam dari perpustakaan Pak Londra. Dan sekarang walau selalu mengejek, Loup terlihat percaya waktu Vanda berkata ada sajak tertulis di buku itu. Vanda menyayanginya. Pasti Loup mau membantunya, seperti halnya Vanda yang bersedia melakukan apapun untuk sahabatnya itu.

Membawa khayal tentang Loup dan Hagistra yang hangat, Vanda tertidur.

~~~#~~~

Vanda terbangun lalu berdiri di tengah kamarnya sambil menggenggam seikiat bunga Astride yang tergolek di sisi tempat tidurnya. Entah datang dari mana seikat bunga itu. Dia memperhatikan cahaya berusaha menerobos kamarnya melalui celah-celah jendela. Dia melirik jam di kalungnya. Sudah dua jam lewat dari waktu makan siang. “Mengapa di luar masih terang?” benaknya bertanya. Dia melangkah mendekati jendela dan membukanya. Matanya dikejutkan oleh pemandangan langit yang bermandikan cahaya dan dikejauhan terlihat, lapangan Voltren yang dipenuhi dengan bunga-bunga Astride. Hatinya sangat senang melihat pemandangan yg Indah itu.

“Oh, ada seseorang disana” bisiknya lirih. Sosok itu sangat dikenalnya. Loup. Segera dia memanggilnya. Namun kata-katanya tertahan ketika dia melihat ada orang lain di lapangan itu. Vanda memperhatikan dengan seksama. Itu dirinya sendiri! Dia melihat dirinya sendiri sedang mengejar Loup sambil membawa tali tarquis.

“Hey!” teriaknya. Lalu dia spontan bergerak untuk meloncati jendela mencoba menuju balkon kamar tanpa melewati pintu yang berada di ujung berbeda dengan jendela tempatnya berdiri. Gdubrak!. “Sial! Apa ini?!” dia berseru keras. Sekarang Vanda baru memperhatikan bahwa dia menggunakan sebuah gaun. Gaun putih panjang berwarna gading kekuningan yang berkilau menutupi hingga ke mata kakinya. “Dari dulu aku selalu berpikir gaun memang sangat tidak praktis. Lihatlah!”. Vanda menggerutu.

Dia sedang berusaha berdiri ketika ada tangan terulur untuk membantunya berdiri. “Tapi kau cantik sekali mengenakannya.” Disambutnya tangan itu dan ketika dia menengadah dia mendapati Loup berdiri dihadapannya. Tapi Loup yang ini sangat berbeda. Dia tampak lebih dewasa. “Loup…” sahut Vanda lirih. “Tapi tadi aku melihatmu di luar sana.” Vanda menunjuk keluar jendela dan tiba-tiba cahaya terang sudah lenyap digantikan oleh kegelapan yang mencekam, jauh lebih gelap dari Hagistra biasanya. Dan ia merasakan ada yang hilang di genggamannya, Loup yang dewasa itu pun telah tiada. Hanya tinggal Vanda sendirian di sisi jendela dengan peluh yang memenuhi wajahnya.

“Mimpi buruk yang aneh!” umpat Vanda. Tapi Loup boleh juga tampilannya tadi. Senyum kecil Vanda terbentuk di ujung bibirnya. Menarik seimutnya, ia berusaha untuk kembali terpejam.

~~~#~~~

Api di Lilin tothy yang sengaja dinyalakan di ruang baca Pak Londra bergoyang terkena semilir angin. Angin itu membuat wangi ekstrak bunga Astride menyeruak ke seluruh ruangan, membuat efek damai bagi yang menciumnya. Wangi itu seperti wangi bunga Lavender bercampur dengan mawar kuning kadang wangi lautan juga muncul dari hangatnya cahaya putih lembut yang dipijarkan.

Berbeda dengan nyala api di lentera minyak, api lilin tothy tidak berwarna kuning, melainkan ungu terang yang tentram. Cahayanya nyaman sekali jika digunakan untuk membaca buku. Terkadang muncul percikan bunga api dari sumbu yang terbakar. Bunga api itu berwarna-warni, seperti kembang api di malam perayaan ulang tahun Hagistra.

Pak Londra masih menyimpan satu peti besar lilin tothy. Ia mendapatinya di ruang bawah tanah perpustakaannya bersama dengan berbotol-botol kristal anggur buatan moyangnya yang tersimpan dengan rapi di rak-rak kayu. Ia sengaja menyimpan lilin tothy untuk kepeluan khusus. Sekarang entah kenapa hati Pak Londra sangat riang sekaligus gundah. Ia membutuhkan cahaya tentram dan wangi tothy yang menenangkan. Diletakkannya lilin itu di pojok ruangan, di atas meja bundar disebelah kursi bersandaran tangan yang empuk dan terbalut kulit rusa seraya duduk diatasnya sambil membuka buku yang berjudul “Mengumpulkan Semangat, Sinar Illahi dan Serumpun Asa untuk yang Tercinta Kelak”. Buku itu tampak tua dengan debu halus di antara lembaran-lembarannya.

Pak Londra memiliki sangat banyak buku. Tiap malam sebelum tidur, ia selalu menyempatkan membaca satu buku yang dipilihnya secara acak dengan mencabut sembarang kartu katalog dari lacinya. Kali ini laci katalog itu memilihkan buku itu untuknya. Buku itu berisi tentang tuturan seorang ibu yang menunggu anak dalam kandungannya untuk dilahirkan ke dunia.

Pak Londra tiba tiba menaruh buku itu dimeja. Diurungkan niatnya untuk membaca buku itu. Cahanya ungu lilin tothy menerangi sampulnya, memantulkan kata kata yang tertulis dari sampulnya; SEMANGAT – SINAR – ASA

Terbayang dibenak Pak Londra sosok riang Vanda tadi siang. Teringat pancaran mata bulat yang selalu penuh dengan pertanyaan. Pak Londra mulai tahu apa penyebab kegembiraan yang bercampur kegelisahannya itu. Kaus kuning Vanda tadi,   S-I-N-A-R, Pak Londra melihatnya dalam ingatan. Pandangan mata itu, SEMANGAT, dan ASA nya untuk mendapat sesuatu yang lebih baik.

Dan lebih dari itu, Vanda berkata bahwa ia dapat melihat isi buku itu, bahkan membacanya. Ia katakan padanya, buku itu berisi sajak yang tak dimengertinya. Sajak, ulangnya dalam hati. Seumur hidupnya Pak Londra menyimpan buku itu tanpa mengetahui isinya. Buku itu kosong, baik sampul maupun isinya. Ia tak tahu bagaimana buku itu bisa berada di perpustakaannya seperti kebanyakan buku yang ada disana. Ia sering bermimpi bahwa buku itu adalah penunjuk ke kota yang tak pernah gelap. Selalu terngiang di kepalanya bahwa buku itu berharga. Maka dari itu ia menyimpannya dengan harapan suatu saat ia mengerti maksud dari mimpinya tersebut.

Tetapi ia ingat betul bahwa ia menaruhnya dengan rapi di ruangan kantor perpustakaan, bersama dengan buku-buku yang belum ia kumpulkan dengan subjek yang sama dengan buku lainnya. Buku itu ada di dalam lemari, di rak yang paling tinggi.

Bagaimana buku itu ada di Vanda? pikir Pak Londra. Ia selalu bilang ke anak-anak yang datang ke perpustakaannya, bahwa buku yang memilih pembacanya. Ia percaya itu. Tapi buku yang menghampiri pembacanya secara harfiah – terbang melayang ke pembacanya – tidaklah mungkin. Sambil berpikir, Pak Londra bangkit dan berjalan ke kantor perpustakaannya. Ia ingin memastikan apakah lemari itu rubuh, atau tak terkunci. Bagaimana buku itu sampai di tangan Vanda? Menepis pikiran anehnya Pak Londra mengira, mungkin buku itu memang terjatuh dari lemari lalu terbawa oleh anak-anak nakal yang suka mengoprek ruangan kantornya yang penuh lukisan.

Sesampainya di muka kantor, Pak Londra membuka pintunya yang berat. Ia mendapati ruang kantor itu rapi tak seperti bekas kedatangan sekelompok anak-anak nakal yang mengacak-acak atas mejanya. Tumpukan suratnya pun masih rapih tersusun diatas meja. Globe masih ditempatnya semula ketika ia menunjukkan letak kutub utara dan selatan pada Tim, salah seorang anak yang nakal itu.

Pandangannya beralih ke lemari tempat ia menyimpan buku yang kini dibawa Vanda. Lemari itu kokoh dan tinggi terbuat dari kayu Elk yang terbaik yang pernah ia miliki. Karena lantainya agak miring, pintunya selalu terbuka dengan sendiri. Pak Londra membeli kunci gembok agar lemari itu tertutup sedia kala. Terkejut Pak Londra ketika ia mendapati lemari itu masih terkunci dengan rapat. Ini mulai aneh, pikir Pak Londa. mengerenyitkan kulit dahinya.

~~~#~~~

Loup menghampiri Vanda pagi-pagi sekali ketika ia sedang melepaskan kunang-kunang di taman belakang rumahnya, matahari baru saja terbangun dari tidur pulasnya dan langit masih keungu-unguan. Selapis embun mengusap kaki-kaki mereka yang telanjang.

“Maaf,” ujar Loup pelan, nyaris tak terdengar tersaput angin yang membekukan tubuh. Dijatuhkannya tubuh kurusnya dengan putus asa ke bangku taman, dijatuhkannya tas Vanda dan buku coklatnya ke atas meja kayu taman yang terawat rapih, yang pada tiap kaki mejanya ada sulur tanaman rambat hijau yang dikaitkan pada tepian luar atas meja sehingga meja itu sendiri tidak terganggu si tanaman rambat. Vanda tidak menoleh barang sedikitpun, perhatiannya terpusat pada kunang-kunang yang harus ia lepaskan kembali ke habitatnya setelah semalaman membantunya menyinari kamarnya, dan jam empat sore nanti ia harus menangkap lagi beberapa kunang-kunang untuk menyinari kamarnya nanti malam.

“Kenapa?” tanya Vanda acuh tak acuh. “Benda itu!” tunjuk Loup dengan emosi agak berlebihan. “Buku itu sudah kukeringkan lembar demi lembar sampai aku kurang tidur! Aku menghabiskan dua kantung minyak simpananku yang seharusnya bisa kupakai untuk menerangiku untuk membaca sekitar lima hari. Dan itu berarti dua huper akan keluar dari uang saku mingguanku untuk membeli dua kantung minyak! Dan. Arrrghh!” Loup mengepalkan tangan, menarik napas dan memejamkan mata mencoba menenangkan diri. Dua puluh detik kemudian ia membuka mata dan menarik napas dalam-dalam.

“Intinya.. semua itu percuma. Buku itu tetap enggan mengeluarkan tintanya. Tidak ada tanda-tanda tintanya luntur. Tidak.. tidak, aku.. tidak mengerti,” Loup mengerang putus asa.

Vanda akhirnya – untuk pertama kalinya sejak Loup duduk di bangku taman itu – menoleh. Matanya menatap tanpa emosi sehingga Loup tak bisa menebak-nebak. Dan ternyata Vanda cuma mengendikkan bahu. “Baiklah. Tidak apa. Bukunya kering?” Loup mengernyit heran sekaligus kesal. Ia bicara panjang lebar dan penuh emosi sementara Vanda hanya butuh bukunya kering. “Yeah,” loup memutar bola matanya.

Vanda mengangguk sambil tersenyum. Dibukanya botol plastik milik Loup untuk mengeluarkan kunang-kunangnya dan mendapati beberapa kunang-kunang hampir mati lemas dipelototinya sahabatnya itu. “Kali ini berapa lama kau memperbudak mereka?” Tanya Vanda galak. Loup kaget, tidak siap menghadapi pertanyaan tentang kunang-kunang. Semalaman cuma buku itu yang ada dalam pikirannya.
“E.. ng .. dua.. dua hari, ya dua.. Pasti, eh mungkin. Biasanya paling lama dua hari. Ya.. kemarin aku tidak memikirkan kunang-kunang, apalagi..” Vanda menatapnya makin galak.
“Baiklah. Aku tidak ingat,” Loup mengaku. Percuma membela diri saat salah di depan Vanda. Salah tingkah hanya membuat Loup terlihat makin salah -dan bodoh.

“Alasan!” makinya pendek. Ditutupnya lagi botol plastik yang sudah kosong. Vanda memang sudah sering mengingatkannya soal kunang-kunang itu. Vanda sendiri orang yang teratur melepas dan menangkap kunang-kunang itu. Ia menghargai kunang-kunang jauh lebih banyak dibanding hal-hal lain.

Baginya keberadaan mereka sangat penting, jangan sampai mereka punah karena ulah lalai orang seperti Loup. Punah seperti lilin tothy dan matahari. Vanda berbeda dari anggota keluarganya. Vanda hanya menggunakan lampu hidup sebagai penerang utamanya, tidak yang lain

Ia tidak menyukai lentera minyak. Menurutnya harga minyak terlalu mahal. Satu kantung minyak seharga 1 huper yang hanya mampu memberi penerangan selama kurang lebih tiga jam adalah pemborosan – dan terlalu mahal. Dengan harga seperti itu harusnya pemerintah daerah mampu mengusahakan cahaya yang layak bagi Hagistra yang sudah beberapa tahun ini dirundung kegelapan. 1 huper mungkin tidak mahal untuk keluarga Vanda yang setiap sore menjelang malam menyalakan lebih dari lima lentera minyak, tapi satu huper adalah kerja keras tukang taman harian yang diupah oleh ayah Vanda untuk bekerja di taman pribadi mereka selama dua hari.

Makanya lain bagi Vanda, lain pula pendapat keluarganya yang lain, mereka orang-orang yang menyukai rumah yang terang baik di dalam maupun di luar, entah karena kebutuhan atau karena gengsi. Ayah Vanda mampu membeli lebih dari lima belas kantung minyak setiap harinya; masing-masing untuk menerangi empat lentera minyak di tiap sudut rumah, satu di ruang tamu yang sekaligus bisa menerangi ruang keluarga mereka yang dekat perapian, satu untuk setiap kamar yang keseluruhannya ada tiga, karena gudang dan perpustakaan ayah tidak perlu lentera minyak dan kamar Vanda jelas tidak, dan satu di ruang keluarga, yang bisa dibawa ke kamar mandi – minus kamar mandi Vanda. Menurut Vanda itu benar-benar pemborosan, apalagi biasanya lentera minyak itu dinyalakan selama tiga sampai lima jam untuk yang di dalam rumah dan hampir delapan belas jam untuk yang tergantung di luar. Pemborosan luar biasa! Sampai-sampai Vanda sering berpikir mustahil ayahnya hanya bekerja sebagai pemilik toko ikan!

“Kau ada rencana apa hari ini?” suara itu memecah keheningan, mengembalikan Vanda dari pikirannya dan membawa dirinya kembali ke taman belakangnya yang membeku. “Ke perpustakaan” jawab Vanda cepat. “Aku ingin tahu kenapa tinta-tinta itu tidak ada, padahal kemarin aku melihatnya dengan jelas”, tambahnya sambil memasukkan buku bersampul kulit coklat yang kertasnya agak menggembung dan keriting karena air ke dalam tas-nya. “Kau sendiri?” Tanya Vanda yang sudah mengambil posisi meninggalkan taman untuk segera masuk ke rumah. Loup bangkit dengan tubuh lelah karena kurang tidur dan berjalan gontai membelakangi Vanda menuju rumahnya.
“Tidur”.

~~~#~~~

Vanda berjalan sambil menikmati udara pagi yang dingin dan segar, kakinya hanya beralaskan sandal tali kulit sehingga embun mengelus jari-jemarinya sampai kedinginan.

Melewati lapangan Voltren pada pagi hari di jam-jam dimana orang-orang mungkin masih sarapan atau terlelap rasanya sangat berbeda dengan melewatinya pada siang atau sore hari. Masih sangat sepi dan tidak ada anak bermain bola korgi. Rumput-rumput liar terbujur kaku karena beku, sinar matahari belum menghangatkan udara di sekitarnya. Lapangan itu nyaris kosong. Hanya ada ibu penjual sayuran yang menyempatkan diri membawa bayinya menikmati matahari pagi dan beberapa pedagang montel – minuman asam berwarna hijau gelap penghangat lambung yang biasanya dibeli oleh para pengunjung lapangan.

Tadi sebelum sarapa Vanda memeriksa ulang buku itu, yang menurut Pak Londra adalah buku yang terdengar tentang jalan menuju tempat yang tidak pernah gelap. Tapi tidak ada apapun di dalamnya. Ia hanya bisa mencium bau lapuk dari kertas-kertas tua di dalamnya dan wangi sesuatu, yang tidak dikenalnya. Ia belum pernah mencium bau apapun yang seperti itu. Wangi lembut seperti bunga, agak tajam seperti minuman yang kerapa diminum ayahnya, dan wangi manis yang mengundang hasrat penasarannya – misterius – entah apa dan bagaimana harus menjelaskannya.

Selesai memeriksa dan hasilnya nihil, ia memutuskan segera turun ke ruang makan dimana Ibunya sudah menyiapkan sepotong besar roti, keju hangat yang baru dikeluarkan dari bungkus kulit sapi tanda baru dibeli pagi ini. Juga, dua iris panjang daging sapi berlumur kaldu dan susu panas yang masih berdadih. Vanda turun agak terlalu pagi sampai belum ada satu orangpun di meja makan. Ibunya masih sibuk bersama nona Minaili memotong beberapa buah untuk dijadikan makanan penutup. Vanda buru-buru mengambil keju dan roti bagiannya lalu bergegas menyelinap melalui pintu depan.

Dimasukkannya rotinya ke tas. Ia malas ditanya maupergi kemana pagi-pagi begini dan perpustakaan adalah alasan yang pasti sulit diterima Ibunya.

~~~#~~~

Vanda sudah sampai di depan pagar perpustakaan sekarang. Ia ragu-ragu untuk masuk takut Pak Londra masih terlelap di pagi yang dingin ini dimana orang-orang setua dia mungkin lebih suka menarik selimut sampai ke lutut dan duduk di depan perapian sambil minum montel hangat, bukan berada di perpustakaan yang gelap, lembap dan berbau debu buku. Tapi ia ingat kata-kata kakek tua itu bertahun-tahun lalu.
“datanglah kesini kapanpun kalian mau”. Waktu itu Vanda mengangguk saja, lalu Pak Londra dibalik kacamatanya menatap Vanda hangat

“Kapanpun. Artinya benar-benar kapanpun. Perpustakaan ini tidak pernah tutup. Ingat itu, nak”. Katanya lembut sekaligus tegas. Saat itu Vanda tidak merasa itu adalah hal yang penting untuk diingat hanya mengangguk riang dan bergegas pergi sambil membawa buku dongen yang dipinjamnya. Baru hari ini ia tahu kata-kata itu punya arti penting baginya.

Didorongnya pagar besi hitam yang mengilap itu. Walaupun suasananya agak suram, segala sesuatu di perpustakaan terawat baik, mungkin kecuali karpet merah marun lapuk yang memang agak mahal apabila harus membeli baru. Tapi yang jelas semuanya dalam keadaan bersih dan terawat baik.
Perpustakaan masih kosong sepertinya, Vanda mendorong pintu kayu besar yang berbentuk seperti buah nanas itu dan mendapati meja-meja masih gelap dan kursi-kursi masih tersimpan rapi di tepi-tepi meja. Hanya ada satu meja yang agak terang di pojok ruang baca – meja baca Pak Londra. Lilin toothy yang tinggal sebuku jari menerangi meja kayu jati dimana ia melihat Pak Londra tertunduk menghadap meja. Ia menutup pintu pelan, agak heran, biasanya Pak Londra selalu menyapa pengunjung yang dating ke perpustakaannya. Tertidurkah ia?
Vanda mendekat, matanya terpaku pada lilin toothy yang menyinari dahi pak Londra yang agak gelap tertutup bayang-bayang rak buku di samping-sampingnya.

“Pak Londra”, panggilnya pelan. Wajah kerut itu tetap diam. Wangi bunga astride yang memenuhi ruangan membius Vanda, membuatnya merasa nyaman dan hangat. “Pak..”, panggilnya lagi. Kali ini ia berada cukup dekat dengan Pak Londra untuk melihat wajahnya. Tak ada yang aneh, wajah itu tetap terlihat lembut sekaligus lelah seperti biasanya, yang mengkhawatirkan adalah mata yang terbuka, kulit yang seputih kertas dan sapaannya yang tanpa jawaban.

Vanda mundur – tercekat. Mengurungkan niatnya untuk menyentuh kakek tua itu. Dadanya bergemuruh, berdebar-debar kencang antara kaget dan takut. Takut akan pikiran yang berkelebat sekarang dalam dirinya itu nyata, dan kaget mendapati kenyataan ini pertama kalinya ia menemukan kejadian yang mungkin saja semengerikan pikirannya.

Lilin toothy yang hampir habis menerangi gambar-gambar di lembaran yang terhampar di meja itu. Vanda sempat menangkapnya sekilas sebelum berlari keluar. Setelah memastikan ia telah menutup rapat pintunya, ia berlari kembali ke rumah Loup.

~~~#~~~

Vanda bergegas pergi ke rumah Loup dan menceritakan perihal tadi pada sahabatnya yang kurus itu. Tak hanya Loup, keluarga Loup yang sedang berkumpul di dapur -tempat mereka sarapan bersama- juga ikut mendengarkan. Pak Morano menelepon petugas penjaga keamanan kota untuk memastikan kebenaran cerita Vanda. Loup mengajak Vanda ke lapangan Voltren. “Siapa tahu disana kau lebih tenang” ujar Loup.

Vanda tak mau pulang ke rumah, ia takut ibunya khawatir. Ibunya memang terlalu sayang pada Vanda, sampai-sampai jika ada hal kecil saja yang tak sesuai, Ibunya pasti menangis cemas. Apalagi ia tadi pagi tak pamit pada ibunya.

~~~#~~~

“Vanda, mereka mencarimu” seru gisham lalu jatuh telentang terengah-engah berbaring disisi Vanda. Wajar saja mengingat gisham telah berkeliling desa mencari Vanda yg akhrnya ditemukan sedang asik bersama Loup. Siapa mereka Gres? Tanya Vanda sambil lalu. “Penjaga kemanan kota.” kata Gisham segera, kembali mengingat tujuan semula. Sementara itu Loup dan Vanda saling berpandangan. Vanda baru saja menceritakan pada Loup tentang Pak Londra. Gisham meneruskan kalimatnya. “Penjaga kemanan kota mencarimu karena Pak Londra tewas, dan ada yang melihat kalau kau, pagi ini adalah orang terakhir yang keluar dari perpustakaan. Apakah tadi kau bertemu dengannya?” Ternyata Gisham tidak datang sendiri, meyusul dibelakangnya beberapa orang dengan seragam biru tua. Gisham berusaha bangkit. “Aku harus kembali ke rumah, tugas aritmatikaku belum selesai, dan kau telah berjanji untuk membantu. Kutunggu kau dirumah, nanti”.

“Terimakasih atas informasinya Gres, aku akan segera kesana”. mata Vanda memandang tajam berkeliling. Ia ada di sini. di lapangan Voltren bukan karena ingin melarikan diri dari pertanyaan-pertanyaan petugas penjaga keamanan kota,
tapi karena ia ingin menceritakan dulu pada sahabatnya apa yang ia temukan di perpustakaan dan Pak Londra. Tergesa-gesa, Vanda telah menaruh buku bersampul coklat itu di kotak pos nyonya Kiring yang sudah berkarat karena memang jarang digunakan. Nyonya Kiring bukan orang yang suka bersosialisasi, apa lagi beresponden.

Kepergian Gisham dilanjutkan dengan kedatangan penjaga keamanan kota. Loup menyenggol bahu Vanda, yang dimaksud hanya duduk diam, tidak melakukan apapun. Penjaga keamanan kota itu ada tiga orang dan salah satu diantaranya seorang wanita berwajah kusam dengan wajah manis dibuat-buat saat memanggil Vanda dengan nada suaranya yg sama sekali tidak lembut.

“Vanda Wismollin?”, tanyanya sambil mengambil tempat duduk di samping Vanda, Vanda menatap lurus-lurus. “Ya”, jawabnya pendek. Loup sudah akan bangkit meninggalkan jejaknya pada rumput basah disamping Vanda saat tangan Vanda menariknya pelan. “Kami mendapat telepon di bagian darurat pada pukul enam tiga puluh dua tadi, tercatat dari Loup anak tuan Mornano yang melaporkan bahwa temannya Vanda menemukan keanehan pada pustakawan Londra tadi pagi, yang diduga adalah kematian”. Vanda mengangguk, “Ya, saya Vanda, yang menemukan Pak Londra tadi pagi. Benarkah ia …”, Vanda yang tadinya mencoba menjawab tegas tanpa bisa dikendalikan gemetar saat menanyakan kebenaran tentang Pak Londra.
Perempuan berseragam biru tua itu menatap Vanda tanpa emosi dan mengabaikan pertanyaannya. “Penyebabnya belum dapat kami pastikan, kami masih menunggu laporan resmi dari petugas kesehatan kota.  Yang jelas kami membutuhkan informasi dari saksi mata yang melihat keadaannya tadi pagi”,
lanjutnya “Dan kami mengharapkan kerjasamamu. Kami harap kau menjawab pertanyaan kami dengan sejujur-jujurnya’

“Apakah kau menemukan Pak Londra di kursi itu?” tanya sang Penjaga keamanan kota satunya lagi sambil menurunkan kacamatanya ke ujung hidungnya yang tidak begitu mancung. “Ya,” jawab Vanda. Tapi aku begitu takut jadi langsung keluar ruangan. Aku tak pernah melihat may.. err orang meninggal sebelumnya. Aku langsung ke rumah temanku, Loup. Saya pikir orang tua Loup lah yang menelepon kalian dan memberitahukan segalanya. Saya telah menceritakan semua pada keluarga Loup. Apakah saya harus menceritakannya lagi?” kicau Vanda sambil bergidik ketakutan. Melihat wajah Vanda yang pucat, penjaga keamanan itu berkata “Tidak usah , sayang. Semua sudah kami catat. Apakah kau bersedia ditanya lagi ketika dibutuhkan?” petugas itu memasukkan pensilnya kedalam saku. “Menurut dugaan sementara petugas kesehatan, Pak Londra meninggal karena serangan jantung. Sungguh kasihan kau melihatnya seperti itu. Mari kuantar pulang. Tapi sebelumnya ada beberapa hal yang harus kutanyakan.” lalu ia melanjutkan “Apakah kau dekat dengan Pak Londra? Karena sepertinya ia menunggumu. di mejanya ada daftar buku yang pernah kau pinjam dari perpustakaan ini. Terlihat kau rajin membaca. Memang bukan hanya kau, tapi beberapa daftar pinjaman lain teronggok di meja pak Londra.”

“Ada beberapa benda lagi di atas meja itu. Masih ada sekarang. lihatlah, apakah ada yang kau kenali?” tanya wanita itu setelah mengeluarkan beberapa lembar  gambar hasil photo polaroid dari tas dokumennya. Lembaran photo itu berukuran cukup besar sehingga Vanda segera mengenali bahwa itu adalah gambar-gambar yang diambil di perpustakaan Pak Londra. Vanda mengulurkan tangannya untuk meminta photo itu. Lembarannya yang masih agak lengket, artinya photo itu baru saja diambil.

Vanda menjawab “Yang ini pasti lelehan lilin toothy”, Vanda menunjukkan jari telunjuknya pada gambar kurva tidak berarturan diatas meja kayu. Kurva itu berwarna ungu. “Lalu ini beberapa kartu, gambar aneh, sepertinya kartu yang dipakai untuk meramal, ya?” Vanda yang tak pasti balik bertanya. “ Tapi ini semua terbalik. Eh, ini ternyata ada beberapa yang terbuka tapi kok tidak ada gambar di kartunya?. Lalu ini sebuah buku pegangan ibu hamil. Aku pikir itu saja. Mengapa kau bertanya padaku? Memangnya kau tidak dapat mengenalinya sendiri?” ujar Vanda polos.

Petugas itu mengangkat alisnya wajahnya melongo. Tak kiranya ia mendapat pertanyaan macam itu oleh gadis remaja yang nampaknya nakal ini. Ditepisnya hal itu lalu kembali bertanya. “Satu hal lagi, kami mendapat informasi, ada orang yang masuk ke perustakaan ini sebelum kau. Apakah kau bertemu dengannya? Tapi sepertinya tidak. Bapak tua yang mabuk itu tidak dapat dipercaya perkataannya. Ya sudah lah. penjaga keamanan kota disana akan mengantarmu pulang ke rumah segera. Terimakasih atas bantuannya.” Cerocos ibu penjaga kemanan kota itu sendirian. Mungkin ia jengah berbicara dengan Vanda. “Terimakasih atas bantuan mu, Gadis muda! Nanti kau akan kami hubungi kembali jika ada kemajuan lebih lanjut.”  Perempuan itu berbalik badan dan menggerakkan tangannya memberi kode pada koleganya untuk mengantarkan Vanda pulang.

~~~#~~~

“Ada yang melihat orang lain masuk ke perpustakaan ini.. mungkin kelibatan cahanya itu lah orangnya. Tapi mengapa ia tidak muncul menghampirinya tadi? Atau apakah ia yang…” Vanda bermain dengan benaknya sendiri. “Pak londra sangat sehat. Ia sering bermain bola korgi bersama loup dan kawannya. Pak Londra tidak mempunyai penyakit jantung” pikir Vanda lagi. “Pasti ada seseorang yang membunuhnya. Tapi mengapa? Pak Londra selalu baik pada semua orang, Bahkan pemabuk yang selalu ada di belakang halaman perpustakaannya.”

“Ada hal ganjil di lembaran gambar yang ditunjukkan Ibu penjaga kemanan itu tadi. Andai saja aku dapat mengingatnya”. Dahi Vanda berkerut sangat. Ia berusaha mengingat-ngingat kejadian tadi pagi. Tapi yang terbayang hanya kulit pucat Pak Londra yang mengerikan baginya.

~~~#~~~

Dirangkul petugas keamana kota, Vanda dan Loup diantar pulang menuju rumahnya. Perjalanan dari lapangan Voltren ke rumah melewati perpustakaan. Terlihat halaman perpustakaan dipenuhi oleh orang-orang. Baik itu yang berkepentingan seperti para penjaga keamanan kota, petugas kesehatan kota, para masyarakat yang ditanyai, dan juga mereka yang datang karena hanya ingin tahu ada apa dibalik kerumunan ini.

Mengerling sedikit ke arah pintu perpustakaan, Vanda bergidik ngeri sekaligus berharap mendapatkan informasi lebih banyak tentang pemabuk yang dikatakan penjaga keamanan kota. “Itu disana!” benak Vanda. Ia melihat seorang lelaki kumal memandangi mereka dari balik pohon besar dekat perpustakaan dengan mimik penasaran dan takut. Ia kah pemabuk yang dimaksud? Vanda kini diantar menuju rumahnya, ia yakin berita ini telah sampai lebih dulu pada keluarganya di rumah sebelum ia sendiri sampai.

Setibanya di rumah, ibunya telah berdiri menunggu di depan pintu dengan wajah cemas yang tak dibuat-buat. Segera ibunya berlari ke halaman dan memeluk Vanda. “Dari mana saja, kau Nak? Ibu cemas. Apakah benar yang mereka katakan?” Vanda merasa nyaman dipelukan ibunya. Hilang kini rasa takutnya akan kejadian tadi pagi. Ibu baunya seperti roti Dumlep. Manis dan gurih.

Tinggal Loup yang risih dengan keadaan ini. Ia tak pernah diperlakukan begitu hangat oleh ibunya. Jika ia dalam keadaan itu, pasti ibunya sedang berkacak pinggang sambil melotot. Menunggunya untuk mengomeli Loup yang nakal. Tangan Loup ditarik oleh ibu Vanda. “Loup, mari sini nak, kita minum teh dulu bersama”. Loup menerima ajakan itu dan melangkah bertiga masuk kerumah Vanda yang terang dan wangi vanelli.

—- DARI SINI BAGIAN INI BELUM DIEDIT— BAGIAN INI BELUM DIEDIT—CRASH SAMA TULISAN ENG

setelah menyelesaikan makan roti Dumlep dan menjawab pertanyaan-pertanyaan ibunya, vanda pamit untuk bicara sebentar dengan Loup di perpustakaan. Perpustakaan pribadi itu letaknya agak di belakang dekat taman dengan pemandangan ke alam terbuka dan jendela-jendela yang besar dan bisa dibuka lebar, sehingga kalau kita duduk dekat jendela rasanya sama… See More seperti sedang duduk di taman. Tapi kali ini Vanda tidak membuka jendelanya, hanya menggeser kain penutupnya agar ruangan itu dapat cahaya. Ditariknya sebuah kursi kayu berkaki besi dan duduk, dimintanya Loup duduk di hadapannya, di seberang meja baca. setelah menyelesaikan makan roti Dumlep dan menjawab pertanyaan-pertanyaan ibunya, vanda pamit untuk bicara sebentar dengan Loup di perpustakaan. Perpustakaan pribadi itu letaknya agak di belakang dekat taman dengan pemandangan ke alam terbuka dan jendela-jendela yang besar dan bisa dibuka lebar, sehingga kalau kita duduk dekat jendela rasanya sama seperti sedang duduk di taman. Tapi kali ini Vanda tidak membuka jendelanya, hanya menggeser kain penutupnya agar ruangan itu dapat cahaya. Ditariknya sebuah kursi kayu berkaki besi dan duduk, dimintanya Loup duduk di hadapannya, di seberang meja baca.

lalu Vanda mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Loup terkesiap melihat apa yang dikeluarkan Vanda, ‘bukankah itu lembar foto yang tadi ditunjuk ibu penjaga keamanan kota?’, tanya Loup-ragu-berharap jawabannya adalah hal yang tidak sedang ia pikirkan saat ini. ‘iya,aku ambil saat benda ini ditinggal di meja karena menurutku ada yang aneh’. Loup mengerang-jawaban Vanda sudah seperti yang diduganya.

sementara semua org berkerumun didepan perpustakaan, disalah satu lorong diantara gedung perpustakaan dengan gedung tua yang tidak terpakai tiga orang lelaki tampak asik berbincang2. jika ada yang memperhatikan, mereka akan mengambil kesimpulan bahwa ketiganya sedang membicarakan perihal kematian pak londra. suara-suara perbincangan disekitar mereka agak meredam suara ketiganya.

“sial…!” kata salah seorang pria bertubuh gempal dengan luka jelek diantara kedua alisnya “aku tidak melihat si gembel itu. menurut kalian, apakah ia melihatku dengan jelas? bagaimana klo ia menceritakan soal kunjunganku tepat sebelum pria tua itu mati?” katanya lg dengan nada kawatir.

“tenanglah…” kata pria didepannya. ia tampak jangkung dengan mantel dan sepatu bootnya. ditangannya tampak sebuah tato aneh, berupa lingkaran dengan segitiga ditengahnya. “tidak akan ada percaya perkataan seorang pemabuk. dan andaikan ia melihat, ia tidak akan mengenalimu. kau memilih waktu yang tepat untuk masuk kedalam prpustakaan itu” suara pria jangkung itu aga menenangkan pria bercodet, meskipun sisa2 kekawatiran masih tampak jelas dari caranya mengusap2 bekas lukanya. pria jangkung itu kembali berkata sambil mengacungkan jari telunjuknya ke muka pria bercodet yang tampak semakin gugup “yg kukawatirkan sekarang adalah, apakah racun yg kau berikan bekerja dengan cukup cepat? akan sangat sial bagi kita kalau lelaki tua itu masih mampu meninggalkan petunjuk, sekecil apapun bagi gadis itu?”.

yang ditanya hanya bisa menggaruk2 kepala botaknya sambil berusaha mengingat2 keampuhan racun yg sudah sering kali dipakainya untuk membunuh tikus2 pengganggu sejak 5 tahun lalu. racun yang diraciknya sendiri dengan menggunakan tanaman beracun poritte ditambah sejumput ini dan itu. racun yang diuji cobakan pada salah seorang tetangganya yang memberikan luka jelek diwajahnya. selama ini racun itu tidak pernah mengecewakannya. tp pagi tadi ia terburu-buru dan sepertinya dosis yang diberikannya tidak cukup banyak untuk membunuh pria tua itu. dan ia juga tidak memiliki waktu cukup banyak untuk menunggui pria tua itu meregang nyawa. pengemis brengsek, makinya dalam hati. tp ia tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya pada kedua pria didepannya ini. pria2 itu bisa lebih kejam darinya, dan ia takut memikirkan balasan atas kecacatan dalam tugasnya. “aku meninggalkannya dalam keadaan tidak bergerak” katanya berbohong. “bisa saja ia berpura2, tp aku ragu ia punya waktu untuk memberikan petunjuk pada gadis itu. bagaimana kalau kau tanyakan pada wanita penyidik itu vorten, bukankah kau mengenalnya?” kali ini ia berkata pada pria satu lagi. pria dengan aura berkuasa. pria yang bernama vorten hanya mengangguk2. katanya dengan nada dingin “aku memang berencana mengajak nyonya brein untuk makan malam, akan kutanyakan padanya. dan jika jawabannya mengecewakan, maka kawanku yang baik… harus menyelesaikan masalah ini dengan sangat segera”. sambil mengibaskan mantelnya, ia berbalik meninggalkan dua pria dibelakangnya. “tenanglah kawan, tidak akan ada jawaban yang mengecewakan. tidurlah.. mungkin malam ini ada tugas baru menantimu” si pria jangkung menepuk2 bahu pria bercodet dengan gaya menenangkan. lalu melangkah pergi menuju utara, meninggalkan pria bercodet dalam kegelisahan

–lanjutan dari bagiannya mi–

“Apa yang aneh?” tanya Loup. “yang aneh itu adalah kau, Vanda! Photo ini kan bukan milikmu, nanti kau dicari penjaga kemanan kota baru tahu rasa.” Tanpa mengelak Vanda menerangkan “entahlah Loup.” Vanda memberikan photo itu pada Loup. Loup mengambilnya dan melihatnya dengan seksama. “ini semua abarang yang ada di meja Pak Londra? humm ini pasti bekas lilin tothy, yang ini tumpukan kartu ramal, yang ini buku .. sepetinya tak ada yang aneh, kecuali Kartu ramal yang terbuka ini semuanya tak ada gambarnya. Bukankah kartu ramal itu biasanya bergambar cerah? seperti gambar awan, matahari, perempuan.” Tiba tiba Vanda bangkit dan hampir berteriak “Nah! itu dia! kartu itu! Tadi pagi sepertinya aku melihatnya ada gambar di atasnya. Mengapa sekarang tidak ada?” Tanya Vanda bersemangat.

Loup menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya menatap ke langit-langit sambil menggoyangkan kedua kakinya. Vanda tahu bahwa Loup sedang berpikir. Gaya Loup khas sekali. “Astaga!” teriak Loup yang langsung menarik tangan Vanda keluar dari ruang perpustakaan ayahnya. “Ada apa Loup?” tanya Vanda kebingungan. Loup tak menjawab. Masih kencang genggaman tangannya pada Vanda. “Sepertinya aku tahu hal yang kau bingungkan itu. Kartu ramal itu, bukan kartu biasa. Ikuti aku”. Mereka berdua kini setengah berlari melewati halaman belakang rumah Vanda yang berkaitan dengan halaman belakang rumah Loup

Vanda tak pernah meremehkan otak encer Loup. Ia sering meminjam pekerjaan rumah Loup untuk disalin. Vanda memang tak begitu paham dengan geometri, Aljabar dan sebangsanya. Loup tak suka Vanda mencontek, tapi leboh tak suka lagi mengajarkan Geometri pada vanda yang langsung tertidur ketika baru saja memulai menerangkan pelajaran itu. Kini Loup selalu pasrah ketika pekerjaan rumahnya itu disalin oleh Vanda.

Tapi Vanda tak mengerti mengapa Loup menariknya. Apakah Loup berhasil menemukan sesuatu? Benaknya berputar seiring dengan badannya yang lunglai ditarik Loup keluar. Loup mengerahkan hampir seluruh tenaganya untuk menarik Vanda. Tubuhnya yang kurus tak terlalu hebat untuk menarik beban tubuh Vanda yang padat. Maka Vanda ikut saja dengan malas. Walhasil, mereka berdua terjerembab tersandung sapu lidi yang diletakkan didekat tiang lampu rumah Vanda.

“Buku itu!, dimana kau taruh buku itu?” tanya Loup terengah-engah. “Buku apa? tanya Vanda. Oooh buku kosong itu? aku taruh di kotak pos Nyonya Kiring. Aku tadi malas membanyanya. Buku cukup berat”, balas Vanda. Lalu Loup berkata cepat “OK, aku akan ke sana untuk mengambil buku itu. Kau punya uang? aku tidak punya. Kau pergilah ke pusat kota. beli sebatang lilin tothy. Kita bertemu lagi disini.” Loup menyerocos mengkomando. Lalu berlari melesat ke rumah Nyonya Kiring meningalkan Vanda yang sekarang melongo tanpa tahu apa yang terjadipada temannya.

Vanda beranjak bangun dari rumput yang selalu lembab di pekarangan belakang rumahnya. Terlihat tulang keringnya membiru akibat terantuk akar pohon yang menyeruak timbul dari dalam tanah. Sial! pikir Vanda. Ngilu rasanya Vanda melangkah kembali kedalam rumahnya. segera ia menuju ke kamarnya dan mengeluarkan kotak kaleng bekas biskuit dari laci meja belajarnya.

Kotak itu berwarna biru keemasan, berkilau dibawah lampu hidup belasan kunang kunang. Dibukanya kotak itu ada banyak koin dan beberapa uang kertas beragam satuannya. “Mengapa aku yang membeli Lilin Tothy? berapa yah harganya sekarang? apa uang ku cukup? tak apa lah.. toh uang ini memang kutabung untuk membelikan hadiah ulang tahun Loup. Nanti bila ulang tahunnya tiba tak uash lagi membeli hadiah.” pikir Vanda. “Ini mungkin cukup” bisik Vanda sambil mengantongi seraup uang kertas dari dalam kaleng.

Vanda mengambil sepedanya di halaman lalu keluar ke jalan dan mengayuhnya perlahan menuju toko kelontong pak Otto yang pasti menjual lilin tothy.

Sepanci air mendidih, Loup dan Vanda telah berada di halaman belakang rumah Loup. Vanda menyerahkan bungkusan berisi lilin tothy pada loup. “Nih! Dan aku membelikan ini buat mu” kata Vanda sambil mengulurkan tangan kirinya yang memegang sebotol plastik minuman limun jeruk pada Loup. “Hei baik sekali kau!” Loup menyambutnya dan menegaknya sampai habis. “Nah, Apa selajutnya kapten Loup? tanya vanda meledek”.

Angin dingin berhembus mengibarkan rambut panjang Vanda. Vanda menggigil kedinginan sambil mengusap-usap telapak tangannya berharap mendapat kehangatan. Oh, Hari akan hujan. Mari ke rumahku saja, kata loup. Lagi lagi vanda menikuti perintah loup seperti kuda bajak. dan dalam beberapa saat mereka terah berada di kamar loup yang gelap dan sedikit pengap. Loup membuka jendelanya agar udara masuk. “Mengapa gelap sekali disini, Loup? mana lampu kunang-kunangmu?” tannya Vanda. “Nah sebab itu kau kusuruh membeli lilin. Aku tak sempat menangkap kunang-kunang hari ini.” Loup tersenyum nakal. “Jadi kau menyuruhku menghabiskan tabunganku untuk menyalakan lilin tothy dikamarmu yang busuk ini? aku mau pulang saja!” Vanda kesal merasa ditipu. “Tunggu dulu, Vanda! aku ingin menunjukkan sesuatu pada mu. Aku akan menebus dosa yang bukan kesalahanku pada mu.” kata loup, masih dengan senyum nakalnya.

Vanda merajuk diam. Dalam hati ia bertanya dengan riang. “Apakah Loup ingin menciumku? Ia ingin suasana romantis di kamar ini, berdua, diterangi dengan lilin tothy? hummm. Mengapa ia tak pernah mengajakku berkencan ke taman seperti banyak anak laki-laki lainnya? Loup memang beda..” Bukkk! tiba tiba sebuah bantal mendarat di muka Vanda. Bunga-bungan dalam lamunannya buyar seketika. Loup telah menimpuknya!. Vanda geram. Ingin sekali mencekik batang leher Loup.

“Heh, pelamun!” sapa Loup. “Lihatlah ini”. Amarah Vanda menghilang setelah melihat benda didepan matanya. Sebuah buku besar, tebal berwarna kecoklatan yang terbuka diatas peti. Buku itu .. bersajak. Nyata sekali tulisan yang tergores di halaman demi halaman. Vanda membaca halaman pertamanya. sebuah sajak tak beratuaran yang berjudul: Gerbang.

—- SAMPAI SINI BAGIAN INI BELUM DIEDIT— BAGIAN INI BELUM DIEDIT-JUGA–

dgn suara pelan nyaris khidmat ia membacanya untuk loup..

“gerhana datang dalam suara sumbang, lalu dipecahkannya langit malam.. menampakkan bahaya yg tak kasat mata

dan begitulah akhirnya, ia padamkan smua asa

ah..manusia, buah perbuatanmu niscaya bertumbuh

cintakulah yg membuatmu berpaling, lihatlah jauh dalam hatimu.. aku adalah kamu”

loup berjalan mondar mandir dalam kamarnya, bergumam sendiri. ‘jadi dengan bantuan lilin tothy kita bisa membaca buku yang sepertinya kosong itu. Tapi… kalau begitu, apa yang istemewa dari buku itu? toh pada akhirnya secara tidak sengaja orang lain akan bisa membaca buku itu. lalu kenapa pak londra malah memberikan buku itu pada vanda dan bukan orang dewasa yang lebih pintar dari vanda? apa yang membuat vanda istemewa dan mengapa pak londra menganggap buku itu sangat istimewa? sementara loup bergumam sendiri, vanda asik memandangi kata perkata puisi yg br saja dbacanya. Ia melihatnya.. tetapi apakah loup juga melihatnya? ‘loup, kemarilah..’ teriak vanda. Loup tersentak kaget lalu menggerutu.

“pelankan suaramu. Kamarku ini kecil, aku tdk mau ibuku datang kesini dan melihat yg kt lakukan..” vanda menggumamkan kata “maaf loup, aku lupa” dengan berbisik. “kemarilah loup, ada yang ingin kutunjukkan padamu” ia memanggil loup dengan lambaian tgnnya. loup mendekat, berdiri tepat disamping vanda. lilin tothy tampakny sdh mengacaukan otaknya, dalam keremangan cahaya dan wangi bunga astride yg memabukkan, vanda terlihat sangat wanita sekali. Loup terpaku melihatnya. “seperti bukan vanda saja” pikirnya. Suara vanda kembali membawanya ke alam nyata ‘coba lihat puisi ini. Apa yang kau lihat loup” disodorkannya buku tua itu kehadapan loup. Vanda berharap loup dapat melihat apa yang dilihatnya. Ia bergerak-gerak gelisah, menunggu dengan tidak sabar.

Loup buru-buru melihat lembaran itu. ‘hmmm.. hmmm..” loup bingung dengan apa yang seharusnya ia lihat. “Tidak ada yang aneh.. hanya barisan puisi yang biasa saja”… lalu tiba-tiba ia terkesiap..”ah aku tahu…”. Vanda menahan nafas menunggu..loup pelan-pelan menyusurkan jarinya pada satu titik dillembar buku itu “aku tahu vanda… ada yang menumpahkan minyak lilin tothy di sini..” loup menunjuk noda berminyak samar sambil terkikik. Vanda memukul loup keras.. “kau.. menyebalkan..” kata vanda sambil terus memukul loup. Loup menghindari vanda, untuk seorang anak gadis, ia punya pukulan yang mematikan.. “maaf.. maaf aku bercanda.. habis kau serius sekali.. sudah vanda hentikan, aku meminta maaf” vanda berhenti memukuli loup. Tapi bibir mungilnya masih cemberut dan membuatnya tampak lucu. Loup tertawa melihatnya, tapi melihat tatapan tidak suka vanda, ia menutup mulutnya dengan tangan dan tertawa pelan.

“Memang apa yg kau lihat?” lopu buru-buru bertanya. Vanda menatap loup ‘masa kau tdk melihat kalau beberapa huruf memancarkan cahaya? loup menggelengkan kepalanya. “hampir disemua baris ada beberapa huruf yang bercahay… seperti hendak mengatakan sesuatu..”kata vanda lagi. Ia sudah melupakan kekesalannya karena loup mengerjainya tadi. Ada masalah lain yang harus dipecahkannya dan ia membutuhkan loup untuk membantunya. Loup menatap buku itu lagi “aneh sekali.. coba kau tuliskan huruf-huruf itu vanda. mungkin kita akan bisa menemukan sesuatu dari huruf-huruf itu” loup mengeluarkan pulpen dan buku dr dlm tasnya dan memberikanny pada vanda. Vanda kemudian menuliskan huruf2 yg bercahaya, sambil sesekali melihat buku itu. Loup berdecak tdk sabar. Vanda memang pelupa, ia tidak bisa mengingat bnyk hal dlm wkt bsamaan. Kelemahan yg membuatny tampak sangat wajar meski terkadang membuat loup kesal. Tp loup tdk mengatakan apapun, tidak memburu-buru vanda, karena vanda akan sangat marah kalau loup mengganggu konsentrasinya. Tubuh loup sudah terasa nyeri karena pukulan vanda tadi. Dan Loup terlalu penasaran dengan huruf-huruf tadi.

Setelah beberapa menit berlalu. Vanda meletakkan penanya, dan menunjukan barisan huruf yg br saja ditulisnya ‘apakah kau mengerti?’ vanda bertanya krn loup yg pintar pasti bisa lebih cepat merangkai kata dr pd dirinya. Loup melihat dgn keseriusan yg tinggi, vanda hampir tertawa melihatnya. ‘gerbang cahaya itu ada percayalah pd hatimu’. Vanda tertegun mendengarnya ‘gerbang cahaya itu ada percayalah pd hatimu.. gerbang cahaya itu ada.. gerbang itu ada’ dgn tiba2 dipeluknya loup ‘gerbang ke kota itu ada loup. Ingatkah kau waktu pak londra memberikan buku ini untukku? Buku ini kuncinya.. puisi-puisi ini akan menuntun kita kesana.. ke gerbang menuju kota dimana matahari bersinar lama, tempat dimana bung astride masih mekar dengan sempurna”.

Loup hny bisa bengong, bingung hrs bereaksi sperti apa.Tiba2 vanda mlepaskan plukannya,lalu mmukul dahiny ‘ini gawat loup’ katanya. ‘Eh…’ cuma itu yg bisa diucapkan oleh loup. Vanda berkata dgn tdk sabar ‘kalau gerbang itu benar2 ada. Brarti kt harus memecahkan petunjuk2 yg ada didalam buku ini. Ini artinya berpuluh2 batang lilin tothy. Gawat karena uangku sdh habis untk mmbeli lilin ini. Gawat.. ?’ skali lg loup hanya bisa mnjwab ‘ya gawat’ smntara dadany berdebar dengan keras sampai-sampai ia berfikir vanda pasti bisa mendengarnya.”gawat” ulangnya lagi dengan pelan..